Geliat Bisnis Kuliner UMKM di Masa Pandemi
  Yakin Usaha Bangkit dan Mampu Bertahan

Meski pandemi Covid-19 membuat banyak usaha gulung tikar, Beny Kawistoro tidak patah semangat. Ia justru termotivasi membuka usaha kuliner. Pria berkacamata itu optimistis, UMKM mampu bertahan dan bangkit di tengah Pandemi Covid-19.

Ramses Tobing, Pontianak

DUA bulan sudah, Beny, begitu ia disapa, membuka usaha kuliner. Usahanya itu terletak di Jalan Alianyang, depan MTS 1, samping Asrama Hidayat, Kecamatan Pontianak Kota. Ia membuka angkringan. Usaha kuliner yang berisikan panganan khas Yogyakarta. Angkringan Jogja Namanya.

“Saya pernah satu tahun tinggal di Yogyakarta. Jadi membuka usaha angkringan ini mengenang kembali Yogyakarta,” kata Beny.  Angkringan Jogja milik Beny ini mulai buka sore hari. Sekitar pukul 14.30 hingga 23.00. Semua panganan yang dijualnya disiapkan saat itu juga.

Mulai dari pagi ia dan istri memasak aneka makanan yang akan dijual. Bahan-bahan sudah disiapkan dari awal. Sebagian besar sudah distok. Jika pun beli hanya untuk yang jenis makanan yang kurang saja.

“Ada stok bahan dan kami punya freezer besar di rumah untuk menyimpan bahan-bahan,” kata dia.  Proses memasak ini baru selesai menjelang zuhur. Terkadang juga lewat pukul 12.00 siang. Setelah itu, ia berkemas-kemas untuk membawa makanan yang sudah dimasak ke lokasi jualan.

Ia menyebutkan butuh waktu dua jam untuk menyiapkan makanan yang selesai masak agar siap dijual. “Kalau menu sudah siap, dijemput sama karyawan dan dibawa ke lokasi jualan,” jelasnya.

Meski baru dua bulan, ia sudah memiliki karyawan, sehingga tidak terlalu repot. “Kecuali minggu saya tidak buka,” kata pria berusia 30 tahun ini. Selain membuka usaha kuliner, Beny juga aktif di Lembaga Filantropis Muhammadiyah. Kesibukan itu tak mengganggu aktivitasnya menjalankan usaha. Ia justru merasa tertantang.

Usahanya pun dibuka saat pandemi Covid-19 melanda yang mana sejumlah pelaku UMKM malah tutup karena tak mampu bertahan. Beny bahkan berencana membuka gerai kedua, meskipun belum menentukan lokasi.

“Buka di masa pandemi bukan berarti menjadi halangan. Justru harus lebih bersemangat untuk mencari nafkah di tengah terpaan pandemi seperti sekarang,” ungkap Beny.

Ia optimistis aktivitas ekonomi harus bangkit, seiring penanganan Covid-19 yang telah dilaksanakan oleh pemerintah.  Menurutnya, kuliner masih menjadi bisnis menjanjikan. Alasannya karena semua orang pasti butuh makan dan minum. Untuk bisnis kecil menengah, kuliner masih merajai. Hanya perlu menyesuaikan jenis dan selera masyarakat.

“Contohnya, seperti angkringan. Gak semua orang cocok dengan makanan ini, karena jenis makanan kering. Namun, kami berusaha menyajikan tempat yang nyaman untuk bersantai, terutama di malam hari,” jelas dia.

Konsep angkringan dasarnya memang untuk bersantai, makanya makanan yang disajikan sudah tersaji dan matang. Jika hendak dikonsumsi, tinggal dipanaskan terlebih dahulu dengan diolesi bumbu tambahan.

Adapun panganan yang dijual seperti aneka sate, aneka baceman, dan nasi kucing. Khusus wedhang jahe, konsumen tidak harus bayar. Konsumen bisa menikmati secara gratis bila order di tempat.

Karena masih dalam situasi pandemi, ia memastikan protokol kesehatan tetap harus dipatuhi. Ia menyediakan tempat cuci tangan bagi pengunjung/pelanggan yang akan mencuci tangan.

“Untuk awal, lumayan omzetnya meskipun ada hari-hari yang sepi. Misalnya tanggal-tanggal tua bagi pekerja. Cuma kami tetap optimis bisnis kuliner tetap bangkit dan bertahan di masa pandemi,” pungkasnya. (*)

 

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!