Gagal Menjadi Pendidik

Aswandi

Oleh: Aswandi*

PENDIDIK dimaksud pada opini ini adalah guru dan dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dikutip dari UU RI No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Beberapa hari lalu, Prof. Dr. Effendy Gazali menyatakan mengundurkan diri sebagai dosen Universitas Indonesia (UI) dan guru besar (profesor) komunikasi politik Universitas Prof. Dr. Moetopo Beragama.

Ia menyampaikan alasan pengunduran diri dari dosen dan guru besar tersebut karena merasa telah gagal menjadi pendidik dan/atau pengajar jurnalistik dan ilmu komunikasi politik yang telah digelutinya lebih dari 20 (dua puluh) tahun.

Ia menilai belakangan ini sejumlah media kurang menaati kode etik jurnalistik. Indikasinya terlihat jelas pada saat melakukan wawancara dan penulisan berita. Satu permintaannya, agar sikap mengunduran diri beliau jangan dikait-kaitkan dengan Universitas Indonesia dan Universitas Prof. Dr. Moestopo, dikutip dari Liputan 6, 1 April 2021.

Dr. Leo Sutrisno, pernah menjadi dosen tetap FKIP Untan. Ia adalah guru penulis membagi pengalamannya sebagaimana kisah singkat berikut ini. “Ada pimpinan sekolah marah, sampai menyobek kertas pekerjaan siswa karena siswa tersebut tertangkap basah nyontek. Suara kemarahannya terdengar nyaring sehingga diketahui oleh banyak kelas di sekitarnya; Pimpinan sekolah tersebut langsung membatalkan semua ulangan yang telah diikuti sebelumnya, dan siswa yang tertangkap nyontek diharuskan mengikuti ulangan susulan.”

Ada juga siswa yang memasang alat penyadap rapat kelulusan, tetapi siswa tersebut datang mengakui kesalahannya. Di depan siswa, kepala sekolah berkata, “Sebentar lagi saya mau pensiun. Saya merasa gagal menjadi pendidik karena tidak mampu mendidik kalian dengan baik, saya merasa malu sekali”. Semua orang tahu sekolah yang dipimpinnya adalah SMA Swasta terbaik di kota itu.

Kepala sekolah bicara sangat singkat. Setelah itu upacara dibubarkan. Selang beberapa hari kemudian, siswa yang terlibat itu datang atas kemauannya sendiri, menyadari dan mengakui kesalahannya”.

Gagal menjadi pendidik tidak semata-mata dilihat dari output/outcome yang dihasilkannya, melainkan juga dapat dilihat dari proses pendidikannya. Pendidik mengetahui, ada praktik menyontek, plagiat dan kejahatan akademik lainnya yang membawa bau busuk di lingkungan sekolah dan kampusnya, namun di antara mereka bersitegang sambil menikmati bau busuk tersebut secara bersama-sama. Dua orang pendidik kolega penulis, menyatakan tidak bersedia mengajar dan/atau membimbing peserta didiknya.

Sikap tidak bersedia mengajar dan/atau membimbing itu bukan karena mereka telah gagal menjadi seorang pendidik. Sebaliknya, itu karena dua orang pendidik tersebut memiliki integritas keilmuan yang sangat tinggi, muak melihat pembiaran praktik pelanggaran etika akademik yang membusuk di sekitarnya. Penulis sangat apresiasi dan bangga kepada dua orang kolega pendidik tersebut.

Jika menggunakan parameter pendidik profesional bagi guru, yakni mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dan parameter pendidik profesional dan ilmuan bagi dosen, yakni mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, penulis yakin bahwa banyak guru dan dosen dinyatakan telah gagal menjadi pendidik.

Agar di kemudian hari, kita yang saat ini telah memilih profesi sebagai pendidik, baik profesi guru maupun profesi dosen tidak tergolong kepada “Gagal Menjadi Pendidik”, maka dalam banyak kesempatan, penulis tidak bosan-bosannya mengingatkan terutama kepada diri sendiri bahwa seorang pendidik harus memiliki integritas yang kuat yakni beradab dan bermartabat.

Jika seorang pendidik memiliki integritas yang lemah, berarti ia telah kehilangan hak moral untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang pendidik. Selain menjaga integritas, setiap pendidik selalu siap mengembangkan keprofesionalannya secara berkelanjutan, baik yang dilakukan atas inisiatif institusi maupun dilakukannya secara mandiri.

Semestinya, kita malu kepada para pendidik berikut ini,: (1) Sichan, beliau adalah seorang relawan yang hanya berpendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun memiliki kepedulian yang tinggi terhadap anak-anak jalanan. Ia selenggarakan pendidikan untuk 200 anak jalanan di bawah kolong jembatan, belajar sambil duduk di atas hamparan kardus.

Singkat cerita sebanyak 196 orang anak didiknya setelah dewasa menjadi orang sukses di Amerika Serikat, hanya sebanyak 4 (empat) orang saja dari 200 siswanya yang tidak berhasil. Ketika banyak orang ingin belajar mendidik anak kepadanya, ia selalu mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang guru biasa. Namun orang lain, termasuk para pakar pendidikan mengatakan bahwa ia adalah guru luar biasa.

Akhirnya, ia mengatakan kiat sukses mendidik siswanya adalah “Mendidik dengan Cinta Kasih” atau “Mendidik dengan Kasih Sayang”; (2) Zulivan adalah seorang suster yang berhasil mengasuh Helen Keller (seorang anak manusia dari sejak berumur 17 bulan dinyatakan buta, tuli secara total dan hiperaktif) mencapai cita-cita menjadi perempuan pertama meraih prestasi akademik tertinggi (doctor) dengan sempurna atau pujian dari sebuah perguruan tinggi ternama (prestisius) di dunia Harvard University; (3) Torey Hayden seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) berhasil mengubah perilaku siswanya Shela dari anak tidak normal menjadi anak normal dan berhasil mengasuhnya mencapai prestasi akademik tertinggi; (4) Muslimah, seorang guru tamatan SMP Kejuruan mengajar di Sekolah Laskar Pelangi Bangka Belitung berhasil mengantarkan para siswanya mencapai cita-citanya; dan (5) Seorang guru Sekolah Dasar di Sumedang, belum lama diangkat menjadi guru, beliau dinyatakan mengidap penyakit lumpuh yang mematikan. Kuasa Allah SWT, ia panjang umur hingga mencapai usia pensiun.

Selama sakit, ibu guru ini tidak pernah absen mengajar dari tempat pembaringannya, dan murid-muridnya sangat senang belajar di sampingnya. Ia telah menginspirasi banyak murid untuk menjadi anak yang berguna bagi orang tua, bangsa dan negaranya.

Sedikit bukti, sosok guru yang tangannya membawa berkah ini, dengan segala kezuhudan dan kesederhanaanya tidak pernah merasa gagal menjadi seorang pendidik di mana mereka telah melahirkan manusia unggul yang menjadi inspirator bagi generasi-generasi berikutnya, Alhamdulillah, Segala Puji BagiMu Ya Allah. 

*Dosen FKIP Untan

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!