Fisioterapi untuk Motorik Buah Hati

Setiap orang tua ingin buah hatinya tumbuh dan berkembang optimal. Namun, ada juga anak yang mengalami keterlambatan tumbuh kembangnya. Salah satunya motorik. Fisioterapi menjadi salah satu cara untuk mengatasinya.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Fisioterapi umumnya dilakukan oleh orang dewasa yang mengalami gangguan fungsi alat gerak. Namun, ternyata prosedur medis ini juga bisa dilakukan untuk bayi, balita, maupun anak-anak dengan masalah yang sama.

Contohnya, fisioterapi dapat dilakukan untuk bayi berusia enam bulan yang belum bisa tengkurap atau anak yang sudah berusia lebih dari satu tahun, tetapi belum bisa berbicara. Kondisi ini dikenal dengan keterlambatan tumbuh kembang.

Fisioterapis Agustinus Hendro Ellyantoro, S.Si, FT menjelaskan umumnya keterlambatan tumbuh kembang yang menjadi bidang garapan pelayanan fisioterapi adalah keterlambatan motorik (gerak atau fungsi).

Adapun contoh keterlambatan motorik, yakni lambat untuk tegak kepala, lambat duduk, gangguan keseimbangan berdiri atau lambat berjalan. Atau, bisa juga keterlambatan tumbuh kembang oleh karena kasus patologis.

“Contohnya, pada kasus cerebral palsy, down’ syndrome, erb’s paralisis dan lainnya,” kata Agustinus.

Fisioterapis di RSUD Dr. Soedarso Pontianak ini menuturkan pelayanan fisioterapi dapat diberikan setelah dilakukan deteksi dini bahwa bayi atau balita mengalami indikasi keterlambatan tumbuh kembang. Seperti adanya ketidaksesuaian usia dengan kemampuan gerak kasar atau halus (walau pada awalnya kadang tidak tampak perbedaan yang mencolok), ataupun adanya refleks yang muncul tidak sesuai dengan usia perkembangan refleks yang seharusnya. Selain itu, juga kurangnya inisiatif gerak atau ketertarikan terhadap stimulan, adanya penurunan berat badan atau perbedaan  ukuran lingkar kepala dari yang normal, serta terkadang ditemukan adanya keterbatasan perbendaharaan kata.

Agustinus menyatakan teknik layanan yang biasa diberikan untuk kasus keterlambatan tumbuh kembang ini adalah stimulasi, fasilitasi, inhibisi, dan sensori integrasi. Tujuannya menstimulasi gerak anak jika belum menemukan pola geraknya. Memfasilitasi gerak anak, jika sudah ada pola gerak namun belum adekuat (memadai). Serta, menginhibisi gerak yang patologis atau untuk mengintegrasikan atau mengsinkronkan gerak motorik dengan sensoriknya.

Fisioterapis di RS Anugerah Bunda Khatulistiwa ini mengungkapkan bentuk terapinya sendiri adalah terapi latihan, dengan berbagai macam metode penyebutan. Contoh, metode bobath pada anak, PNF, dan Neuro structure.

“Ada juga metode neuro structure sensori integrasi dan sinkronisasi, baby sport, pijat bayi, hidroterapi, therapy with play dan lainnya,” ungkap Agustinus.

Agustinus menambahkan karena kasusnya hanya keterlambatan tumbuh kembang, sehingga tidak terlalu perlu latihan spesifik. Kecuali permasalahan tumbuh kembangnya masuk dalam kasus patologis, seperti cerebral palsy, post meningitis, dan kecacatan anak.

 

Layanan terapi sendiri diberikan selama 30 menit sampai satu jam. Capaian terapi umumnya dipengaruhi oleh kondisi awal pemeriksaan. “Beberapa literatur berpendapat, kalau usia dua tahun bisa duduk, umumnya berjalan akan bisa,” tutur Agustinus.

Agustinus menambahkan tidak ada kata terlambat untuk memberikan fisioterapis yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Karena indikator sembuh dalam kasus keterlambatan tumbuh kembang ini adalah kesesuaian kemampuan gerak dan fungsi dengan usia, bukan secara medik.

“Artinya penyakitnya bisa saja sembuh, tapi geraknya mungkin masih membutuhkan pemulihan,” jelas Agustinus.

Prognosis kasus keterlambatan tumbuh kembang biasanya baik. “Kecuali keterlambatan oleh karena kasus patologi, artinya mungkin bisa saja bersifat maintenance jika kasusnya berat. Dalam hal ini tujuan fisioterapi adalah mencegah penurunan kemampuan gerak dan kecacatan sekunder atau komplikasi,” tambahnya.

Agustinus menambahkan jika keterlambatan tumbuh kembang dibiarkan atau tidak disadari orang tua, bisa berdampak buruk. Anak akan semakin terlambat geraknya.

“Tentu saja ini akan memengaruhi perkembangan lainnya. Bisa juga terjadi adanya kecacatan jika keterlambatan tumbuh kembang itu adalah gejala awal adanya kelainan patologis,” pungkas Agustinus. **

 

error: Content is protected !!