Film Pendek Karya Anak Kalbar; Jejak Dakwah Islam Syekh Al Maghribi di Tanah Kayong

PEMAIN : Para kru dan pemain foto bersama di sela melakukan syuting film. 

Jejak Dakwah Islam Syekh Al-Maghribi di Tanah Kayong bukanlah film perdana karya Suryadi dan kawan-kawan. Namun, film yang disutradarai Ade Tri Wahyuda ini sukses menjadi juara pertama dalam kompetisi film pendek Jejak Wali di Nusantara. Film ini akan mewakili Kalbar dalam tingkat Nasional. Bagaimana proses kreatifnya?

MARSITA RIANDINI, Pontianak

FILM berdurasi 15 menit 10 detik ini bercerita tentang seorang jurnalis bernama Jaka. Dia sedang melakukan sebuah riset tentang Jejak Dakwah Islam yang ada di Ketapang. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari warga sekitar, riset ini membawanya ke Taman Khalwat atau Sapu Jagad. Konon katanya, di tempat inilah banyak cerita tentang sejarah penyebaran dakwah di Ketapang. Jaka pun kemudian tertarik mengangkat  kisah tentang Syekh Al Maghribi.

Suryadi, salah satu tim mengatakan, ide ceritanya berawal dari Guru Alqur’an dan Hadist dari MAN 2 Ketapang yang bernama Nasyir Syam. Proses produksi film dilakukan dalam tiga hari. Syuting tidak dilakukan tiga hari berturut-turut. Sebab menyesuaikan jadwal pemain, juga jadwal kru film ini.

“Kami mengangkat cerita Syekh Maghribi dibanding ulama lain adalah karena ide tersebut diberikan langsung oleh guru dari MAN 2 Ketapang, dan ternyata setelah kami perdalam Syekh Maghribi memang salah satu ulama besar di Tanah Kayong,” paparnya Jumat, (4/9).

Ini bukanlah film pertama yang diproduksi Suryadi dan kawan-kawan. Bahkan di kanal Youtubenya, cukup banyak garapan film yang ditampilkan dan bisa ditonton. Sudah beberapa kali pula mereka mengikuti lomba film pendek. Baru kali ini, film yang salah satu lokasinya di Kerajaan Matan Tanjungpura ini berhasil menjadi juara. “Sudah beberapa kali ikut lomba baru film ini yang menang,” timpalnya.

Beragam kendala dan tantangan dalam produksi film  yang naskahnya ditulis Hariansyah Dodi Wahyuda ini. Mulai dari naskah cerita, hingga minimnya literatur tentang Syekh Al-Maghribi. Mereka pun harus menentukan lokasi syuting yang bisa merepresentasikan lini masa pada abad yang sesuai dengan masa hidup tokoh yang difilmkan.

“Naskah cerita yang tepat juga menjadi halangan yang cukup berat di awal-awal praproduksi film ini,” ulas Suryadi yang dalam produksi film ini menjadi kameramen dan editor bersama Fajar Febrian dan  Ilma.

Sementara dari sisi pemain, tidak begitu kesulitan . Bakat-bakat siswa-siswi dari MAN 2 Ketapang dalam berakting pun terasah di film ini.  Bahkan kehadiran mereka  menambah suasana film menjadi lebih hidup. Jumlah pemain dari film ini sekitar 25 orang.

“Setting lokasi syuting hari pertama kami lakukan di kerajaan Matan Tanjungpura di mana kami mengambil adegan kedatangan Syekh Maghribi beserta penyambutan dari Raja Tanjungpura,” ulasnya.

Hari ke dua tim ini berfokus pada adegan suasana desa. Mereka melakukan syuting pada ladang yang berada di daerah padang, ketapang.  Sedangkan di hari ke tiga syuting dilakukan di Sapu Jagad. “Di Sapu Jagad ini untuk mengambil adegan kedatangan jurnalis, Syekh Maghribi mengajar, beserta kesehariannya,” ungkapnya.

Lalu tidak jauh dari sana, mereka  pergi ke Makam Tanjungpura untuk mengambil adegan cerita akhir pada film ini.   Seorang Jurnalis ini  di bawa ke makam Syekh Maghribi.

Suryadi dan tim berterima kasih atas dukungan terbesar dari MAN 2 Ketapang, Kantor Kemenag Ketapang dan masyarakat ketapang pada umumnya. “Kami tidak menyangka bisa menjadi juara, mengingat banyak halangan yang terjadi selama proses produksi,” jelasnya yang menambahkan dalam produksi film juga didukung teknisi audio dan Perlengapan Eggi Guntara, Yahya Komarudin, tata rias Syarifah Nurhalisa dan Pilot pesawat tanpa awak, Pian.

Namun ternyata upaya mereka membuahkan hasil yang terbaik. Harapannya film ini dapat menjadi rujukan masyarakat Ketapang untuk mengetahui sejarah dari tanahnya sendiri. “Sedangkan untuk di tingkat nasional kami berharap film kami dapat bersaing dengan film-film lain, dan semoga juga dapat memenangkannya,” pungkasnya. (*)

 

error: Content is protected !!