Gawai Untuk Pelajar Tangguh.

Umilda memperlihatkan gawainya untuk kegiatan belajar daring online selama masa Pagebluk Covid-19.

Awan tebal menggelayut di atas langit. Waktu masih begitu pagi. Putaran jarum jam di dinding, baru menunjukan pukul 06.22 Waktu Indonesia Barat. Sudah jadi kebiasaan, siswa- siswi bertandang ke sekolah setiap hari. Namun, saat Pagebluk Covid-19 datang, proses belajar mengajar tatap muka terhenti. Yang ada sekarang, belajar jalur daring (dalam jaringan) dari rumah. Para siswa harus memiliki gadget untuk belajar online. Bagaimana dengan mereka yang tidak punya gadget? Berikut ini kisahnya.

Deny Hamdani, Kubu Raya

Seorang perempuan kecil tengah berlari terburu-buru. Berseragam sekolah lengkap, dipadu kerudung biru dengan alas kaki sepatu hitam pekat, gadis belia ini seperti dikejar sesuatu. Dipundaknya, tas sekolah yang warnanya sedikit memudar bersama buku-buku mata pelajaran setia menemani setiap waktu. Di tengah ketergesaan, rupanya pelajar cilik ini berniat menghadiri kegiatan persekolahan.

Nama pelajar tersebut adalah Umilda. Dia duduk di kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Umilda datang untuk mengikuti proses belajar mengajar dalam kelas di tengah Pagebluk Covid-19. Dia ke sekolah karena tidak punya akses online lewat gawai pribadi. “Alhamdulilah sudah datang lebih awal,” jawab Karmila saat disapa gurunya di sekolah beberapa waktu lalu.

Umilda memang belajar luring alias tatap muka di bangku sekolah. Dia terpaksa melakukannya, karena tidak memiliki gadget. Bagi ukuran keluarganya, harga gawai model lama pun terlampau mahal. Jadilah, hampir setiap hari sejak Juni 2020 lalu, aktivitasnya bersekolah seperti biasa. Umilda datang, duduk, dan mengikuti mata pelajaran yang disampaikan guru. “Anaknya memang tipe pekerja keras,” kata Hajjah Nur, salah satu gurunya di sekolah.

Semangat Umilda menuntut ilmu patut diapresiasi. Dia mengesampingkan rasa canggung dan malu agar dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Meski nasibnya tidak seberuntung teman-temannya, yang mulus mengikuti sistem belajar daring online dari rumah, namun jangan tanya cita-citanya. Pelajar berusia 15 tahun tersebut menuntut ilmu, demi mengejar keinginan sederhananya. “Mau jadi orang berguna saja dan bisa membantu orang tua,” katanya saat ditanya media harian ini.

Selama belajar di sekolah, Umilda tidak jarang kepikirankehidupan keluarganya. Maklum hidup di lingkungan terbatas, keluarganya harus terbiasa menyiasati apapun secara sederhana. Kantong orang tuanya memang tidak bisa dipaksa mencukupi membeli gadget baru. Keluarga Umilda lebih membutuhkan makan, minum, dan kebutuhan lain di masa Pagebluk Covid-19 ini.

Ayah Umilda juga bekerja di bidang kebanyakan orang. Hanya buruh serabutan biasa. Menjadi pekerja bangunan, juga berjualan bensin eceran. Kondisi beberapa  waktu belakangan, terpaksa tidak bekerja akibat sakit. Pun saat Pagebluk Covid-19 mendera, uang tabungan harus terpakai untuk menutupi biaya hidup keluarga.

Ibu Umilda sendiri, tak lagi bekerja akibat dirumahkan perusahaan. Otomatis sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Karena pemasukan sedang kosong, segala sesuatu dalam rumah ikut terbatas. Bagi keluarganya, cukup makan saja sudah “Alhamdulillah”.

Memang beberapa waktu sebelumnya, setiap pagi, aktivitas Umilda belajar cukup tinggi. Setiap hari di tengah kabar pandemi Covid-19 menderu, Umilda berangkat sekolah, terkecuali hari libur. Tujuannya ke sekolah supaya dapat meminjam fasilitas komputer atau laptop sekolah, yang memang tersambung internet.

