Dirikan Usaha Kuliner di Area Wisata Gunung Kelam
Tak Hanya Menjual Makanan, Tetapi Juga Menghibur Pengunjung

KULINER DAN WISATA ALAM: Pengunjung saat berfoto berlatar belakang Gunung Kelam usai menyantap makanan di Pondok Tatum, Minggu 14/3). (ARIS MUNANDAR/PONTIANAK POST)

Menyajikan wisata alam dan kuliner dalam satu tempat. Mencoba menawarkan pereda stres akibat pandemi dan kebisingan kota untuk keluarga yang ingin bersantai di akhir pekan.

Aris Munandar, Sintang 

Di Jalan Sintang – Putussibau, berdiri usaha kuliner yang masih terbilang baru. Karena baru didirikan pada akhir tahun lalu. Namun sudah cukup dikenal masyarakat Sintang. Menempati lahan di Jalan Sintang-Putussibau yang sebelumnya hanya diisi oleh dua rumah walet. Berjarak 25 kilometer dari pusat Kota Sintang.

Konsep kuliner yang dipadu dengan wisata alam pun dipilih. Mencoba tidak hanya menawarkan pengalaman menyantap hidangan. Tetapi juga memanja mata dengan salah satu ikon Bumi Senentang, Gunung Kelam. “Kami tidak semata-mata menjual makanan. Tapi untuk menghibur orang juga,” ujar Michaela Djie, pendiri usaha kuliner ini.

Empat subkonsep yang diterapkan pada bangunan tampak dari bentuk dan penataan bangunan, serta fungsinya. Pertama, pondok lesehan yang digunakan untuk bersama keluarga menyantap hidangan yang disediakan dan disajikan oleh Pondok Tatum. Kedua, sisi bangunan yang menghadap langsung ke Gunung Kelam.

Cocok untuk berbincang sembari menikmati berbagai menu minuman. Ketiga, jembatan yang memiliki panjang kurang lebih 30 meter yang serius yang digunakan sebagai objek foto berlatar belakang Gunung Kelam. Terakhir, sebuah panggung yang memiliki tinggi kurang lebih 3 meter yang menjadi objek foto favorit. Karena cukup tinggi untuk menampilkan Gunung Kelam tanpa ada aksen atap-atap bangunan.

Hilir mudik orang bergantian mencari spot foto terbaik berlatar belakang sebongkah batu raksasa, diselingi riuh rendah obrolan khas keluarga menjadi aktivitas jamak di Pondok Tatum. Ditimpali oleh suara burung walet dari pengeras suara. Pendirinya memang ingin menyasar keluarga yang akan bersantai menghabiskan akhir pekan menjauh dari hiruk pikuk ibu kota.

“Sekarang tingkat stres tinggi. Di Sintang pun tak terlalu banyak pilihan untuk membawa keluarga berwisata. Kami mencoba memberikan tempat,” kata Michaela Djie, pria asal Teluk Batang, Kayong Utara ini.

Apa yang dikatakan Michaela Djie pun sejalan dengan pemilihan nama usaha kuliner ini. Karena “pondok” secara harfiah bermakna bangunan berpetak-petak tempat tinggal sementara untuk beberapa keluarga. Sedangkan “tatum” sendiri, kata dari bahasa Inggris yang bermakna membawa suka cita.

Tampaknya konsep yang diusung pun sampai pada para pengunjung. Seperti yang diutarakan Yohanes yang mampir membawa keluarganya ke Pondok Tatum. “Pulang dari rumah orang tua, singgah di sini karena penasaran dengan Pondok Tatum ini. Karena background belakangnya ada Kelam,” ujarnya.

Selain berlatar belakang Gunung Kelam, polisi berpangkat Aipda yang bertugas di Polsek Kelam Permai ini menilai, Pondok Tatum memiliki keunikan di bangunannya. “Kemungkinan dibanding tempat-tempat lain di sekitar Kelam, yang menarik perhatian ya ini tempatnya,” katanya.

Tentu pemilik Pondok Tatum tak hanya ingin mengandalkan monolit setinggi 1.002 Mdpl itu. Ia juga ingin menghadirkan berbagai menu khas. Ikan Bakar Jimbaran dan Mie Tatum menjadi menu andalan di Pondok Tatum. Ikan bakar dengan bumbu khas dari Pulau Dewata menurut pengakuannya, ternyata cocok dengan lidah orang Sintang. Sedangkan Mie Tatum, adalah resep yang diraciknya sendiri.

Selain makanan andalan di atas, Pondok Tatum juga menawarkan berbagai olahan mie, nasi goreng, ikan nila, ayam, dan sayuran. Dibanderol dengan harga mulai dari Rp5 ribu hingga Rp45 ribu. Minuman dari es rosela, kopi, kelapa muda, hingga aneka jus mengisi daftar menu minuman. Mulai Rp2 ribu hingga Rp15 ribu.

Meski sudah berdiri dengan konsep yang menarik dan mencoba mengeksplorasi menu-menu baru, Pondok Tatum hadir bukan tanpa resiko. Kabar usaha kuliner dikeroyok habis-habisan oleh pagebluk korona bersahutan di mana-mana. Namun itu tak membuat Michaela Djie mengurung niat.

Ia mengaku, dukungan moril dari Pemerintah Kabupaten Sintang, terutama dari Disporapar melalui Kepala Dinasnya, membuat Michaela pun optimis membesarkan usahanya. Ia merasa terlibat dalam membangun citra pariwisata Sintang. Pada akhirnya, ia punya cita-cita besar agar usahanya ini dapat mendampingi Gunung Kelam menjadi ikon Bumi Senentang. (ris)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!