Diskriminasi Pasien Masih Terjadi, Kena Corona Dianggap Aib

PENDAMPING PASIEN: Endah Sulistiawati (kiri), Sita Pramesthi (tengah), dan Fatimah Rahmawati saat berada di RSLI. Septian Nur Hadi/Jawa Pos

Perjuangan Relawan Mendampingi Pasien Covid-19 yang Telah Sembuh 

Relawan mempunyai peran penting dalam penanganan pasien Covid-19. Terutama pendampingan pasca kesembuhan pasien. Meski telah sembuh, penolakan dari masyarakat kerap dialami mereka saat kembali ke rumah. Relawanlah yang harus turun tangan. Telaten dan sabar kuncinya.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

SITA Pramesthi tampak sibuk di halaman Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), Bubutan, Rabu siang (8/7). Ditemani Fatimah Rahmawati dan Endah Sulistiawati, mereka sedang mendata ulang pasien Covid-19 yang telah sembuh. Sebentar lagi, para pasien tersebut diperbolehkan pulang.

Beberapa pengecekan mereka lakukan. Mulai memastikan identitas pasien, nomor telepon, hingga barang bawaan. Sebelum meninggalkan RSLI, Sita bersama tim juga menanyakan apakah keluarga mereka (mantan pasien) telah datang untuk menjemput. Jika tidak ada yang menjemput, Sita dan kawan-kawannya akan mengantar mereka pulang.

Para mantan pasien Covid-19 tidak diperbolehkan pulang seorang diri. Meskipun sebenarnya mereka mampu melakukannya. Para relawan memilih untuk mendampinginya. Itu dilakukan agar para mantan pasien tersebut sampai di rumah dengan selamat.

Selamat bukan hanya dilihat dari proses perjalanan pulang ke rumah. Melainkan apakah kembalinya mereka bisa diterima oleh para tetangga. Sebab, tidak sedikit warga yang menolak mereka kembali. Stigma negatif yang masih melekat pada masyarakat membuat mereka kerap mengalami diskriminasi.

Misalnya, dikucilkan, diasingkan, dan ditolak kembali ke rumah yang pernah ditinggalinya. Padahal, para mantan pasien itu sudah 100 persen sembuh dari Covid-19. ”Walaupun tidak semuanya, masih ada yang mendapatkan perlakuan negatif. Parahnya lagi, diskriminasi diberikan oleh keluarga mereka sendiri. Tidak sedikit di antara mereka yang diusir dan tinggal seorang diri,” kata perempuan berusia 46 tahun tersebut.

Ada satu momen yang tidak bisa dilupakan Sita. Yaitu, ketika mendampingi salah satu mantan pasien Covid-19. Sebut saja Nina (nama samaran). Sita menjelaskan, Covid-19 membuat seluruh kebahagiaan Nina terenggut. Akibat sakit tersebut, Nina digugat cerai suami dan dipisahkan dengan anak semata wayangnya.

Parahnya lagi, keluarga Nina menolak kedatangannya. Walaupun Nina telah sembuh, keluarga tetap malu. Mereka (keluarga) menilai Covid-19 yang dialami Nina merupakan aib keluarga dan sulit untuk dihapuskan. Nina pun terpaksa hidup sebatang kara di kamar kos di Gunungsari, Wonokromo.

Musibah itu membuat kondisi psikologis Nina terpuruk. Jauh lebih parah dibandingkan ketika saat kali pertama Nina mengetahui mengidap Covid-19. Sita mengungkapkan bahwa hampir setiap hari Nina menghubunginya. Bahkan, dia menginginkan tinggal di RSLI.

Permintaan Nina itu sulit diwujudkan. Sebab, jika tinggal di RSLI, secara otomatis Nina rentan kembali terkena Covid-19. Sita tidak mau itu terjadi. Agar kondisi psikologis Nina membaik, pendampingan secara intensif diberikan.

Selama 24 jam, Sita memberikan waktunya untuk Nina. Berapa lama pun Nina curhat, pasti didengarkan dan diberi tanggapan. Kemudian, setiap dua atau tiga hari sekali, Sita bersama tim mendatangi tempat tinggal Nina. Selain melakukan pengecekan, kedatangan mereka bertujuan untuk meringankan beban mantan pasien tersebut.

Oleh karena itu, Sita tidak ingin Nina merasa sedih. ”Sekarang kami masih terus berupaya untuk meluluhkan hati suami dan keluarga Nina. Sehingga mereka bisa kembali menerima Nina. Karena kebahagiaan Nina merupakan tanggung jawab kami,” ujarnya.

Selain itu, Sita memikirkan kebutuhan sehari-hari Nina. Salah satunya permakanan. Mengganggur membuat Nina tidak mempunyai penghasilan.

Suka dan duka sebagai relawan juga dialami Fatimah Rahmawati dan Endah Sulistiawati. Dua perempuan itu selalu setia mendampingi Sita bertugas. Pengalaman berharga serta tantangan kerap dirasakan selama bertugas.

Yang dirasakan Endah misalnya. Selain mantan pasien Covid-19, Endah sering mendapatkan perlakuan negatif dari masyarakat saat menjalankan tugasnya. Warga sering kali menolaknya. Terutama ketika Endah sedang mengantarkan mantan pasien pulang ke rumah.

Tatapan sinis warga yang menolak kehadirannya sering dirasakannya. Bahkan, mereka sampai menutup pintu dengan kencang dan menyuruhnya pergi. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Endah berusaha untuk meluluhkan hati masyarakat yang menolak kembalinya mantan pasien Covid-19.

”Walaupun adanya penolakan, kami tetap bertahan. Mencoba mempersuasi. Biasanya untuk meluluhkan hati masyarakat, persuasi sampai tiga kali,” ujar perempuan berusia 25 tahun itu.

Sambil menunggu hasilnya, biasanya pasien sementara waktu dikarantina di tempat lain. Rumah saudara atau menginap di hotel.

Ke depan, Sita dan relawan lainnya akan mengadakan kampanye peduli terhadap pasien Covid-19. Kampanye itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap korban Covid-19. Masyarakat tak perlu takut dengan kondisi yang terjadi. Apalagi berinteraksi dengan mantan pasien Covid-19. ”Yang harus dilakukan masyarakat tetap waspada. Disiplin menerapkan protokol kesehatan. Bukan takut dan menjauhi mantan pasien Covid-19,” katanya.*

 

error: Content is protected !!