Umilda sendiri bersekolah dengan berjalan kaki. Jarak tempuh dari rumahnya menuju SMPN 1 Sungai Raya lumayan jauh. Sekitar 700 sampai 800 meter. Baginya, jarak tersebut cenderung dekat. Makanya, dia lolos mendaftar PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) dari jalur zonasi.

Belajar dengan penuh perjuangan sudah dirasakan pelajar tangguh ini. Bagi Umilda, bersekolah di masa Pagebluk Covid-19 seperti hari-hari biasa, sebelum wabah asal Wuhan China ini, masuk Indonesia dan Kalimantan Barat. Dia sendiri tidak terlalu menghiraukan. Namun di sekolah, masker selalu dibawanya dari rumah. Meski belajar tatap muka, Umilda selalu mematuhi protokol kesehatan (prokes) pemerintah.

Di kala sepi membunuh waktu, pelajar cilik ini sering termenung. Yakni, memikirkan bagaimana gadget impian untuk belajar terwujud. Tidak jarang, melihat gawai punya teman, dirinya sering minder dalam bergaul. Akan tetapi, bukan pada semangatnya untuk belajar. Bagi Umilda, zaman Pagebluk Covid-19, gadget sudah seperti menjadi kebutuhan pokok para pelajar. Itulah gambaran sekelumit cerita perjuangan Umilda selama beberapa waktu sebelumnya.

Namun sekarang, wajahnya sudah berseri-seri. Keinginan memiliki gadget ternyata dikabulkan tuhan. Berkat tangan dingin komunitas bernama Masyarakat Peduli Sesama (MPS), gawai impiannya sudah bisa diutak-atik. Tidak hanya untuk belajar, bermain di kala senggang juga bisa dinikmatinya. “Suka sekali dengan handphone ini. Alhamdulilah,banyak nomor kawan-kawan sudah saya simpan,” ucap Umilda dengan wajah berseri sambil memperlihatkan gadgetnya.

Walaupun beberapa waktu lalu sudah memiliki Gadget, namun Umilda tetap bertandang ke sekolah hingga sekarang. Dia selalu membawa gawainya agar dapat belajar dan berhubungan dengan fasilitas wifi sekolah. Berselancar dalam dunia maya di lingkungan sekolah, tetap membuatnya dapat membuka pengetahuan dunia tentang apapun. ”Pakai wifi sekolah, cukup lancar saya akses belajar online dan mencari tahu tentang apapun menyangkut hal belajar,” ucap dia.

Gebrakan Relawan MPS

Kabar Umilda datang ke sekolah karena tak punya gadget, sebenarnya berasal dari sebuah komunitas sosial biasa. Komunitas yang dibentuk sukarela menyampaikan ke anggotanya. Bahwa, ada satu anak pelajar layak dibelikan gawai untuk membantu kegiatan belajar online dari rumah di tengah Pagebluk Covid-19.

Dia pun meminta anggota komunitas dekat rumah Umilda mengecek kehidupan anak ini. Kebetulan operasi komunitas ini berada di desa sekitar. Berdasarkan pengamatan, wawancara, dan evaluasi tim, tidak mungkin keluarganya bisa membeli gawai baru. Dari profiling tersebutlah, maka layak masuk kategori. Para Donatur MPS langsung bergerak.

“Akhirnya, kami royongan mengeluarkan dana dari dompet pribadi masing-masing,” kata Bowo, penasehat didampingi Iwan Kurniawan, Ketua MPS di tempat mangkalnya bercerita.

Wajah SMP Negeri 1 Sungai Raya, tempat Umilda bertandang ke sekolah meski di tengah Pagebluk Covid-19.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dana terkumpul memang sifatnya sukarela saja. Dari kocek pribadi pengurus dan sukarelawan. Ada yang menyumbang Rp20 ribu, 50 ribu, 100 ribu, bahkan Rp200 ribu. Semuanya terkumpul menjadi satu. Uang tersebut langsung dibelikan gadget secara royongan.

Sebelumnya, salah satu anggota komunitas dengan rejeki lebih, berniat menalangi keseluruhan dana untuk membelikan gawai tanpa melibatkan uang terkumpul. Namun, karena sifatnya bergotong-royong, maka dana anggota terkumpul sukarela yang diutamakan.

