Firasat Penyelam Hingga Hujan Panas Saat Penemuan Meriam di Sambas

Meriam yang ditemukan para penyelam tradisional di Sungai Sambas. foto Fahrozi

SAMBAS – Sambas baru saja dihebohkan dengan ditemukannya Meriam sepanjang kurang lebih 2,40 meter dan berat sekitar 3,1 Ton. Meriam tersebut, pertama kali ditemukan warga yang bekerja sebagai penyelam mencari balog atau kayu bulan di dasar sungai. Mereka adalah Herman, Alim dan Misno, yang awalnya seperti mendapat firasat sebelum mendapatkan benda tersebut.

“Kami satu rombongan sekitar sepuluh orang, pada Rabu (20/11) mencari kayu di dasar sungai Tangga Emas, tiga orang yakni saya (Herman), Alim dan Misno yang menyelam, sisanya berjaga diatas,” kata Herman, Kamis (21/11) saat di Keraton Sambas ikut mengantarkan meriam.

Saat menyelam itulah, mereka mendapatkan semacam kayu bulat, tapi setelah diraba didalam air, diyakini itu bukan kayu melainkan meriam.

“Kan pernah melihat meriam yang ada di Keraton Sambas, jadi tahu dan saya yakin yang kami dapat itu bukan kayu bulat tapi meriam,” katanya.

Mereka pun akhirnya menyampaikan temuan itu kepada kawan-kawannya.

“Waktu itu terjadi hujan panas, kemudian reda kalau tak salah itu sekitar pukul 16.00 WIB, kami berusaha menaikkan meriam itu, awalnya gagal,” kata Herman.

Kemudian sekitar pukul 18.00 WIB atau waktu adzan maghrib, meriam mulai bisa naik ke permukaan air.

“Seperti ada firasat, kemudian kami dan masyarakat Sungsung, menabur beras saat diantarkan ke Keraton pada Kamis (21/11) dan selesai diletakkan di halaman keraton pas adzan Dzuhur,” katanya.

Kerabat Keraton, Urai Riza Fahmi SPd MPd menyebutkan setelah mendapatkan meriam, warga ada yang menyampaikan ke Keraton Sambas. Dan setelah dilihat, memang itu “kawan” nya meriam-meriam yang sudah ditemukan yang diantaranya telah berada di Keraton.

“Ada sedikit ritual dalam kegiatan pengambilan meriam itu, sebelum akhirnya sampai ke Keraton Sambas,” katanya.

Diceritakan Urai Reza yang menjabat Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sambas ini, meriam yang ditemukan peninggalan dari masa Kerajaan Sambas saat diserang tentara Inggris.

“Inggris pernah menyerang Sambas, pada 1812 dan pada 1813, kita kalah total bahkan Sultan Sambas ke 7, yakni Abu Bakar Tajudin II pergi ke Senujuh dan sampai wafat disana (Senujuh). Dan ini (meriam) merupakan peninggalan-peninggalan kerajaan Sambas yang saat itu tidak mampu menahan kecanggihan senjata Inggris ketika menjajah,” katanya.

Berkaitan dengan lokasi ditemukan meriam, yakni di Sungai Dusun Tangga Emas. Karena wilayah itu termasuk benteng pertahanan Kerajaan Sambas.

“Di sepanjang Sungai Sambas Kecil adalah benteng pasukan kerajaan. Tentara Inggris pada 1812 tak bisa melewati benteng itu, bahkan masuk ke Keraton, mereka (inggris) tak lewat Sungai Sambas Kecil, tapi melalui Sungai kartiasa, Sungai Betung kemudian tembus ke Kampung Lorong, baru ke Keraton Sambas. Selama melewati (benteng) itu, kapal-kapal inggris dan pasukan banyak meninggal disitu,” katanya.

Sehingga meriam yang ditemukan menjadi bukti Kerajaan Sambas di bawah Sultan Abubakar Tajudin I pada waktu perang melawan Inggris. Sementara meriam-meriam lainnya, yang merupakan senjata pasukan Sambas, sebelumnya juga sudah didapat.

“Disimpan di Keraton Sambas, karena ada “kawan-kawan” meriam yang terlebih dahulu didapatkan, bentuknya sama hanya berbeda ukuran. Dan kemungkinan masih ada yang lain, karena sebelumnya meriam seperti ini juga didapatkan di Sebawi, lebih kecil bentuknya, kemudian di Manggis ada satu, karena memang sepanjang Sungai Sambas Kecil tempat bertahan, ndak bisa tembus, 1813 inggris baru bisa masuk Lewat Kartiasa, Sambas mengalami kekalahan, habis rata, Kampung Hangus sempat dibakar makanya disebut Kampung Hangus,” katanya. (fah)

error: Content is protected !!