Enggan Langgar Hutan Adat, Atasi Masalah Lewat Kelompok Tani

sawit

PANEN: Petani sawit mandiri di Dusun Nanga Kebebu, Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi menunjukkan hasil panen buah sawit miliknya. ARIEF NUGROHO/

Perjuangan Petani Swadaya Menuju Sawit Berkelanjutan

Kabupaten Melawi memiliki kebun sawit swadaya atau mandiri sekitar 4.225 hektare. Sayangnya, para petani masih menghadapi berbagai masalah. Ada sejumlah langkah yang telah ditempuh untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Berikut penelusuran wartawan Pontianak Post,

ARIEF NUGROHO.

—-

DESA Nanga Kebebu dan Semadin Lengkong, Kecamatan Nanga Pinoh punya kebun sawit yang cukup luas. Berdasarkan data monografi Desa Nanga Kebebu, dari luas wilayah 4.545,8 kilometer persegi, sekitar 432 hektare adalah perkebunan sawit. Sedangkan di Desa Semadin Lengkong,  tercatat ada 1.552 hektare lahan perkebunan, baik karet maupun sawit.

Kepala Desa Nanga Kebebu, Akhmad Yani mengatakan, sektor perkebunan jadi sumber terbesar perekonomian masyarakat. Hanya saja peningkatan sumber daya manusia dalam pengelola perkebunan masih sangat kurang. Hal itu karena tak ada pendampingan dan penyuluhan dari pihak terkait.

Menurut Yani, petani kebun sawit mandiri belajar tanam secara otodidak tanpa ada pendampingan. Desa Nanga Kebebu pernah didatangi investor perusahaan perkebunan sawit. Namun, warga bersama-sama menolak. Mereka ingin mengembangkan sawit secara mandiri. Saat ini  petani sawit mandiri di Desa Nanga Kebebu ada 48 orang, dengan luasan lahan bervariasi. Mereka tetap mengembangkan sawit meski minim pengetahuan.

Menurut Yani, petani sawit mandiri banyak menemukan persoalan, baik dari segi ketidaktahuan dalam pengelolaan lahan, pemilihan bibit sampai pada akses pasar. “Kami masih mengalami ganjalan. Terutama mendapatkan akses pasar.”

Kesulitan lain yang juga ditemui adalah mengurus surat tanda daftar budidaya (STDB) dan lain-lain.

“Kami dari pemerintah desa mencoba memfasilitasi, mendata dan memberikan pelatihan sederhana bekerjasama dengan lembaga lain,” katanya.

Meski relatif minim pengetahuan, warga tak sembarangan mengelola lahan. Mereka tidak ingin melanggar kawasan lindung untuk memperluas kebun. Yani mengatakan, di Dusun Sebaju, Desa Kebebu ada hutan adat Rasau Sebaju. Hutan dengan luas sekitar 200 hektare ini dinamai Pasak Sebaju.

Read Previous

Sidang Sengketa Informasi Yayasan Munzalan, Termohon Tolak Mediasi

Read Next

Mengelola Stres Bersama Keluarga

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *