Dominasi Pertanian di Bumi Lawang Kuari

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh: Muhammad Rizky Septian, SST

PEMBANGUNAN ekonomi di suatu negara merupakan integral dari proses pembangunan di seluruh kabupaten/kota di negara tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa capaian pembangunan di suatu kabupaten/kota akan sangat berimplikasi terhadap pembangunan nasional. Oleh sebab itu, informasi mengenai potret perekonomian regional menjadi sangat penting dalam mengukur potensi dari nilai ekonomi di daerah tersebut yang pada akhirnya akan berdampak kepada terwujudnya pembangunan nasional yang lebih baik dan merata. Pada haikikatnya, pembangunan ekonomi bisa diartikan sebagai serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, serta memeratakan distribusi pendapatan masyarakat. Dengan kata lain, arah pembangunan ekonomi yang baik adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat meningkat yang diiringi dengan tingkat pemerataan yang baik pula.

Menakar pembangunan ekonomi di suatu daerah dapat dilakukan dengan menganalisis struktur perekonomian dan pertumbuhan ekonominya. Kedua indikator tersebut dapat dihitung berdasarkan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). PDRB merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu negara yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode waktu tertentu.

Penyusunan angka PDRB dapat dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan, serta disajikan atas dasar harga berlaku dan harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku atau dikenal dengan PDRB nominal disusun berdasarkan harga yang berlaku pada periode penghitungan dan bertujuan untuk melihat struktur perekonomian. Di sisi lain, PDRB atas dasar harga konstan yang juga disebut dengan PDRB riil disusun berdasarkan harga pada tahun dasar dan bertujuan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi (BPS, 2018).

Berdasarkan data BPS, PDR Briil Sekadau mencapai 4 triliun rupiah, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,88 persen pada tahun 2018. Mengalami peningkatan sekitar 0,03 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Capaian pertumbuhan ekonomi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat yang mencapai 5,06 persen dan Indonesia yang mencapai 5,17 persen di tahun yang sama. Apabila diselisik lebih dalam berdasarkan struktur perekonomiannya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi leading sector (sektor unggulan) perekonomian di“Bumi Lawang Kuari”. Kontribusinya mencapai sekitar 38,3 persen dalam menopang roda perekonomian Sekadau, dengan PDRB nominal yang mencapai 5 triliun rupiah pada tahun 2018. Pertumbuhannya selama lima tahun terakhir pun memilikit renpositif dan berada di kisaran 5 persen. Menggeliatnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Sekadau juga tidak luput dari peranan sub sektor perkebunan yang hampir 80 persen menopang sektor tersebut. Kondisi ini menjadi sangat wajar mengingat hampir 50 persen dari lahan pertanian Sekadau difungsikan untuk tanaman perkebunan, terutama komoditas kelapa sawit dan karet.

Pencapaian pembangunan ekonomi Sekadau secara keseluruhan masih memberikan sinyal berupa kondisi fundamental ekonomi yang masih relatif kuat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi Sekadau yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat maupun nasional. Selain itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi leading sector perekonomian Sekadau sudah seharusnya menjadi fokus utama bagi pemerintah daerah setempat agar program kebijakan terkait pembangunan ekonomi yang diambil menjadi lebih terarah dan selaras dengan potensi alam yang dimiliki. Perlunya langkah strategis dan komprehensif di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada semua proses tahapan, dari hulu sampai ke hilir.

Dari hulu misalnya, memberikan edukasi kepada para petani terkait pengolahan lahan pertanian yang efektif dan efisien dapat menjadi langkah awal yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Program – program yang bersifat bantuan seperti pemberian subsidi benih dan pupuk juga bisa dilakukan dengan memastikan ketepatan waktu dan sasarannya. Di sisi lain, hilirisasi produk pertanian untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saingnya dapat dilakukan oleh pemerintah daerah setempat dengan cara menggalakkan industrialisasi pertanian. Program kebijakan yang bertujuan untuk pengembangan usaha agroindustri, terutama untuk komoditas kelapa sawit dan karet sudah selayaknya menjadi prioritas. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan memberikan kemudahan kepada para pelaku usaha dalam membangun pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit dan karet. Selain itu juga diperlukan adanya program capacity building sebagai pembinaan terhadap tenaga kerja agar mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas dari produk agroindustri, yang diharapkan nantinya dapat mengakselerasi pembangunan ekonomi di Sekadau. (**)

Penulis: Statistisi Pertama Seksi Statistik Distribusi BPS Kabupaten Sekadau

Read Previous

Finalis Mesti Serius Memberikan Kemampuan Terbaik

Read Next

Serapan Dunia Kerja Makin Tinggi

Tinggalkan Balasan

Most Popular