Festival Arakan Pengantin Ramaikan HUT 258 Pontianak

Lestarikan Adat Istiadat, Potensial Menarik Wisatawan

Pelaksanaan Festival Arakan Pengantin Melayu dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-248 Kota Pontianak, Kalimantan Barat kembali digelar, Minggu (6/10). Arakan pengantin Melayu ini menjadi agenda rutin pemerintah kota yang bertujuan untuk memperkenalkan adat istiadat dan tradisi masyarakat Kota Pontianak.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

KEINDAHAN busana pengantin Melayu, barang antaran dan musik yang mengiringi menjadi tontonan menarik pada festival ini. Masyarakat juga bisa menemukan ragam inspirasi untuk acara perkawinana berkonsep adat melayu Pontianak. Mulai dari pakaian, hingga dalam menghias barang hantaran.

Perpaduan warna baju telok belanga dan baju kurung tak luput jadi perhatian. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada barang antaran yang sudah jarang ditemui pada acara perkawinan sesungguhnya, seperti rumah jebah, dan pokok pacar. Semakin bertambah meriah, acara ini juga akan penampilan musik dari Tanjidor.

Festival ini akan berlangsung di kawasan Car Free Day, pukul 07.00 WIB hingga selesai. Kelompok peserta nantinya akan berparade dari depan halaman Museum Negeri Kalbar menuju Masjid Raya Mujahidin Jalan Ahmad Yani. Panitia masih membuka pendaftaran bagi kelompok peserta yang ingin berpartisipasi dalam festival yang digelar kali pertama tahun 2011 dalam rangkaian HUT Kota Pontianak yang diperingati setiap 23 Oktober ini.

Kegiatan ini melibatkan peserta dari perwakilan kecamatan se Pontianak, perwakilan BUMN, dan juga terbuka untuk umum. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta tidak hanya berasal dari Pontianak, tetapi juga melibatkan kabupaten lain. Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Sintang pun siap berpartisipasi memeriahkan pertambahan usia kota Pontianak.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Rendrayani mengatakan Arakan Pengantin Melayu Pontianak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WTB) oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan RI tahun 2017. Menurutnya, peringatan hari jadi Pontianak setiap tahunnya lebih banyak menampilkan seni budaya yang menjadi aset Kota Pontianak.

Tak terkecuali Festival ini, diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk tetap melestarikan dan mempertahankan adat istiadat dan seni budaya masyarakat Pontianak. Juga potensial untuk menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke kota Khatulistiwa ini. Hal-hal seperti ini mesti digali dan diangkat ke permukaan, mulai dari kuliner, seni budaya arakan pengantin, saprahan dan sebagainya sehingga akar budaya khas Kota Pontianak tidak akan luntur. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam mengembalikan tatanan-tatanan awal atau dasar dari setiap seni budaya maupun hal-hal lainnya yang bersifat tradisional di Kota Pontianak.

Selain melestarikan khasanah budaya dan menumbuhkan kecintaan generasi muda atas warisan nenek moyang, kata dia ini juga menunjukkan bahwa pakaian adat pengantin Melayu Pontianak tak kalah memesona saat dikenakan, terutama saat di singgasana pelaminan. “Ini wujud dari kecintaan kita terhadap budaya daerah. Semangat melestarikan budaya daerah harus ditumbuhkembangkan,” papar dia.

Festival ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi kreatif (ekraf) yang ada di Pontianak dan menjadi wadah bagi para pelaku ekraf untuk terus berkreasi dan berinovasi dalam bidang fashion, terutama pakaian khas telok belanga dan baju kurung yang dikenakan para pasangan pengantin dengan tetap menjunjung adat istiadat.(*)

loading...