Dua Cukong Kayu Perambahan Hutan Pendidikan Untan Ditangkap

DISITA: Petugas mengukur kayu hasil perambahan di hutan pendidikan Untan, beberapa waktu lalu. ISTIMEWA

PONTIANAK- Penyidik Balai Gakkum KLHK wilayah Kalimantan menetapkan dua orang tersangka yang diduga kuat sebagai pemodal alias cukong dalam aktivitas illegal logging  di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Tanjungpura dan Hutan Produksi (HP) Sungai Peniti Besar – Sungai Temila, Kabupaten Mempawah, Jumat (3/7).

Mereka adalah AL (37) dan HS (30). Keduanya warga lokal yang berperan sebagai pemodal dan orang yang menyuruh para pekerja untuk melakukan aktivitas perambahan hutan itu.

Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan Subhan mengatakan, terungkapnya siapa pelaku di balik perambahan hutan ini setelah penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan memeriksa tiga orang tersangka sebelumnya, yakni  HS (39), HM (43), dan SR (30) secara intensif.

“Dari hasil pengembangan penyidikan terhadap tiga tersangka sebelumnya, mengarah pada AL (37) dan HS (30). Mereka diduga sebagai pemodal sekaligus orang yang mencari para pekerja untuk aktivitas perambahan itu,” terang Subhan, Minggu (5/7).

Setelah mendalami kasus ini, lanjut Subhan, Penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan mengamankan keduanya. Namun demikian, saat ini penyidik masih terus mendalami keterlibatan aktor intelektual lainnya untuk mengungkap kegiatan pembalakan liar di dalam kawasan KHDTK Universitas Tanjungpura dan HP. Sungai Peniti Besar–Sungai Temila hingga tuntas.

“Kami masih melakukan pendalaman, karena kami menduga masih ada keterlibatan aktor lain,” bebernya.

Subhan menambahkan, keberhasilan penanganan kasus ini berkat kerja sama yang baik antara Balai Gakkum Kalimantan, Korem 121/Abw, Direskrimsus Polda Kalimantan Barat, Kodim 1201/Mph, Polres Mempawah, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, KPH Mempawah, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan KLHK Sustyo Iriyono mengatakan, komitmen KLHK dalam penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan tidak berubah, meski di tengah pandemic Covid-19.

“Mereka harus dihukum seberat-beratnya, karena mencari keuntungan dengan cara merugikan negara dan merusak lingkungan dan mengancam keselamatan masyarakat, cari aktor intelektual para pemodalnya,” pungkas Sustyo.

Kedua tersangka saat ini telah ditahan di rumah tahanan Polda Kalimantan Barat. Barang bukti berupa nota pembelian dan pembayaran disita untuk di persidangan.

Mereka dijerat dengan Pasal 82 Ayat 1 Huruf c dan Pasal 84 Ayat 1, Undang-Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, Jo. Pasal 55 Ayat 1 Ke-1 KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Sebelumnya, Balai Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Wilayah Seksi III Pontianak telah menetapkan tiga orang tersangka dari delapan orang pelaku yang diduga terlibat dalam pembalakan liar di KHDT Untan itu.

“Dari delapan orang, tiga di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kepala Seksi Balai Gakkum Pontianak Julian saat dihubungi Pontianak Post, Minggu (28/6) siang.

Menurut Julian, ketiga tersangka tersebut telah memenuhi dua alat bukti yang cukup sebagai pelaku pembalakan liar. “Mereka berperan sebagai penebang dan penarik kayu,” jelasnya.

Polres Mempawah juga telah menetapkan 10 orang pelaku pembalakan liar di KHDTK Untan sebagai tersangka. Kasat Reskrim Polres Mempawah AKP Muhammad Resky Rizal mengungkapkan, dari hasil penyelidikan, 10 orang yang diamankan telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Sudah. Kami sudah menetapkan mereka sebagai tersangka,” ujar Rizal saat dihubungi Pontianak Post, Minggu (28/6) siang.

Dari 10 orang yang ditetakan sebagai tersangka ini, kata Rizal, memiliki peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai penebang pohon, mendorong atau memindahkan pohon hasil tebangan dan ada juga yang berperan sebagai pemotong.

Menurut Rizal, kayu-kayu log atau gelondongan hasil penebangan, kemudian dipindahkan menggunakan sepeda yang sudah didesain khusus. Setelah itu, dikumpulkan di beberapa titik sebelum diangkut menggunakan rakit dan dipotong sesusai ukuran pemesanan.

Menurut Rizal, saat ini pihaknya masih fokus terhadap kesepuluh orang tersebut.  Namun tidak menutup kemungkinan akan berkembang hingga pada siapa aktor dibalik aktivitas pembalakan liar di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Tanjungpura itu.

“Sementara ini kami masih fokus pada sepuluh orang ini. Ke depan, tetap akan dilakukan pengembangan, siapa orang-orang yang ada di atas mereka,” tegasnya.

Dikatakan Rizal, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Undang Undang Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. (arf)

 

error: Content is protected !!