Festival Bacang 2020 Siap Digelar, Panitia Siapkan 40.000 Bacang

PERSIAPAN : Festival Bacang tahun 2020 siap digelar. Acara ini akan dipusatkan di Singkawang Cultural Center pada 25 Juni 2020. 

SINGKAWANG–Festival Bacang tahun 2020 siap digelar. Acara ini akan dipusatkan di Singkawang Cultural Center pada 25 Juni 2020.  Dalam festival ini panitia sudah menyiapkan 40.000 bacang, karena dilakukan disaat pandemik Covid-19 maka penerapan protokol kesehatan tetap diutamakan.

Ketua Panitia Festival Bacang 2020, Bun Cin Thong melalui seketaris panitia Festival Bacang Trifina mengatakan kegiatan ini mengusung tema kemanusian yakni berbagi kasih.

Sebelum puncak acara tanggal 25 Juni 2020 mendatang, Panitia Festival Bacang 2020 sudah melakukan anjang sana berbagi kasih dengan membagikan Bacang.  Mulai bersilaturahmi dengan Forkopimda, berbagi kasih ke sesama ke rumah sakit,  Puskesmas,  panti asuhan,  panti jompo,  dan juga akan berbagi kepada sesama yang kurang mampu.

Kegiatan ini didukung penuh Pemkot Singkawang dan gabungan organisasi yang ikut mensukseskan Festival Bacang 2020 yang perdana dihelat ini. Dimana Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie sebagai dewan Pelindung dalam acara ini.

Puncaknya pada 25 Juni 2020 mendatang akan digelar berbagai atraksi seni budaya mulai permainan alat musik tradisonal hingga tarian barongsai dan acara lainya.  “Tentunya para undangan, donatur yang hadir menjalankan protokol kesehatan seperti bermasker,  dan tetap menjaga jarak.  Di tempat kegiatan ini kami juga menyiapkan fasilitas cuci tangan sesuai protokol kesehatan, ” jelasnya.

Dalam acara puncak akan dilakukan pembagian bacang kepada masyarakat umum, setidaknya ada 20.000 Bacang disiapkan. “Namun pembagian Bacang akan dilakukan secara door to door juga sehingga tidak ada massa berkumpul,” terangnya lagi.

Selain itu Festival Bacang 2020 ini juga sebagai wadah untuk memperkenal sekaligus melestarikan budaya kepada generasi muda.

“Kami ingin melalui Festival Bacang ini para generasi muda tetap mengenal dan melestarikan budaya ini,  katanya.

Festival Bacang ini tak luput dari sebuah kisah perbuatan baik yang selalu dikenang. Dikisahkan, Qu Yuan suatu ketika diusir dari Negara chu termakan siasat adu domba Raja Qin dan membenci Qu yuan. Setelah meninggalkan ibukota Negara chu, Qu Yuan Menulis sebuah puisi berjudul Li Sao, yang berisi kritikan atas kebobrokan birokrat, kegundahan serta kecintaannya terhadap Negara dan rakyat, serta harapannya agar raja Chu (Huai Wang) akhirnya di tangkap dan mangkat di penjara Negara Qin, lalu digantikan oleh Raja Chu (Xiang Wang). Dalam keadaan putus asa karena merasa tak mampu mempertahankan Negara dan menolong rakyat yang di cintainya, Qu Yuan berjalan menuju Sungai Mi Luo dan menenggelamkan diri dengan melompat sungai itu. Rakyat yang mengetahui kabar Qu Yuan melompat kesungai, berbondong-bondong menuju sungai untuk menolong menteri yang amat mereka kasihi itu. Saat itu adalah bulan 5 tanggal 5 penanggalan Lunar. Para nelayan pun beramai-ramai mengayuh sampan mencari jasad Qu Yuan. Jasad Qu Yuan yang tak berhasil ditemukan membuat rakyat yang berduka berpikir bagaimana melindungi jasad Qu Yuan agar tak digerogoti ikan dan udang di sungai. Mereka sepakat melemparkan nasi, daging,dan sebagainya (yang dibungkus dengan daun bambu) sebagai pengganti santapan ikan/udang ke sungai dimana Qu Yuan melompat.

Inilah cikal bakal tradisi membungkus dan memakan bakcang pada setiap tanggal kematian Qu Yuan setiap tahunnya oleh masyarakat etnis tionghoa diseluruh dunia. Adapun “DUAN WU JIE” memiliki makna:

Daun (awal/permulaan) Wu (siang/tengah hari) dengan ‘lima ‘pada masa dulu, danjie (Festival). Jadi DUAN WU JIE bermakna festival pada awal hari kelima bulan kelima lunar kalender. Tradisi yang menyertai Duan Wu Jie yakni Makan Bakcang.

Kata bakcang’-berasal dari dialek Hokkian, Hakka, DIl secara harfiah berarti cang (penganan dengangumpalan nasi ketan) yang berisibak (daging). Dalam perkembangannya, cang tak hanya berisi daging, telur, jamur, dan sebagainya, namun juga dapat diisinya hanya sayur sayuran/vegetarian (disebut chaicang), pun yang tak berisi, biasa dimakan dengan srikaya atau gula (disebut kicang) Bentuk bakcang yang dibungkus dengan daun bambu yang panjang (biasanya daun direbus dahulu agar beban kotoran dan bakteri hilang serta diikat dengan tali.

Selain makan Bakcang, Festival ini biasanya dilakukan Mandi Tengah Hari. Terlepas dari kisah kepahlawan Qu Yuanyang melatar belakangi perayaan Duan Wu Jie festival, yang mana merupakan hari pemujaan, bersujud dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.Menurut kepercayaan, pada hari Duan Wu,Tuhan(Thian akan melimpahkan rahmat Nya yang paling besar kepada semua makhluk pada saat Matahari bersinar paling terang dan berada pada posisinya yang tepat di atas khatulistiwa,yakni pada pukul 11.00-13.00 wib.

Semoga dengan Festival ini, kata Trifina,  masyarakat yang merayakannya bisa mengambil hikmah dibalik peristiwa ini.  “Selalulah berbuat baik dengan berbagi kasih karena setiap kebaikan akan dikenang,” ajaknya. (har)

 

loading...