“Waktu itu terkumpul sekitar ratusan ribu. Akhirnya, kami pun bertandang ke toko smartphone dan membeli handphone second (bekas), tapi kondisinya masih bagus,” ucap Bowo. “Setelah dibelikan. Hari itu juga, kami langsung serahkan ke anak ini, lengkap bersama kartu dan kuota internet bulanan. Seandainya kuota anak tersebut habis, kami siap royongan lagi membelikan paket kuota,” sambungnya.

Komunitas MPS belum setahun berdiri. Awal Maret 2020 dan dibentuk secara dadakan. Anggotanya terdiri dari beragam pekerja. Ada polisi aktiv, pensiunan TNI AD, penjual sparepart gadget, pedagang toko bangunan, pemblukar tanah, penjual buah, pedagang kelontong, pemain proyek pemerintah sampai mahasiswa.

Hampir semua umur, dari anak muda sampai orang tua, bergabung demi berburu pahala. Lokasi tempat mangkalnya juga sederhana, bekas pos pengamanan perusahaan air minum lokal di Desa Arang Limbung. Terkadang juga di warung buah atau warung kopi.

Dipercaya sebagai penasehat komunitas, Bowo sendiri berprofesi sebagai polisi dari kesatuan Polsek Sungai Raya. Specialisnya memang di bidang keintelan di lapangan. Berkat pembawaannya yang supel, Bowo dikenal memiliki banyak kawan-kawan di lapangan. Pencetus komunitas MPS, berasal dari pemikirannya. Tujuannya juga membantu orang-orang kategori layak dibantu, siapapun dia tanpa terkecuali.

Aktivitas MPS tidak hanya membantu Umilda seorang saja. Sebelumnya, sudah ada beberapa kegiatan positif dilakukan. Tidak sedikit warga kategori layak dibantu merasakan tangan dinginnya. Data validnya kebetulan dari Babinkamtibnas Polsek. Dari data tersebut, bantuan disalurkan cenderung tepat sasaran. Anggota polisi bernama Uda bersama relawan bahkan hampir setiap hari Jum’at, rela mengantarkan paket sembako sampai ke daerah terujung dan desa tetangga, sekalipun.

”Kami melibatkan semua anggota ketika turun. Datanya juga kami catat. Kami foto dan videokan sehingga pertanggungjawabannya benar-benar terdata. Bagi pemberi bantuan juga bisa melihat di medsos facebook MPS. Di dalamnya dijelaskan bahwa dana bantuan tersalur selalu direkam,” kata dia.

MPS sendiri tidak hanya membantu aneka sembako. Pernah dilakukan MPS membantu satu rumah, yang keluarganya tidak memiliki meterangan penerangan listrik PLN dan mesin air. Kebetulan lokasinya berada di Desa Arang Limbung. Setelah didatangi, ternyata kehidupan keluarga tersebut sangat membutuhkan dua alat ini. Akhirnya ada donatur datang membelikan kedua peralatan tersebut. “Langsung kami royongan bekerja dan melibatkan petugas PLN setempat,” ucap Bowo.

Paling parah pernah dilakukan komunitas ini yakni, membantu biaya operasi kepala keluarga tidak mampu. Karena sakit, otomatis tidak bekerja. Biaya dapur tidak ada. Apalagi biaya operasi yang nilainya cukup besar. Karena aktivitas Komunitas MPS, bukan organisasi resmi tercatat di pemerintah, dana utamanya juga terbatas. Namun karena gerakannya murni royongan, ada saja datangnya dana dari donatur tak terduga dan tak bernama. “Mungkin karena dari hati dan kebersamaan di tengah pandemi Covid-19, maka tuhan selalu ikut  membantu kami,” kata dia.

Gerakan MPS sendiri memang membantu tanpa memandang status, suku, agama, ras, dan sosial budaya. Ibaratnya pengamalan lima sila dilakukan dan dipraktekan secara langsung. Jiwa gotong royong tetap dikedepankan. Siapapun kategori penilaian layak dibantu, maka komunitas ini akan kembali royongan menyisihkan sedikit rejeki, membantu warga tak mampu. Makanya, embel-embel tanpa nama menjadi ciri khas komunitas MPS ini. Komunitas ini juga didirikan dari hati dengan semangat kebersamaan.

Sekolah Permudah Siswa-Siswi

Kepala SMPN I Sungai Raya, Slamet Riyadi menyampaikan bahwa pelajar tidak memiliki gadget bukan satu-satunya masalah dampak dari Pagebluk Covid-19 dengan sistem pembelajaran online. Itu karena, masih ada pelajar lain juga mengalami hal serupa. Hanya memang jumlahnya tidak banyak.

