Ekspor CPO Kalbar Naik Drastis 

PONTIANAK – Ekspor produk minyak kelapa sawit dari Kalimantan Barat (Kalbar) menunjukkan kenaikan drastis seiring beroperasinya Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah. Kenaikannya bahkan hingga berkali-kali lipat. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi Kalbar sebagai wilayah pengekspor, terutama dari pungutan pajak ekspor.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Muhammad Munsif mengatakan hingga April 2021, ekspor crude palm oil (CPO) di Pelabuhan Internasional Kijing sebesar 218.050 ton. Angka ini menurutnya menunjukkan tren kenaikan.

“Kalau kita lihat datanya sejak Januari memang mengalami kenaikan. Kehadiran pelabuhan ekspor ini memberikan harapan terhadap prospek meningkatnya ekonomi Kalbar,” tuturnya.

Menurutnya, Kalbar sangat diuntungkan dengan keberadaan Pelabuhan Internasional Kijing. Komoditas-komoditas ekspor yang sebelumnya memanfaatkan pelabuhan di daerah lain dapat dialihkan ke pelabuhan ini, sehingga memangkas biaya transportasi. Di samping itu, Kalbar juga mendapat bagian pajak sebagai daerah pengekspor.

“Kita dapat sharing dari bea ekspor, pajak ekspor yang dikenakan pada CPO dan produk turunannya,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, saat ini pemerintah pusat tengah membahas peraturan tentang pembagian pajak ekspor CPO bagi daerah yang menghasilkan komoditas tersebut. Apabila nanti daerah penghasil mendapatkan bagian pajak ekspor tersebut, maka Kalbar akan sangat diuntungkan.

“Semoga nanti diregulasi, keinginan agar daerah penghasil mendapatkan bagian akan diakomodasi. Kalau ini terwujud, maka akan bertambah kuat kontribusi sawit bagi pembangunan daerah,” tuturnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar juga menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda. BPS Kalbar mencatat ekspor golongan Lemak & Minyak Hewan/ Nabati (HS15) Januari-Mei 2021 sebanyak 217.800 ton. Angka ini mengalami kenaikan 623,83 persen apabila dibandingkan dengan ekspor golongan tersebut pada periode yang sama di tahun 2020. Adapun nilai ekspor golongan Lemak & Minyak Hewan/ Nabati (HS15) Januari-Mei 2021 sebesar USD195,94 juta, atau naik lebih dari tujuh kali lipat apabila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu sebesar USD27,07 juta. Berdasarkan data BPS, CPO memberikan kontribusi hampir 100 persen dari golongan Lemak dan Minyak Hewan/Nabati.

Secara nasional, nilai ekspor produk minyak sawit pada Bulan Mei 2021 tercatat mencapai rekor tertinggi Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono, mengatakan, nilai ekspor produk minyak sawit pada Mei 2021 mencapai USD3,063 Miliar dan merupakan rekor ekspor sawit bulanan tertinggi sepanjang sejarah.

Dia menilai, pencapaian tersebut didukung oleh harga rata-rata Bulan Mei yang sangat tinggi yaitu USD1.24l/ton cif Rotterdam yang merupakan harga rata rata bulanan tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Nilai ekspor sawit tersebut mencapai 18,5 persen dari total nilai ekspor nasional bulan Mei yang besarnya USD16,60 miliar dan menghasilkan neraca perdagangan bulanan USD2,37 miliar. Kenaikan nilai ekspor juga didukung oleh kenaikan volume ekspor sebesar 12 persen dari bulan April dan mencapai 2,952 juta ton.

“Kenaikan ekspor terbesar terjadi pada produk olahan CPO sebesar 432 ribu ton dan olahan minyak inti sawit atau Palm kernel oil (PKO) yang naik dengan 31 ribu ton. Kenaikan ekspor tertinggi terjadi untuk tujuan Pakistan Afrika, dan Timur Tengah,” katanya.

Di sisi lain, konsumsi dalam negeri juga mengalami kenaikan sebesar 55 ribu ton menjadi 1,645 juta ton. “Konsumsi untuk keperluan pangan mencapai 842 ribu ton naik 2,8 persen, oleokimia 176 ribu ton naik 8,6 persen dan untuk biodiesel 627 ribu ton atau turun 0,32 persen dari bulan sebelumnya,” sebutnya.

Untuk produksi sawit bulan Mei, tambahnya, yakni sebesar 4.354 ribu ton terdiri CPO sebesar 3.966 ribu ton dan PKO 388 ribu ton sehingga total kenaikan produksi CPO dan PKO adalah 257 ribu ton atau naik 6 persen dibandingkan produksi bulan April sebesar 4.097 ribu ton. Kenaikan produksi tersebut menurutnya, lebih rendah dari kenaikan ekspor dan konsumsi sebesar 350 ribu ton, sehingga stok bulan Mei turun menjadi 2,884 ribu ton.

“Rendahnya stok minyak sawit dan juga beberapa minyak nabati utama lainnya menjadi salah satu penyebab tingginya harga minyak nabati,” pungkasnya. (sti)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!