Endus Dugaan Korupsi Hibah Gereja
Kasat Reskrim : Ada Beberapa Temuan yang Janggal

PIBI CENTER: Kondisi bangunan Gereja PIBI Center yang tak kunjung rampung (mangkrak) hingga saat ini. SIGIT ADRIYANTO/PONTIANAK POST

BENGKAYANG – Kepolisian Resor Bengkayang tengah mendalami kasus dugaan korupsi terkait dana hibah pembangunan Gereja PIBI (Perhimpunan Injili Baptis Indonesia) Center. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Bengkayang, AKP Antonius Trias Kuncorojati mengungkapkan, dugaan korupsi tersebut mencuat berdasarkan fakta bahwa pembangunan gereja yang terletak di Jalan Singkawang, Kelurahan Bumi Emas, Kecamatan Bengkayang tak kunjung rampung alias mangkrak.

“Untuk proposal pengajuan  dana tersebut ada di tahun anggaran 2016 dan 2019. Namun untuk saat ini, kita fokus terlebih dahulu pada dana hibah di tahun 2019, yang jumlahnya cukup besar. Yakni mencapai lebih dari tiga miliar rupiah,” jelas Kasat Reskrim saat dimintai keterangan, Selasa (30/3).

Antonius turut menceritakan bahwa proposal itu awalnya diajukan ke Pemda Bengkayang, melalui BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ) Kabupaten Bengkayang (pengusul) kemudian dari pengusul ke Kesra analisa. Setelah itu dilanjutkan ke kabag hukum untuk diteliti kembali berkas-berkasnya. Kemudian masuk ke asisten dua dan tiga untuk diperiksa lagi berkas tersebut, lalu ke Sekda untuk disempurnakan.

“Setelah dari Sekda  baru ke Bupati saat itu (Suryadman Gidot) sebagai penentunya, sekaligus penanggungjawabnya. Karena dia yang bertanda tangan, begitu alurnya,” ucap Antonius.

Dia juga menjelaskan, dari proposal yang diajukan panitia pembangunan 2019, jumlah dana yang diajukan sebesar Rp3,9 miliar untuk 16 item pekerjaan.  Kemudian dari hasil pemeriksaan dokumen, dari proposal tahun 2019 Daftar Penerima Anggaran (DPA) yang diterima hanya sebesar Rp20 juta, dari jumlah proposal Rp3,9 miliar yang diajukan.

“DPA nya hanya 20 juta saja dari total pengajuan proposal Rp3,9 miliar. Itu yang di-acc (diterima) tertanggal 20 Januari 2019. Kemudian di SK penerima hibah pun sama yaitu Rp20 juta juga di tanggal 8 Januari 2019. Namun di NPHD (Naskah Perjanjian Hibah Daerah) tiba-tiba menjadi tiga miliar lebih. Namun  di pembayaran (dibuktikan dengan pembayaran) sebesar Rp3 miliar saja. Sisanya hilang,” terangnya.

“Dalam DPA 2019, dari jumlah proposal yang diajukan sebesar Rp3,9 miliar, dan disetujui  sebesar 20 juta rupiah, namun dalam naskah perjanjian hibah daerah (NPHD) nilai yang dicairkan (berubah) menjadi tiga miliar lebih (diterima panitia),” timpalnya.

Ia  juga menyampaikan bahwa hingga saat ini sudah ada beberapa pihak yang telah diperiksa. Di antaranya Mantan Bupati Bengkayang, Sekda, Asisten dua dan tiga, Kabag hukum dan Kesra. Selain itu, beberapa pihak lain juga sudah diperiksa, seperti  toko-toko tempat belanja material.

“Kita sudah memeriksa kemarin di toko-toko di Pontianak  tempat pembelian barang. Itu terjadi keanehan, misalnya beli  barang yang tidak terlalu riskan tapi belinya di Pontianak. Seharusnya bisa belanjanya di Bengkayang. Dan juga beberapa barang lainnya seperti ember dan lain-lain,”   ujarnya.

“Terakhir nanti kita juga akan memeriksa panitia pembangunan dan yang terkait lainnya,” sambungnya.

Di sisi lain, dia juga mengungkapkan temuan lainnya yang dianggap sebagai kejanggalan. Seperti misalnya dalam kuintasi dituliskan bantuan untuk orang lain. “Harusnya jika itu diserahkan untuk gereja, harusnya dana itu untuk pembangunan itu (PIBI Center). Tetapi kuitansi itu notabene-nya kayak dana bantuan. Di situlah kita menemukan upaya melawan hukum,” ungkapnya.

Selain itu, Kasat Reskrim juga membeberkan hasil pemeriksaan sejauh ini yang dilakukan pihaknya memang ada dugaan terkait penyalahgunaan dana. Hal itu, lanjutnya, bisa dilihat dengan kejanggalan pada kuitansi, sehingga pihaknya masih terus mendalami dengan memeriksa ahli yang lain, BPKAD dan panitianya. “Ke depan jika ditemukan alat bukti yang lengkap akan dinaikkan ke tingkat penyidikan,” tegasnya.

Lebih jauh ia juga menjelaskan bahwa alur dana tersebut masuk ke panitia. Namun saat ini Tipikor Polres Bengkayang lebih fokus pada penyalahgunaan anggaran di tahun 2019 yang belum bisa dipertanggungjawabkan hingga saat ini. “Memang ternyata pada 2016 juga terdapat penyelewengan. Nanti akan diusut juga,” pungkasnya. (sig)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!