Ekspor Super Red Turun Drastis

Arwana super red yang dipamerkan di Pontianak Convention Center.

PONTIANAK –  Kalimantan Barat menjadi daerah pengekspor ikan arwana terbesar di dunia yang didominasi jenis super red. Jumlah ekspor dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami fluktuasi. Namun, di tahun 2019, volume ekspor turun drastis dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Menurut data Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Pontianak, negara yang juga menjadi tujuan ekspor arwana super red adalah China, Hongkong, Jepang, Philipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Di antara negara-negara tersebut, China merupakan pasar yang terbesar.

BKIPM Pontianak mencatat, pada tahun 2015, jumlah ekspor arwana super red mencapai 2.476 ekor ke berbagai negara. Jika diperhitungkan nilainya sekitar Rp.6,19 miliar. Di tahun 2016, volume ekspor mengalami penurunan hampir setengah dibandingkan dengan tahun 2015. Jumlahnya hanya mencapai  1.332 ekor dengan nilai nominal Rp 3,330 miliar.

Tetapi di tahun 2017, ekspor arwana mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Totalnya mencapai 3.880 ekor dengan total nilai Rp 9,7 miliar. Frekuensi pengiriman ekspornya tercatat 42 kali.  Pada tahun 2018 , peningkatkan kembali terjadi. Angkanya cukup fantastik menjadi 4.058 ekor dan menyentuh nilai Rp 10,145 miliar.

Namun pada tahun 2019,  terjadi penurunan drastis ekspor ikan arwana super red. Jumlah ekspornya hanya 2.360 ekor dengan nominal sekitar Rp. 2,575 miliar. Penurunan ekspor itu terjadi lantaran beberapa tahun terakhir ini terjadi penurunan kualitas air di perairan sebagaimana banyak dikeluhkan penangkar arwana.

Hal itu diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo usai bertemu dan berdialog dengan sejumlah penangkar  arwana di PD Dian Ardyka Jalan Trans Kalimantan, Kubu Raya, Kamis sore (9/1). “Kita mencoba mencarikan solusi. Di samping itu pula  pembinaan masyarakat pembudidaya ikan arwana. Kalau bisa pembudiaya ikan arwana ini tidak hanya dari kalangan pemilik uang tetapi masyarakat dalam arti luas yang juga bisa menikmatinya,” jelas dia.

Usai dialog dengan penangkar arwana, Edhy juga menyinggung potensi budidaya beberapa jenis ikan lain yang juga asli dari Kalbar.  “Ikan yang tidak kalah mahal dibanding ikan arwana adalah ikan semah, tiger fish dan ikan botia yang punya potensi. Kita berharap ini menjadi pendorong ekonomi di sini,” tuturnya.

Edhy menambahkan, untuk mendukung para pengiat perikanan di Kalbar, diperlukan adanya sinergisitas semua pihak. Sebuah daerah yang memiliki potensi besar perlu didukung dengan program pembenihan dan harus dibangun infrastruktur balai benih. “Memang kendalanya untuk saat ini di pulau Kalimantan masih ada satu balai benih yang berada di Kalimantan Selatan. Harapannya kalau bisa di Kalimantan Barat harus memilik dua balai benih untuk simultan mendorong budidaya perikanan,” ujarnya.

Untuk membangun sektor perikanan yang kuat, Edhy juga menilai perlu adanya komunikasi yang baik antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. “Kami Kementerian Kelautan dan Perikanan akan siap hadir setiap saat untuk mewujudkan iklim yang kondusif di bidang ini, ” ungkapnya.

Walujan Tjin, Ketua Asosiasi Penangkar dan Pedagang Siluk Kalbar mengatakan di daerah ini ada sekitar 80 penangkar yang memiliki izin penangkaran. Sementara penangkar yang bisa melakukan ekspor (eksportir) jumlahnya sekitar 15 penangkar. Mereka menaungi hampir ribuan penangkar bibit arwana di Kalbar.

“Kita di asosiasi saling membantu bagi penangkar yang tidak punya izin plasma untuk menampung dan membantu proses ekspor bagi penangkar,” ungkapnya.

Walujan menambahkan  terkait proses perizinan dalam proses ekspor dan budidaya, pihaknya tak menemukan sedikit pun kendala. Berbagai pihak yang bersentuhan dengan budidaya ikan arwana sangat mendukung.

“Untuk benih arwana pun sudah tidak ada kendala. Budidaya serta penangkaran ikan arwana sudah berjalan sekitar 30 tahun lebih dengan segala hambatan sudah kami antisipasi,” ungkapnya.

Untuk pasar dan harga ikan arwana, Walujan mengaku memang agak sedikit kacau. Hal ini antara lain disebabkan oleh kondisi perekonomian dunia yang mengalami kekisruhan dan berbagai faktor lainnya. Salah satu upaya yang dilakukan asosiasi saat ini adalah lebih selektif memilih ikan indukan agar kualitas anakannya bagus.

Dengan demikian diharapkan dapat menarik lebih banyak pembeli dan memperbaiki harga. ” Selain ekspor keluar negeri yang pasarnya masih baik, pasar domestik untuk ikan arwana juga tetap masih terbuka seperti tujuan beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya,dan Yogyakarta. Frekuensi pengirimannya masih rutin,” terangnya.

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengapresiasi kedatangan Menteri Kelautan dan Perikanan yang bertemu langsung dengan para penangkar arwana, guna menyerap aspirasi dan persoalan yang dihadapi para pembudidaya. Muda berharap program-program perikanan kelautan yang diluncurkan bisa berdampak luas bagi masyarakat di daerah Kubu Raya. (yad)