Dua Warga Kalbar Teridentifikasi, Penumpang SJ-182 Atas Nama Khasanah dan Agus Minarni

INFORMASI TERBARU : Kepala Kantor Search dan Rescue (SAR) atau Pencarian dan Pertolongan Pontianak, Yopi Haryadi memberikan informasi perkembangan terbaru proses pencarian penumpang kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 kepada awak media di Posko Crisis Center di Bandara Internasional Supadio, Rabu (13/1). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Porli telah mengidentifikasi enam korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak, Rabu (134/1). Enam penumpang tersebut adalah Okky Bisma, Asy Habul Yamin, Fadly Satrianto, Khasanah, Indah Halimah Putri, dan Agus Minarni.

Dari enam korban tersebut dua di antaranya adalah warga Kalimantan Barat. Yakni, Khasanah warga Pontianak dan Agus Minarni warga Mempawah. Identitas keduanya diketahui berdasarkan proses pemeriksaan sidik jari oleh tim Inafis Bareskrim Polri.

Berdasarkan data, Khasanah beralamat di Gang Lentoro, Kecamatan Pontianak Barat, Pontianak. Sedangkan Agus Minarni beralamat di Dusun Sikadamai, Kecamatan Mempawah Hilir, Mempawah. Agus Minarni bekerja sebagai pegawai negeri sipil.

Khasanah merupakan mertua dari Mulyadi Tamsir, mantan Ketum PB HMI.  Mulyadi bersama istrinya, Makrufatul Yeti Srianingsih dan adik angkatnya yang terbang bersama Khasanah juga masuk dalam manifes Sriwijaya Air SJ-182. Namun Mulyadi bersama istri dan adik angkatnya hingga kemarin belum teridentifikasi.

Sementara itu, empat jenazah lain merukan warga luar Kalbar. Jenazah atas nama Asy Habul Yamin diketahui lahir di Sintang, namun kini beralamat di Kelurahan Patukangan Selatan di Pesanggrahan, Jakarta.

Jenazah atas nama Fadly Satrianto merupakan warga Teluk Penanjung, Jawa Timur. Ia merupakan Co-Pilot atau crew ekstra. Sedangkan korban bernama Okky Bisma merupakan warga Jakarta yang merupakan pramugara Sriwijaya Air. Sementara itu, jenazah atas nama Indah Halimah Putri merupakan warga Sumatera Selatan.

Kasubdit Biddokkes Polda Kalbar AKBP Yoseph Ginting mengatakan, hingga hari ke lima pascainsiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, belum ada penambahan sampel DNA keluarga korban. “Hari ini seharusnya ada penambahan satu sampel DNA dari kelurga korban dari Sintang, namun karena koneksi flight, maka pengambilan sampel DNA dilakukan di RS Kramat Jati, Jakarta,” katanya.

Ginting juga menjelaskan istilah body Part yang ditemukan dalam proses operasi SAR selama ini.  Body Part yang dimaksud adalah potongan potongan tubuh yang sudah terpisahkan dari keutuhan jasad. Potongan-potongan tubuh itu merupakan tugas tim DVI untuk menyatukan dan mencocokkan kembali, apakah ada propertis yang melekat di body Part yang kemudian dicocokan berdasarkan ante mortem dan post mortem dan dinyatakan teridentifikasi, dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum.

Proses selanjutnya, body Part yang sudah dikumpulkan tersebut disimpan di dalam freezer untuk menghindari pembusukan, Kemudian, sesuai dengan protap dan SOP akan dibuat selayaknya jenazah.

Terpisah, Distrik Manajer Sriwijaya Air Group Pontianak Faisal Rahman mengatakan, hingga hari ini setidaknya ada 28 anggota keluarga korban yang diberangkatkan ke Jakarta. Dari 28 orang tersebut mewakili 17 korban.

“Rencananya besok pagi (hari ini) akan ada pemberangkatan dua kelurga untuk mewakili satu korban,” kata Faisal.

Faisal mengatakan, kehadiran kelurga korban dalam proses identifikasi sangat penting. Menurutnya, seperti yang disampaikan sebelumnya, fase pertama ketika korban sudah teridentifikasi, maka orang yang  dihubungi adalah anggota keluarga, ahli waris.

Di situ, kata Faisal, akan ditawarkan, apakah jenazah korban langsung dibawa atau menunggu sampai operasi pencarian selesai. Harapannya, lanjut Faisal, ketika selesai pencarian, mungkin ada body Part tambahan yang bisa teridentifikasi nama yang sama sehingga bisa kumpulkan. “Tapi jika keluarga menginginkan cukup, maka DVI akan memberikan,” kata dia.

Berkaitan dengan itu, pihak maskapai akan menyiapkan legal aspeknya, mulai dari pengurusan berita kematian, hingga pemakaman. “Artinya, kami mengharapkan kehadiran keluarga korban datang ke jakarta untuk proses identifikasi dan proses penyerahan jenazah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Jasa Raharja cabang Kalimantan Barat Regy S Wijaya mengatakan, pihaknya telah menyerahkan santunan kepada empat ahli waris korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, masing-masing sebesar Rp50 juta.

Santunan Jasa Raharja tersebut diserahkan kepada ahli waris korban atas nama Okky Bisma, Khasanah, Asy Habul Yamin, Fadly Satrianto. “Untuk proses penyerahan santunan sudah kami serahkan kepada masing-masih ahli waris, dengan total Rp200juta,” kata Regy.

Untuk ahli waris Okky Bisma diserahkan oleh Jasa Raharja cabang Jakarta, ahli waris Khasanah diserahkan oleh Jasa Raharja cabang Kalimantan Barat, Asy Habil Yamin oleh Jasa Raharja cabang DKI dan Fadly Satrianto oleh Jasa Raharja cabang Jawa Timur.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji berharap semua korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ-182 di Kepulauan Seribu pada Sabtu, 9 januari 2021 lalu dapat teridentifikasi. Sehingga apa yang diperlukan oleh keluarga korban dapat dipersiapkan.

Midji juga meminta kepada pihak maskapai (Sriwijaya) menyampaikan data penumpang yang menjadi korban sesuai dengan domisili atau alamat asal. “Saya minta kepada pihak Sriwijaya menyampaikan data penumpang, dari mana saja mereka berasal. Berapa orang dari Pontianak, berapa dari Mempawah, Sambas, Sintang berapa dan Ketapang. Karena ini menyangkut persiapan pengembalian jenazah kepada keluarga,” katanya.

Korban dari Ketapang, Sintang misalnya. Artinya pihak maskapai mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengantar jenazah korban ke daerah asal menggunakan fasilitas bandara.

“Kita harus tahu dan pesiapannya dengan detail. Nanti, saya minta bupati menyiapkan ambulan mengantar jenazah, termasuk mengurus pemakaman. Sehingga pihak keluarga korban tidak terbebani lagi,” terangnya. “Data itu harus sudah ada,” sambungnya.

Midji juga memperintahkan ke seluruh pihak, untuk berkoordinasi terutama dalam memberikan bantuan dalam penanganan di rumah duka hingga pemakaman dapat diurus dengan baik.

“Termasuk asuransi, seperti BPJS. Apakah yang bersangkutan ikut BPJS ketenaga kerjaan atau tidak. Datanya harus ada,” katanya. (arf/*)

error: Content is protected !!