Ekspor Tahan Perlambatan Ekonomi Kalbar

Kepala Fungsi Asesmen Ekonomi Surveilans Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Miftahul Huda, saat memberikan pemaparan dalam kegiatan Forum Komunikasi Jurnalis Bank Indonesia Kalbar, Minggu (17/11) malam, di Bengkayang.

BENGKAYANG – Ekonomi Kalimantan Barat yang tumbuh melambat pada Triwulan III tahun 2019 didorong oleh perlambatan permintaan domestik, terutama pada konsumsi rumah tangga, sebagaimana pola historis akibat normalisasi permintaan pasca hari besar keagamaan nasional (HBKN) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan ekonomi Kalbar yang tumbuh 4,95 persen pada triwulan III, setidaknya dapat redam oleh peningkatan kinerja ekspor sehingga tak melemah terlalu dalam. Meningkatnya kinerja ekspor didukung oleh harga komoditas dunia yang masih cukup baik.

“Tanpa adanya ekspor, barangkali pertumbuhan ekonomi Kalbar akan melambat lebih dalam,” ungkap, Miftahul Huda, selaku Kepala Fungsi Asesmen Ekonomi Surveilans Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, saat kegiatan Forum Komunikasi Jurnalis Bank Indonesia Kalbar, Minggu (17/11).

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada Triwulan III 2019 terhadap Triwulan III 2018 (yoy), dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 31,80 persen; diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,13 persen; serta Impor Barang dan Jasa sebesar 5,33 persen. Sedangkan terhadap Triwulan II 2019, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Impor Barang dan Jasa dan diikuti oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh masing-masing sebesar 17,37 persen dan 16,22 persen.

Dia menilai, sejumlah komoditas menjadi penopang ekspor Kalimantan Barat, antara lain, alumina, serta minta kelapa sawit atau CPO. Kalbar menurutnya menjadi pengekspor utama alumina di tanah air. Sementara CPO, meski tidak banyak yang diekspor melalui Kalbar, tetapi cukup memberikan andil terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut Huda, perekonomian Kalbar Triwulan III 2019 tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,07 persen dan berada di bawah pertumbuhan nasional yang tercatat sebesar 5,02 persen. Secara historis, dikatakan dia, pertumbuhan Kalbar pada triwulan ini merupakan yang terendah sejak tahun triwulan I 2017.

Perlambatan ekonomi yang terjadi pada triwulan ini, lanjut Huda, salah satunya disebabkan oleh melemahnya konsumsi rumah tangga, serta melambatnya kinerja investasi. Menurut catatan Bank Indonesia Kalbar, komponen konsumsi rumah tangga tumbuh melambat dari 5,76 persen pada Triwulan II 2019, menjadi 3,84 pada Triwulan III 2019. Sementara komponen investasi, melambat dari 0,51 persen pada Triwulan II 2019, jadi 0,17 pada Triwulan III 2019.

“Dari sisi Lapangan Usaha (LU), kontraksi pertumbuhan pada LU konstruksi sebagai dampak dari melambatnya kinerja investasi yang menyebabkan perlambatan ekonomi Kalbar,” pungkas dia.

Read Previous

Mantan Timses Nakhodai Perusda

Read Next

Marcel Beni Jabat Camat Sompak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *