Fisioterapi untuk Penderita Bell’s Palsy

Bell’s palsy adalah kelumpuhan pada otot wajah yang menyebabkan salah satu sisi wajah tampak ‘melorot’. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba, tapi biasanya tidak bersifat permanen. Berbagai tindakan dapat dilakukan untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah timbulnya komplikasi. Salah satunya dengan fisioterapi.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Penyakit bell’s palsy bisa terjadi pada usia berapa pun. Namun, lebih sering terjadi pada orang-orang berusia 15 hingga 60 tahun. Hingga saat ini penyebab bell’s palsy belum diketahui. Bell’s palsy cenderung terjadi secara tiba-tiba. Biasanya dimulai dengan timbulnya rasa nyeri di belakang telinga yang mendahului kelumpuhan.

Kondisi inilah yang sempat dialami Andhika. Pria berusia 28 tahun sempat mengalami bell’s palsy pada tahun 2017. Ketika sedang melakukan survei di lapangan untuk kebutuhan tugas kantornya, tiba-tiba Andhika merasa sangat nyeri dan sakit di bagian kepala. Padahal saat berangkat dia dalam keadaan sehat dan tidak terasa apapun.

Rasa nyeri dan sakit yang tidak tertahan membuatnya beristirahat sejenak. Sayang, belum sempat mengistirahatkan tubuh untuk meredakan rasa nyeri dan sakit, Andhika justru dikagetkan dengan perubahan pada bagian wajahnya saat melewati cermin di sudut ruangan. Saat itu, bibirnya terlihat miring ke sebelah kiri. Mata kanannya juga sedikit menutup dengan letak alis yang tidak seimbang.

Dia segara memeriksakan diri ke dokter spesialis saraf. Andhika didiagnosa menderita bell’s palsy. Perubahan pada wajahnya sempat membuat Andhika kurang percaya diri. Tetapi, dukungan seluruh keluarga memulihkan kondisi mentalnya.

Atas saran dokter, Andhika menjalani fisioterapi yang meliputi stimulasi electrics, massage dan latihan otot wajah. Saat awal pengobatan, terapi dilakukan setiap hari selama 30 menit. Setelah satu tahun satu setengah tahun menjalani terapi, perlahan rasa kaku dan bibir yang miring mulai menghilang. Perlahan tapi pasti Andhika mulai sembuh.

Banyak orang menganggap bell’s palsy adalah stroke karena gejalanya serupa, yakni kelumpuhan. Padahal, kedua penyakit tersebut jelas berbeda. Bell’s palsy terjadi karena saraf yang mengendalikan otot wajah mengalami peradangan. Peradangan inilah yang menyebabkan sebagian atau seluruh saraf terhimpit, sehingga otot yang tersambung dengan saraf berhenti bekerja.

Fisioterapis Agustinus Hendro Ellyantoro, S.ST., FT, mengatakan fisioterapi diberikan pada pasien bell’s palsy pada fase awal.

“Lebih baik sebelum tiga bulan atau paling lambat enam bulan sebelum terjadi kerusakan permanen,” ujarnya.

Tujuan fisioterapi adalah untuk menghindari kelumpuhan permanen yang bisa saja terjadi, jika tidak segera ditangani. Selain itu, untuk mempertahankan fisiologis otot, memperbaiki gerak otot dan memperbaiki fungsional wajah melalui simetrisitas kekuatan otot wajah penderita bell’s palsy tersebut.

Fisioterapis di RSUD Dr. Soedarso Pontianak ini menuturkan konsep pelayanan fisioterapi pada penderita bell’s palsy adalah stimulasi gerak otot wajah sisi lesi (lumpuh) agar bisa bergerak simetris dengan sisi yang sehat. Pada fase awal serangan, bisa bertujuan mengurangi dan menyembuhkan peradangan yang terjadi pada saraf wajah.

“Fisioterapi sendiri diberikan setiap hari atau dua hari sekali. Setiap bisa dilakukan selama 30 menit sampai satu jam. Evaluasi periodik setiap delapan atau 10 kali,” tutur Agustinus.

Seringkali orang mengabaikan saat terserang bell’s palsy. Sebagian beranggapan gejala yang diderita hanya sekadar otot saraf yang menegang. Cukup didiamkan beberapa saat, bagian wajah yang terserang akan kembali seperti sedia kala. Tetapi, menurut Agustinus, hal ini justru akan berakibat buruk pada penderita bell’s palsy itu sendiri.

“Dampak buruk yang bisa saja terjadi dapat berupa kelumpuhan permanen atau proses pemulihan yang lambat,” katanya.

Agustinus menjelaskan penyembuhan melalui fisioterapi yang diberikan dapat berupa infra red, ultrasound therapy, stimulasi electrics, massage dan latihan otot wajah. Gerakan yang diberikan berupa gerak stimulasi pada sisi yang sakit dan relaksasi pada sisi yang sehat. Kemudian, melakukan gerakan meniup, kumur-kumur, bersiul dan latihan di depan cermin.

“Gerakan fisioterapi yang diberikan tidak tergantung usia, melainkan berdasarkan penilaian kekuatan otot wajah,” tutup Agustinus. **

loading...