Ekonomi Kalbar Tertolong Ekspor

KOMODITAS EKSPOR: Seorang petani memanen buah sawit di kebunnya, beberapa waktu lalu. Meski harga sedang anjlok, sawit menjadi salah satu komoditas ekspor yang punya andil bagi perekonomian Kalbar.

PONTIANAK – Ekonomi Kalimantan Barat tumbuh melambat pada Triwulan III tahun 2019. Angka pertumbuhan tercatat hanya 4,95 persen dan berada di bawah rata-rata nasional (5,02 persen). Namun, perlambatan itu setidaknya teredam oleh peningkatan kinerja ekspor. Jika ekspor tidak meningkat, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Kalbar akan lebih rendah.

“Tanpa adanya ekspor, barangkali pertumbuhan ekonomi Kalbar akan terkontraksi lebih dalam,” ungkap Miftahul Huda, Kepala Fungsi Asesmen Ekonomi Surveilans Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalbar.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kalbar triwulan III 2019 (yoy) yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp54.518,94 miliar dan atas dasar konstan 2010 mencapai Rp34.911,44 miliar.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 31,80 persen; diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,13 persen; serta Impor Barang dan Jasa sebesar 5,33 persen.

Dia menilai, sejumlah komoditas menjadi penopang ekspor Kalbar, antara lain alumina serta minyak kelapa sawit atau CPO. Kalbar menjadi pengekspor utama alumina di tanah air. Sementara untuk CPO, meski tidak banyak yang diekspor melalui Kalbar, tetapi komoditas ini cukup memberikan andil terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kepala Fungsi Asesmen Ekonomi Surveilans Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Miftahul Huda, saat memberikan pemaparan dalam kegiatan Forum Komunikasi Jurnalis Bank Indonesia Kalbar, Minggu (17/11) malam, di Bengkayang.

Menurut Huda, perekonomian Kalbar Triwulan III 2019 tumbuh melambat dibandingkan triwulan II 2019 yang tercatat sebesar 5,07 persen. Secara historis, kata dia, pertumbuhan ekonomi Kalbar pada triwulan ini merupakan yang terendah sejak triwulan I 2017.

Perlambatan ekonomi yang terjadi pada triwulan ini, lanjut Huda, terutama terjadi pada konsumsi rumah tangga, sebagaimana pola historis akibat normalisasi permintaan pasca hari besar keagamaan nasional (HBKN) pada triwulan sebelumnya. Menurut catatan KPw BI Kalbar, komponen konsumsi rumah tangga tumbuh melambat dari 5,76 persen pada Triwulan II 2019, menjadi 3,84 pada Triwulan III 2019.

Selain itu, kontraksi juga terjadi karena melambatnya kinerja investasi. Dia mengatakan, komponen investasi sebesar 0,51 persen pada triwulan II 2019, kemudian terkontraksi pada triwulan III 2019, sehingga menjadi 0,17 persen.

“Dari sisi Lapangan Usaha (LU), kontraksi pertumbuhan pada LU konstruksi sebagai dampak dari melambatnya kinerja investasi yang menyebabkan perlambatan ekonomi Kalbar,” pungkas dia.

Kepala BPS Kalbar, Pitono, sebelumnya mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III salah satunya dipengaruhi kenaikan ekspor barang. Pihaknya mencatat, nilai ekspor barang meningkat sebesar 47,93 persen (yoy) dan volume ekspor meningkat sebesar 74,51 persen (yoy). Sedangkan sektor konstruksi tumbuh melambat bila dibandingkan dengan tahun lalu. “Penurunan realisasi pengadaan semen sebesar 7,78 persen dibandingkan tahun lalu,” kata dia.

 

Belanja Pemerintah Rendah

Gubernur Kalimantan Barat turut mengomentari kondisi ekonomi pada triwulan III 2019. Menurutnya, melemahnya perekonomian Kalbar, salah satunya diakibatkan rendahnya belanja pemerintah.

“Saya lihat sampai triwulan III ini, belanja pemerintah masih rendah. Ke depan harusnya tidak lagi seperti ini,” kata Sutarmidji.

Kakanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Kalbar, Edih Mulyadi menyebut, kontribusi pengeluaran negara terhadap angka pertumbuhan ekonomi sangat signifikan. Karena itu, percepatan proses penyerapan, terutama belanja modal sangat diharapkan. Sayangnya, menurut catatan DJPb Kalbar, saat ini belanja modal baru 57 persen.

“Selain itu, dana-dana yang dialokasikan ke pemda, baik  berupa DAK (dana alokasi khusus) fisik, maupun dana desa, juga harus cepat penyerapannya. Tidak hanya belanja modal, tapi belanja yang sifatnya alokatif juga harus dipantau,” ungkap Edih.

Seminar Ekonomi Regional yang digelar di Kantor Wilayah DJPb Kalbar, Kamis (21/11).

Ia mengungkapkan, secara keseluruhan, DAK fisik baru terserap 68 persen dari total sekitar Rp2,6 triliun alokasi ke Kalbar. Dia berharap dana yang dialokasikan bagi daerah dapat dibelanjakan secara optimal sehingga mendorong perputaran ekonomi.

“Pemda juga harus aware, jangan sampai nanti ada dana yang tidak tersalur,” katanya.

Sementara itu, Pjs KPw BI Kalbar, Kapsulani menekankan pentingnya menjaga belanja pemerintah, karena dapat mendorong ekonomi yang tercermin dalam PDRB melalui saluran konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah. Dalam PDRB Kalbar triwulan III 2019, sebut dia, sumbangan Konsumsi Rumah Tangga mencapai 51,94 persen, Investasi mencapai 29,95 persen dan Konsumsi Pemerintah mencapai 11,05 persen.

“Saluran tersebut memiliki sumbangan sekitar 90 persen dari total PDRB Kalbar,” tuturnya. (sti)

 

error: Content is protected !!