Fisioterapi Setelah Amputasi

Beberapa pasien pasca-amputasi yang mendapatkan anggota tubuh palsu perlu menjalani rehabilitasi. Salah satunya dengan fisioterapi. Sebab, tak secara otomatis langsung dapat menyesuaikan dengan anggota tubuh palsunya.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Amputasi merupakan tindakan terakhir manakala tidak ada metode lainnya untuk memperbaiki anggota tubuh yang rusak atau dengan pertimbangan adanya risiko membahayakan nyawa maupun akan merusak bagian tubuh lainnya. Saat mengalami amputasi, penting untuk beradaptasi dengan kondisi fisik yang baru saja kehilangan bagian anggota tubuhnya. Salah satunya dengan melakukan fisioterapi.

Fisioterapi merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada seseorang (individu) dan atau kelompok, termasuk untuk mengembangkan, memelihara, memulihkan gerak, dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual.

Fisioterapis RSUD Dr. Soedarso, Agustinus Hendro Ellyantoro, S.ST, FT mengatakan fisioterapi dapat memberi manfaat terhadap rehabilitasi pasca-amputasi. Tentunya dengan cara bertahap. Tujuannya, agar membuat pasien dapat menyesuaikan anggota tubuhnya yang diamputasi. Termasuk menggunakan anggota tubuh palsu. Fisioterapi dilakukan berdasarkan pada kebutuhan dan kemampuan pasien.

Hendro menuturkan pelayanan fisioterapi pada penyandang amputasi, khususnya amputasi anggota gerak sangat penting. Khususnya dalam mempersiapkan kebugaran tubuh dalam menggunakan prothese atau alat bantu lainnya. Kemudian, agar stump atau bagian ujung amputasi siap menggunakan alat bantu (prothese). Misalnya, kekuatan otot, kepadatan stump. Pasien mampu beradaptasi menggunakan alat bantu.

“Serta, agar pasien mampu mandiri dalam aktivitas fungsional dan aktivitas keseharian, dan bahkan aktivitas prestasi (atlet),” ujarnya.

Hendro menjelaskan dampak buruk yang bisa saja terjadi jika fisioterapi tak dilakukan pasca-amputasi dapat menyebabkan kelemahan otot, pemendekan otot, perubahan prostur (scoliosis), kesulitan dalam adaptasi penggunaan protese, dan keterlambatan dalam pemulihan kemandirian kemampuan aktivitas.

Fisioterapi diberikan dalam bentuk elektroterapi. Misalnya infra red, diathermi, TENS, laser atau lainnya. Bentuk latihannya meliputi latihan kebugaran, latihan peregangan otot (stretching), latihan penguatan otot (strengthening), latihan berjalan (gait training), latihan penggunaan alat bantu dan latihan aktivitas keseharian, atau latihan yang merujuk pada lomba maupun skill.

“Baik anak-anak maupun dewasa, teknik fisioterapi yang diberikan sama. Pendekatannya saja yang sedikit berbeda,” tutur Hendro.

Hendro menambahkan lamanya proses fisioterapi sangat tergantung pada kesembuhan luka, semangat latihan, dan kebugaran tubuh pasien. Terkadang proses fisioterapi bisa memakan waktu lebih dari enam bulan hingga mahir menggunakan alat bantu (prothese). **

loading...