Dukung World Mangrove Centre di Kalbar

HUTAN : Sekda Kalbar A L Leysandri ungkapnya saat menghadiri Forum Diskusi Bersama Menjaga Hutan, Rabu (14/10). BIRO ADPIM FOR PONTIANAK POST

PONTIANAK – Kalimantan Barat (Kalbar) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki hutan hujan tropis dengan luas mencapai 5,4 juta hektare. Hutan hujan tropis disebut sebagai paru-paru dunia karena berdasarkan penelitian bahwa hutan ini menghasilkan hampir 40 persen oksigen yang ada di bumi.

Seperti diketahui Kalbar telah mendeklarasikan sebagai provinsi paru-paru dunia sejak tahun 2007 melalui deklarasi Heart of  Borneo bersama dengan Negara Malaysia dan Brunei Darussalam. Wilayah Heart of Borneo atau biasa disebut jantung kalimantan merupakan habitat bagi 10 spesies endemik primata, lebih dari 350 spesies burung, 150 spesies reptil dan amfibi dan 10.000 spesies tumbuhan.

Sejak tahun 2007-2010, sebanyak 123 spesies baru ditemukan di wilayah ini. Wilayah jantung kalimantan memiliki sejumlah kawasan lindung di Kalbar seperti Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan Taman Nasional Danau Sentarum.

Sekda Kalbar A L Leysandri mengatakan, selain kekayaan hutan dataran tinggi yang masuk dalam wilayah Heart of Borneo, Kalbar juga kaya akan wilayah hutan di daerah pesisir yang terkenal dengan hutan mangrove.

“Terdapat 177.023.738 hektare hutan mangrove yang tersebar di tujuh kabupaten dan yang paling luas berada di Kabupaten Kubu Raya seluas 129.604.125 hektare,” ungkapnya saat menghadiri Forum Diskusi Bersama Menjaga Hutan, Rabu (14/10).

Hutan mangrove berfungsi sebagai sumber mata pencaharian dan produksi berbagai jenis hutan dan hasil hutan kayu, sumber mata pencaharian nelayan, tempat rekreasi atau wisata alam, objek pendidikan pelatihan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Hutan mangrove di Kalbar menurutnya memiliki keunikan dan kekayaan serta keanekaragaman hayati yang khas dan langka seperti bakau mata buaya dan lenggadai betina yang hanya ada di Kalbar. Selain itu hutan mangrove juga menjadi habitat bagi banyak hewan langka seperti bekantan dan ikan pesut.

“Dengan pertimbangan luas hutan mangrove yang cukup besar dan besarnya fungsi hutan ini maka saya mendukung ditetapkannya World Mangrove Centre di Provinsi Kalbar,” tegasnya.

Dirinya berharap pengelolaan hutan di Kalbar tetap dapat memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat baik yang berada di dalam maupun di luar kawasan hutan.

Kemudian peningkatan pelestarian terhadap hutan harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian desa. Termasuk pengembangan ekowisata, jasa lingkungan, serta program pembayaran karbon dari penurunan emisi dari sektor berbasis hutan merupakan alternatif-alternatif kegiatan yang dapat dikembangkan dan diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perlindungan terhadap hutan.

“Semoga forum ini nantinya banyak menghasilkan rekomendasi terutama bagaimana Kalbar dalam menjaga hutan bisa berdampak khususnya bagi masyarakat Kalbar,” ungkapnya.

Leysandri menambahkan, Pemprov berupaya bagaimana kawasan-kawasan hutan bisa berdampak bagi ekonomi masyarakat. Seperti madu dari Kapuas Hulu yang dikelola oleh kelompok petani madu di Danau Sentarum. “Kini sudah masuk shope, sudah boleh beli online dan kemasannya mengguanakan teknologi yang higenis. Mudah-mudahan masyarakat juga akan mencintai dan menjaga hutan dengan baik, sehingga supaya tidak terjadi kebakaran,” harapnya. (bar/r) 

 

error: Content is protected !!