Fender Jembatan Melano Diabaikan

Tiang fender pengaman jembatan Melano Kecamatan Simpang Hilir rusak ditabrak ponton. foto Danang P

SUKADANA–  Tiang fender jembatan Melano yang ditabrak Ponton Bg Widermarine 2305 yang ditarik tugboat TB WideMarine 5, dengan Assit TB Rita 111 hingga kini tak kunjung diperbaiki. Pengamanan jembatan di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara ditabrak Kamis (3/10) lalu.

“Belum ada perbaikan. Padahal jalur tersebut merupakan jalur umum yang sering dilewati oleh kendaraan. Kami jelas khawatir terjadi hal-hal yang merugikan, jika tidak segera diperbaiki. Misalnya ditabrak lagi,” terang warga Simpang Hilir, Abdul Rani, di Sukadana, Senin (16/12).

Abdul Rani berharap kepada pemerintah, dalam hal ini Dinas PU Provinsi, serta pihak lainnya, agar dapat menegur perusahaan tersebut untuk segera memperbaikinya.

“Harusnya penabrak (pihak perusahaan) segera memperbaikinya, sebelum menelan korban. Muspika juga bisa memanggil perusahaan,” lanjutnya.

Sebab, dilokasi yang sama, jalur listrik di daerah tersebut pernah ditabrak ponton pembawa bauksit. Sehingga pada saat itu,  jaringan listrik yang ada sempat terputus. Jadi kata dia, ini sudah kedua kalinya yang melibatkan ponton tersebut.

“Jadi kejadian ini sudah duakalinya,”singkatnya.

Bahkan, jika dibiarkan seperti ini akan  timbul kecurigaan, akan adanya oknum yang bermain, memanfaatkan kesempatan tersebut.

“Kesannya diabaikan begitu saja,’’ imbuhnya.

Ia mengatakan, pengoperasian perusahaan tersebut cukup banyak merusak fasiltas yang ada. Belum lama ini pipa air juga tertabrak. Masyakat dalam hal ini, menurut dia hanya dirugikan, dan menguntungkan bagi pejabat-pejabat atau oknum tertentu saja.

“Mudah-mudahan pihak terkait bertanggung jawab. Ponton-ponton itu membawa bouksit milik PT Harita. Kami sebagai masyarakat minta itu diperbaiki segera,” lanjutnya.

Kontribusi yang diterima oleh mayarakat pun, kata dia, selama ini tidak ada. Apa lagi dengan pekerja yang ada disitu saja hanya orang-orang tertentu. Bahkan untuk CSR untuk masyarakat pun sepertinya tidak ada.

“Kami pernah konfirmasi, ternyata ini wewenang PUPR Provinsi. Bahkan provinsi sudah turun. Tapi kenapa sampai saat ini belum ada perbaikan,” kesalnya. “Mencontoh Pontianak, begitu cepat dilakukan perbaikan. Kenapa di Kayong Utara ini lama sekali,” ungkapnya. (dan)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!