Gejala Covid-19 Makin Aneh, Hanya 6 Persen Merasa Sehat Usai Sembuh

Ilustrasi pasien Covid-19 yang sedang dirawat. Penelitian mengungkapkan bahwa hanya 6 persen pasien sembuh yang merasa sehat sepenuhnya (AFP)

Sejak awal kemunculan virus Korona di Tiongkok, gejala yang dirasakan oleh penderitanya umumnya adalah batuk, demam, dan sesak napas. Namun, belakangan virus ini memang makin aneh dan bermutasi. Setiap orang yang sakit, mungkin memiliki gejala yang berbeda. Bahkan, paling banyak yang tak bergejala atau gejala minimal. Dan banyak pula laporan yang menyatakan bisa kambuh usai dinyatakan sembuh.

Para ilmuwan di seluruh dunia berlomba untuk menemukan obat untuk Covid-19. Namun, masih ada begitu banyak ahli kesehatan medis yang tidak mengerti tentang karakter virus itu sendiri. Bagaimana virus itu mempengaruhi sistem kekebalan manusia karena pasien mengalami berbagai gejala dan kadang-kadang aneh seperti dilansir dari Science Times, Rabu (17/6).

Salah satu aspek yang terus membingungkan para dokter adalah bagaimana orang yang tampak normal dan sehat bisa terinfeksi Covid-19 yang bertahan selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan. Kasus ringan biasanya sembuh dalam waktu dua minggu, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sementara bagi mereka yang menderita dalam jangka waktu yang lebih lama, disebut sebagai ‘long haulers’ atau ‘long-termers.’

Pakar Kesehatan dr Ron Elfebein menjelaskan bahwa mereka yang menderita Covid-19 dalam jangka panjang atau waktu yang lama, melaporkan bahwa mereka masih memiliki gejala seperti sesak napas, batuk, sakit kepala, demam, sulit berkonsentrasi, sakit dada, dan jantung berdebar. Dan hal itu berlangsung berbulan-bulan.

1. Pasien yang Sakit Jangka Panjang
Dari sebuah penelitian di Belanda awal bulan ini, mereka yang disurvei dengan kasus ringan ditemukan memiliki efek jangka panjang dari virus itu. Meski 85 persen dari mereka dianggap sehat sebelum dinyatakan positif atau Orang Tanpa Gejala (OTG). Setelah setidaknya satu bulan tertular virus, ternyata hanya 6 persen yang merasa diri mereka sudah sehat. Elfebein mengatakan bahwa mereka tidak begitu memahami ilmu pasti di balik fakta itu.

“Kami tidak benar-benar memahami patofisiologi mengapa gejala ini terus berlangsung,” jelasnya.

Dia merenungkan apakah itu disebabkan oleh respons sistem kekebalan tubuh yang unik atau mungkin ada reaktivasi virus yang masih ada di dalam tubuh yang menyebabkan virus terus-menerus menyala dan kemudian mati.

2. Gejala Aneh
Misteri lain yang ditemukan oleh para ahli medis Swedia dalam penelitian baru-baru ini adalah adanya gejala gastrointestinal atau pencernaan yang mempengaruhi sekitar 12 persen pasien. Sravanthi Parasa dari Swedish Medical Center di Seattle menganalisis data sekitar 4.800 pasien yang sebagian kecil melaporkan diare, mual,, dan atau muntah.

Studi ini mencatat, bahwa pasien dengan infeksi SARS-CoV-2 dapat mengeluh gejala gastrointestinal dengan kemungkinan rute penularan fecal-oral virus dalam tinja. Tim menyimpulkan temuan ini dari kompilasi 29 studi.

Pada akhir Mei, anak-anak yang terinfeksi Coronavirus mengalami gejala peradangan langka yang tampak seperti penyakit Kawasaki. Pasien mengalami iritasi mata, ruam, dan pembengkakan kelenjar getah bening, tangan, atau kaki. Hal yang menambah kebingungan adalah ketidakkonsistenan tes, seperti pasien yang diuji negatif, kemudian positif, kemudian negatif lagi.

Pakar Penyakit Menular Daniel Kuritzkes dari Divisi Brigham and Women’s Hospital mengatakan kepada pasien yang mengalami sakit jangka panjang agar jangan berkecil hati dengan gejala yang masih menetap. Meskipun para ahli medis masih mengeksplorasi banyak misteri gejala Coronavirus, dia meyakini bahwa lama kelamaan pasien pasti akan pulih sepenuhnya.

“Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang Coronavirus secara umum, sangat mungkin bahwa semua individu ini akan sepenuhnya pulih,” ungkap Daniel.

Editor : Edy Pramana/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

loading...