Menghadapi pandemi Covid-19, pihak sekolah juga tidak diam. Kebijakan dengan mempersilahkan siswa-siswi belajar ke sekolah diberlakukan, ketika kelonggaran diberlakukan pemerintah. Tidak hanya Umilda saja, ada juga beberapa teman-temannya datang ke sekolah. Apalagi guru-guru tetap masuk seperti biasa, untuk memantau pelajaran murid-muridnya lewat daring online.

SMP Negeri 1 Sungai Raya tetap memperbolehkan pelajar ke sekolah bagi yang tidak memiliki gadget untuk belajar online.

Umumnya pelajar yang datang ke sekolah justru kebalikannya,  memiliki gawai di rumah. Tetapi karena kesibukan orang tua bekerja, gadget tersebut sering di bawa bekerja atau ke kantor. Makanya sebagian memilih tetap bersekolah tetapi dengan berpakaian sopan dan mematuhi protokol kesehatan. “Daripada di rumah benggong, mendingan ke sekolah ikut belajar,” timpal Rahul, pelajar kelas 9 lainnya.

Di masa pagebluk Covid-19, sekolah tetap mengharuskan para guru masuk seperti biasa. Hanya jamnya dibatasi saja. Umilda bisa jadi satu diantara ribuan pelajar dari seluruh Indonesia yang tidak punya gadget untuk belajar online dari rumah, akibat keterbatasan. Walaupun begitu, sekolah tetap memberikan kelonggaran agar proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa.

Kelonggaran tesebut adalah Sekolah menyediakan kapasitas wifi cukup besar. Jaringannya dapat membuat siapapun tersambung. Di sekolah, peralatan laboratorium komputer juga lengkap. Puluhan komputer tersebut tersambung internet antara satu dengan lain. Pelajar yang ingin datang dan memakainya, tak perlu malu atau canggung untuk hadir.

“Silahkan bagi anak-anak yang ingin datang ke sekolah. Datang saja. Asalkan patuhi protokol kesehatan. Cuci tangan, pakai masker, hand sanytizer disiapkan sekolah hingga suhu tubuhnya diukur,” kata Slamet beberapa waktu lalu.

Kepada pelajar tidak punya gadget, pihak sekolah memang memaklumi. Sangat mungkin kebutuhan mencukupi makan adalah paling ideal masa sekarang. Tidak semua orang tua murid, berpenghasilan di atas rata-rata pada masa Pagebluk Covid-19 ini. Namun kalau semua masalah dihadapi dengan bersatu, apapun bisa diatasi.

“Bersatu menghadapi masalah apapun adalah pilihan terbaik. Setiap kesulitan siswa-siswi pasti ada jalan keluarnya. Sekolah akan selalu berusaha memudahkan,” katanya bijak.

SMP Negeri 1 Sungai Raya memang masuk kategori sekolah unggulan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Selain fasilitas gedung besar, jumlah siswa-siswinya juga banyak. Satu ruang kelas saja, hurufnya dari A sampai J. Bahkan sampai L juga ada. Jumlah murid-murid untuk satu ruangan terdiri dari 35 sampai 40 orang.

Terapkan Tiga Metode

Sumber berkompeten Kepala Bidang Pembinaan SMP, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, Syarif Muhammad Firdaus mengatakan bahwa gadget bukanlah model satu-satunya pembelajaran yang dipraktekan di kabupaten terbungsu di Kalimantan Barat ini. “Ada tiga metode atau model yang kami (Disdikbud) Kubu Raya terapkan,” katanya menjawab pertanyaan wartawan.

Relawan Komunitas Masyarakat Peduli Sesama (MPS) yang berada di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya menjelajah dan mendatangi rumah-rumah warga di pelosok desa untuk menyalurkan bantuan aneka sembako dari sumbangan relawan dan donatur termasuk mendatangi rumah Umilda beberapa waktu lalu.

Model pertama di masa Pagebluk Covid-19 adalah full daring (penuh dalam jaringan). Ini diterapkan, kepada sekolah-sekolah (SD dan SMP) yang memiliki fasilitas wifi besar dan anak-anak memiliki mayoritas gadget. “Bisa gawai kepunyaan orang tua, gadget punya pelajar siswa dibelikan sendiri atau komputer tersambung internet di rumah,” ucapnya.

