Laju Terhalang Tembok Pandemi
Ekonomi Kalbar di Tiga Tahun Midji-Norsan

MELEPAS LELAH: Seorang buruh angkut beristirahat di atas tumpukan beras di Pasar Flamboyan. Meski terlihat renta namun dia tetap melakoni pekerjaan tersebut. HARYADI/PONTIANAKPOST

PONTIANAK – Tepat tiga tahun Sutarmidji-Ria Norsan memimpin Kalimantan Barat, sejumlah indikator ekonomi menunjukan tidak ada perubahan yang signifikan. Namun Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman menilai tidak adil apabila angka-angka tersebut dijadikan tolak ukur keberhasilan. Pasalnya selama dua tahun terakhir ini ada tembok besar bernama pandemi Covid-19 yang membuat banyak sektor ekonomi babak belur. Dan hal tersebut merupakan masalah dunia secara umum dan di luar kemampuan gubernur semata.

“Setidaknya kita ada banyak indikator ekonomi kita yang tumbuh, walau tidak signigikan. Dimana pada dua tahun ini banyak provinsi lain yang malah minus,” ujarnya.

Dia mencontohkan, misalnya angka kemiskinan Kalbar bisa 7,17 persen, atau menurun 0,1 persen dari tahun sebelumnya.Begitu juga nilai Indeks Pembangunan Manusia yang ada peningkatan, dimana provinsi lain banyak yang turun. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi terakhir, Kalbar mampu tumbuh 10an persen. Sedangkan angka nasional hanya 7,07 persen.

“Gini ratio kita juga terjaga. Walaupun ada pandemi tetapi kesenjangan kekayaan masih terjaga,” sambung dia.

Sementara untuk masuknya investasi ke provinsi ini, kata dia, praktis terhambat oleh pandemi. Namun dia menyebut gubernur sudah menetaskan kebijakan yang memangkas kerumitan perizinan birokrasi di tingkat provinsi, dan mendorong pemerintah kabupaten/kota melakukan hal serupa. Adapun di sektor infrastruktur, sejumlah proyek strategis seperti pembangunan jembatan di Sungai Sambas, dan lainnya tetap berjalan. Sementara di sektor riil, hampir semua sisi babak belur pada dua tahun terakhir

“Terutama pariwisata, hotel, restoran, transportaso, perdagangan ritel dan lainnya. Beruntung harga komoditas pertanian terutama kelapa sawit, karet, dan lainnya naik, sehingga Kalbar tidak terlalu parah ekonominya. Bahkan kesejahteraan petani kita yang diukur dari Nilai Tukar Petani mengalami kenaikan yang cukup berarti,” paparnya.

Eddy mengatakan sulit untuk menilai keberhasilan di sektor ekonomi dari pasangan Sutarmidji-Ria Norsan. “Kalau kita objektif, melihat dampak pandemi yang begitu dahsyat, saya memberi nilai 80 untuk sektor ekonomi dari pemerintahan sekarang,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar, Rudyzar Zaidar Mochtar juga menyebut sulit mengukur keberhasilan sektor ekonomi apabila melihat angka saja. Cara yang cukup objektif, adalah membandingkannya dengan provinsi lain.

“Kalau dibandingkan dengan provinsi lain Kalbar cukup berhasil. Ekspor kita meningkat, pertumbuhan di atas nasional, sementara tidak kalah penting pengendalian Covid-19 kita relatif lebih baik dibanding provinsi lain,” paparnya.

Menurutnya, di tengah pandemi ini, hanya sektor kesehatan dan, tambang pertanian yang bisa tumbuh baik. Gubernur, kata dia, sudah berusaha untuk meningkatkan potensi sektor tersebut.

“Ekspor komoditas pertanian kita terus membaik, walaupun ada pandemi. Gubernur juga berusaha memperjuangkan beberapa komoditas rakyat seperti kratom dan pertambangan, walaupun berbenturan dengan kebijakan pusat,” katanya.

Dia mencontohkan komoditas kratom dimana, pemerintah pusat, terutama lembaga tertentu yang hendak melarang budidaya kratom dan ekspornya. Namun Pemprov Kalbar berusaha agar usaha di komoditas ini tetap berjalan, mengingat banyak rakyat Kalbar yang hidupnya bergantung dari kratom.

“Harusnya kebijakan pusat dan daerah bisa selaras. Pemerintah pusat jangan menyamaratakan, karena ada masing-masing daerah punya konten dan konteks lokalnya. Contoh lain, adalah produk kehutanan, seperti; gaharu, tengkawang, rotan dan lainnya yang potensinya terhalang oleh sejumlah aturan dari pusat,” sebutnya.

Sektor lain adalah pertambangan yang perizinannya untuk investasinya lebih banyak di pusat. Dia juga menilai, di saat seperti ini sulit ada investasi baru yang masuk di sektor pemurnian bauksit. Terlebih bagi pengusaha dalam negeri. Sementara permintaan dunia terhadap bauksit mentah masih potensial. “Hanya ada segelintir perusahaan yang punya smelter. Itupun sebagian besar asing. Dan mereka tidak bisa menyerap seluruh bauksit yang ada saat ini,” sebut dia. (ars)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!