Eksplorasi Sejarah di Tanah Al Fatih

Ade Putri Yulianti, Apt | Mahasiswa program beasiswa YTB

Sejak 10 bulan lalu, Ade Putri Yulianti berada jauh dari Indonesia. Tepatnya berada di Ankara, ibu kota negara Turki. Dia mendapat beasiswa kuliah master di bidang Medical Pharmacology, di Hacettepe University melalui program beasiswa dari Türkiye Burşları Schoolarship. Tak sekadar kuliah, Putri pun mengeksplorasi banyak tempat di negara tersebut.

Oleh : Siti Sulbiyah 

Sejak September tahun lalu, Putri disibukkan dengan kursus bahasa Turki yang difasilitasi pemerintah setempat. Kursus ini diberikan guna persiapannya mengenyam pendidikan master di Hacettepe University, Ankara, September mendatang. Di sela-sela kesibukannya itu, ia dan suami, kerap menyempatkan diri untuk mengeksplorasi banyak tempat di negara tersebut.

Aktivitasnya ke kampus jam 09.00 pulang jam 15.30 selepas itu balik lagi ke rumah melayani suami seperti halnya ibu rumah tangga pada umumnya. Aktivitas ke kampus dari hari Senin sampai hari Jumat.

“Sabtu dan minggu libur biasa kami habiskan untuk berbelanja ke pasar, berwisata, atau sekedar jalan-jalan dan makan di luar di kota Ankara Turki,” kata Putri.

Namun, itu terjadi sebelum pandemi covid-19 melanda dunia. Saat ini, aktivitasnya serba terbatas.  Aktivitas perkuliahan dialihkan di ruang virtual. Akhir pekan yang biasanya dimanfaatkan untuk berlibur, pada masa pandemi hanya bisa menetap di kontrakan mereka di ibu kota negara itu. Pun ketika masuk era kenormalan baru, aktivitas juga tidak jauh berbeda, karena saat ini sudah masuk musim panas.

“Aktivitas hanya di rumah, namun kami masih bisa keluar rumah lebih sering ketimbang sebelumnya (saat pandemi) untuk sekedar menghilangkan kebosanan seperti pergi ke taman atau ke pusat kota,” tutur Putri.

Putri merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat. Kini, ia berkesempatan melanjutkan kuliah Master di bidang Medical Pharmacology, di Hacettepe University, dengan beasiswa dari Türkiye Burşları Schoolarship, atau yang lebih dikenal dengan istilah YTB. Beasiswa tersebut diberikan pemerintah Turki untuk mahasiswa asing.

Sejak lama Putri berkeinginan melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Semula ia tertarik berkuliah di Australia tepatnya di Monash University. Keinginannya itu hadir ketika berkesempatan terlibat dalam delegasi Universitas Tanjungpura dalam Program SCENE goes to Melbourne. Namun, berjalannya waktu, ternyata ada kesempatan untuk kuliah di Turki. Peluang ini pun tidak disia-siakan.

Mendapat kabar bahwa ia diterima di Hacettepe University, universitas terbaik di negara itu, membuatnya amat senang. Apalagi negara itu merupakan salah satu negara yang ia impikan untuk dikunjungi. Ketertarikannya terletak pada jejak sejarah Muhammad Al-Fatih, panglima terbaik Islam yang bisa menaklukkan Kota Konstatinopel pada tahun 1435 M, yang kini berubah menjadi Kota Istanbul di negara itu. Hasratnya menguat untuk mengenyam pendidikan di sana, dengan harapan bisa belajar peradaban Islam sekaligus.

“Ibarat sambil menyelam minum air, niat untuk sekolah sekaligus menikmati jejak peradaban Islam di tanah Al Fatih ini,” ungkap dia.

Menurut wanita kelahiran 1993 ini, meski secara konstitusional negara ini tergabung dalam daftar negara Eropa, namun suasana ala Timur Tengah Asia kental terasa. Kebudayaannya merupakan campuran antara budaya Eropa dan Asia, yang terkadang membuat dirinya harus lebih banyak beradaptasi terutama dalam bersosialisasi dengan teman-teman di kampus. Meskipun banyak yang memeluk agama Islam seperti dirinya, tetapi gaya pergaulan Eropa sangat terasa, dan menjadi hal yang lumrah dilakukan.

“Walaupun secara jumlah mayoritas muslim di negara ini, namun mereka tidak ingin mencampurkan urusan agama dengan kehidupan bernegara dan bersosial. So, tidak heran jika dalam kebiasaan kehidupan sosialnya di Turki sangat mirip dengan budaya Eropa sampai pada gaya berpakaian mereka,” ungkap Putri.

Secara historis, negara ini mewarisi peradaban Romawi di Anatolia, peradaban Islam, Arab dan Persia sebagai warisan Imperium Usmani, juga pengaruh negara barat di masa Turki modern. Jadi boleh dikatakan kehidupan sosialnya masyarakat Turki ini dikatakan unik, baik dari segi pemikiran hingga kebiasaan mereka.

“Kalau kita lihat dari segi watak orang Turki, mereka memiliki perwatakan yang keras dan tidak mau mengalah, punya sisi nasionalis yang kuat terhadap negaranya, dan sekularisme yang melekat,” tutur dia.

Dari segi bahasa, Putri menilai tata bahasa Turki jauh berbeda dengan tata bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Hal inilah yang kadang membuatnya kesulitan dalam mempelajari bahasa tersebut. “Dibandingkan dengan bahasa inggris dan bahasa indonesia itu 180 derajat terbalik serta banyak suffiks (imbuhan tambahan) yang kadang bikin pusing kepala,” tutur dia.

Dari segi transportasi, di ibukotanya di Ankara, boleh dikatakan cukup lengkap. Dirinya tidak sulit untuk mendapat transportasi dengan tujuan manapun. Untuk menuju kampus, ia biasanya menggunakan kereta bawah tanah. Untuk fasilitas transportasi publik di Turki lainnya, tersedia pula bus, kereta di atas tanah, kereta gantung (teleferik), bahkan scooter atau sepeda yang bisa disewa. Trafik di negara ini juga terbilang jarang sekali macet. Selain itu, biayanya juga terjangkau, apalagi untuk penumpang berstatus pelajar.

“Biaya naik transportasi terbilang terjangkau, terlebih yang berstatus sebagai mahasiswa. Biaya transportasi diberi potongan sampai setengah dari harga normal,” kata dia.

Dari segi makanan, dia menilai sangat mudah ditemui makanan halal. Namun soal selera, sulit untuk disamakan dengan lidah orang Indonesia. Sebab sebagian besar makanan pokok orang Turki adalah roti, sementara nasi hanya sekedar menu pendamping. “Serta rempah-rempah mereka tidak selegit masakan Indonesia. Terkesan flat tapi sebenarnya sehat,” pungkas dia.**

loading...