Ekspor di PLBN Aruk Kian Menggeliat, Perlu Dorong Produk Olahan

PLBN Aruk

PONTIANAK – Ekspor barang via Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk saat ini menunjukkan tren peningkatan. Tidak hanya dari segi kuantitas barang ekspor, tetapi juga pada pemenuhan aspek legalitas seperti penyertaan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).

Kepala KPP Bea Cukai Sintete, Denny Prasetyanto menyebut, sejak ekspor secara resmi pertama kalinya dengan PEB pada Desember 2019 yang lalu,  hingga saat ini ada lebih banyak eksportir yang melakukan ekspor dengan menggunakan dokumen PEB. “Januari kemarin ada sekitar 54 dokumen PEB, lalu pada Februari hingga tanggal 10 kemarin ada 30 dokumen. Jumlahnya mungkin saat ini sudah lebih banyak lagi,” ungkap dia di Pontianak, Kamis (27/2).

Diakuinya, ekspor via PLBN Aruk sedari dulu sudah biasa dilakukan, tapi masih dalam bentuk perdagangan lintas batas atau perdagangan tradisional, sehingga tidak tercatat besaran devisanya. “Sebenarnya nilai ekspornya besar sekali, tetapi selama ini tidak dapat devisanya,” kata dia.

Adapun produk-produk yang banyak diekspor itu, lanjut dia, kebanyakan adalah komoditas perikanan, perkebunan dan industri kerajinan. Komoditas di sektor perkebunan misalnya, di antaranya adalah kelapa, jeruk, buah naga, nanas, dan lain sebagainya. Sementara ekspor sektor perikanan salah satunya ubur-ubur, serta produk kerajinan yang diekspor adalah tenun.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ekspor yang dilakukan itu kebanyakan adalah bahan baku, terutama komoditas perkebunan dan perikanan. Tahun ini, pihaknya berencana untuk mendorong ekspor dalam bentuk produk jadi atau minimal produk setengah jadi. Karena itulah untuk mendorong hal ini, dia menilai perlu adanya industri pengolahan.

“Untuk mendorong lahirnya industri pengolahan ini, maka kita perlu datangkan investasi di perbatasan,” kata dia.

Kehadiran industri pengolahan menurutnya bakal mendongkrak nilai tambah produk-produk yang akan diekspor ke Negeri Jiran. Di sisi lain, hal tersebut juga akan menciptakan peluang-pelaung ekonomi baru di sekitar wilayah industri. Dengan begitu, ekonomi di daerah perbatasan menggeliat dan masyarakat menjadi sejahtera.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji memandang pemanfaatan PLBN di provinsi ini belum mampu memaksimalkan perdagangan ekspornya. Di Aruk, Sambas, salah satunya. Orang nomor satu di Kalbar ini menemukan bahwa ekspor produk pertanian yang dilakukan di pintu perbatasan tersebut masih dalam bentuk segar. “Hasil pertanian dikirim langsung, dan belum diolah,” kata dia.

Salah satu komoditas pertanian yang diekspor ke Malaysia itu, kata dia, adalah talas. Sutarmidji menyayangkan ekspor yang dilakukan itu masih dalam bentuk segar, tanpa pengolahan terlebih dahulu. Padahal produk tersebut akan lebih bernilai ekonomi bila diekspor dalam bentuk olahan atau pangan jadi. Dengan mengekspornya dalam bentuk jadi, atau minimal setengah jadi, profit yang dihasilkan tentu akan lebih besar.

Seharusnya, lanjut dia, para eksportir mencari tahu lebih dalam, produk turunan apa yang dihasilkan dari olahan talas di Malaysia. Dalam hal ini, dia menilai Konsulat Indonesia di negera itu juga harus membantu mencari informasi soal pengolahan produk tersebut. “Pernah tidak kita konsultasi dengan Konsulat, di sana itu talas dibuat apa. Kalau kita tahu, kita bisa coba produksi sendiri produk turunannya. Kita bisa membuat produk yang potensial di pasar Malaysia,” kata dia.  (sti)