Bagi sekolah yang siswa-siswinya, sama sekali tidak memiliki gadget dan jaringan internet, Disdikbud Kubu Raya mempersilahkan menerapkan metode belajar luring (luar jaringan). Prosesnya dengan metode belajar PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Metode ini diterapkan, dimana orang tua atau wali murid mengambil bahan-bahan pelajaran ke sekolah. Atau bisa juga siswa-siswi dipinjamkan buku perpustakan untuk selanjutnya mengerjakan materi yang sudah diberikan di rumah. “Ini kami, (Disdikbud) sebut metode pembelajaran kedua,” ucap dia.

Kemudian, lanjutnya, metode ketiga yakni sekolah punya fasilitas pendukung untuk pembelajaran daring, baik pendukung di sekolah dengan komputer sekolah atau gadget yang dimiliki siswa-siswi. Disdikbud mempersilahkan mempergunakan model kombinasi. Entah dengan belajar melalui daring atau luring. “Ini metode ketiga,” kata dia.

Firdaus berharap dengan metode-metode yang diterapkan oleh Disdikbud Kubu Raya, proses pembelajaran selama masa Pagebluk Covid-19 tetap berjalan seperti biasa. Sehingga kegiatan persekolahan tetap sukses berjalan di tengah wabah virus corona yang menghantui masyarakat di Kalimantan Barat dan Kubu Raya khususnya. Artinya tiada hari tanpa belajar, meskipun tengah didera Pagebluk Covid-19.

Usul Libatkan Vendor Gadget.

Para pelajar tidak memiliki gadget untuk kegiatan belajar juga menjadi perhatian politisi di DPRD Kalbar. Bagi Komisi V yang membidangi Pendidikan, gawai ibarat kebutuhan pokok di masa Pagebluk Covid-19, untuk kegiatan belajar daring online.

Ketua Komisi V DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Edy R. Yacoeb misalnya, berharap pelajar-pelajar tidak memiliki gadget dibantu negara atau pihak swasta. Misalnya, melibatkan vendor dengan memberikan secara cuma-cuma. “Namanya vendor smartphone pasti untung jualannya sepanjang waktu. Mana ada cerita rugi. Tidak ada salahnya masa Pagebluk Covid-19 membuat gerakan berbagi. Terdengar akan mulia dan terhomat. Bisnis tidak hanya mengejar untung semata, bisa juga diabadikan berbagai pada masa Pagebluk Covid-19 ini,” katanya.

Mantan Wakil Walikota Singkawang ini hanya sekedar memberikan usulan di tengah situasi Pagebluk Covid-19 seperti sekarang. Vendor perusahaan gadget juga memiliki dana CSR (Corporate Social Responsibility) yang biasanya dibagikan setiap tahun. Dana CSR tersebut tentu pada situasi begini dapat diperuntukan kepada siswa-siswi tak punya gadget. “Jelas akan bermanfaat sekali untuk pelajar tidak punya smartphone,” ungkapnya.

Relawan MPS di tempat terjauh dan terujung desa selalu siap hadir.

Guna mendukung gebrakan berbagi gadget kepada pelajar di seluruh Indonesia, bisa saja pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan kota mengusulkan dengan melibatkan seluruh vendor berbagai merek gawai. Mereka bisa bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Kerjasama dalam mendata para pelajar tidak memiliki gadget dan layak untuk mendukung belajar daring online.

“Saya yakin, Disdikbud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) memiliki data-data pelajar sangat layak untuk memiliki smartphone dalam mendukung proses belajar daring online,” ucap Edy.

Di sisi lain, Edy juga memuji gerakan gotong royong komunitas sosial di Kalimantan Barat yang muncul membantu warga terdampak Pagebluk Covid-19. Baginya gerakan komunitas seperti MPS Desa Arang Limbung, patut menjadi contoh dan teladan.

Harapannya ke depan setiap daerah dan desa, muncul juga gerakan bergotong royong serupa membantu sesama. “Tetapi jangan hanya dari individu saja, kami (DPRD Kalbar) juga berharap gerakan sosial perusahaan di wilayah investasi akan muncul terus membantu masyarakat terdampak,” pintanya. *

 

 

 

 

 

 

 

 

 

error: Content is protected !!