Gemar Membaca dan Rendahnya Kemampuan Literasi

OLEH LINSEN, S.Pd

Budaya gemar membaca masih rendah di negeri ini. Kegemaran membaca dan menulis harusnya menjadi kebutuhan mendasar dalam rangka memperluas wawasan dan pengetahuan.

Begitu juga halnya dengan dunia tulis menulis, ada banyak alasan yang mendasari orang untuk memilih hobi menulis, misalnya agar perasaan, pikiran, dan pengalaman pribadinya bias dituangkan dalam tulisan yang indah dan dapat dinikimati oleh orang lain. Atau, ada juga yang berharap hobi ini bisa mendatangkan penghasilan tambahan.

Orang tua harus memberikan contoh bagi anak-anaknya untuk gemar membaca. Kebiasaan ini memang harus dimulai sejak dini, sejak anak mulai mampu berkomunikasi. Agar kesadaran membaca makin tumbuh, setiap rumah hendaknya memiliki perpustakaan keluarga yang di dalamnya menyimpan koleksi buku beragam topik yang diminati oleh semua anggota keluarga. Membiasakan untuk menghadiahi buku untuk anggota keluarga juga dapat dilakukan untuk memulai perpustakaan pribadi atau katakan dengan buku yang pada akhirnya akan menumbuhkan gemar membaca.

Sekolah pun memegang peran penting dalam menumbuhkan minat baca. Kurangnya motivasi guru juga ikut menyumbangkan penyebab rendahnya minat baca. Banyak guru tidak menuntut siswa untuk membaca buku lain selain diktat wajib. Siswa pun tidak dilatih untuk membaca buku secara utuh, sedangkan diktat hanya dibahas sepotong-sepotong.

Dalam evaluasi, tes esai sebenarnya akan melatih siswa untuk mengemukakan pikiran, sehingga melatih siswa untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta memotivasi siswa untuk membaca.

Salah seorang sejarawan dan penulis Amerika Serikat bernama Barbara Tuchman, pernah mengatakan, “Buku adalah pemikul peradaban. Tanpa buku sejarah akan sunyi, sastra akan bisu, ilmu pengetahuan akan lumpu, pemikiran dan renungan akan macet.” Sebuah ungkapan yang melukiskan betapa pentingnya sebundel kertas berisi tulisan bagi kehidupan manusia.

Suatu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa sebuah buku begitu sangat berarti. Hampir semua perubahan yang pernah ada di dunia berasal dari buku, dipelajari dan diketahui dari buku karena buku adalah gudang ilmu. Buku membahas mulai dari hal yang sangat sederhana hingga yang paling rumit. Ungkapan lain khususnya di Indonesia menyebutkan bahwa membaca adalah kunci ilmu. Dengan membaca kita dapat mengeluarkan ilmu dari gudangnya.

Maju atau mundurnya dunia pendidikan salah satu indikasinya adalah minat baca masyarakat. Bisa mengeja lalu membaca dengan lancar hanyalah awal dari proses pembelajaran literasi. Lebih dari itu, literasi perlu dipahami lebih dalam agar siswa memiliki kompetensi literasi yang utuh. Kemampuan literasi akan sangat mempengaruhi penalaran dan kompetensi. Mulai tahun 2021, Mendikbud Nadiem Makarim resmi mengganti Ujian Nasional menjadi Asesment Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter.

Penggantian tersebut tak hanya sekadar nama, melainkan bentuk soal secara keseluruhan. Soal-soal AKM akan terbagi atas soal literasi dan numerasi. AKM numerasi terdiri dari berbagai level, yakni level pemahaman konsep, level aplikasi konsep, dan level penalaran konsep. Sedangkan AKM literasi terbagi atas level penalaran konsep, level mencari informasi dalam teks, serta level literasi membaca. Artinya, bisa membaca saja tidaklah cukup.

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, Peringkat PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah. Untuk kompetensi membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai matematika, berada diperingkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai sains berada di peringkat 70 dari 78 negara.

Data BPS lain juga menyebutkan membaca belum menjadi sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton tv dan mendengarkan radio. Data menunjukkan hanya 22,06% dari total penduduk Indonesia yang membaca untuk memperoleh informasi sedangkan mendengar radio ada 50,29% serta persentase terbesar menonton tv yaitu 84,94%.

Angka-angka tersebut membuktikan bahwa minat baca di Indonesia secara keseluruhan masih sangat rendah. Rendahnya minat baca di Indonesia disebabkan banyak faktor. Salah satu pemicunya adalah sarana prasarana  khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang bermutu.

Harus ada langkah nyata dari semua pihak untuk menumbuhkan minat baca dan menjadikan minat baca sebagai kebutuhan utama. Untuk menumbuhkan minat baca langkah-langkah yang harus dilakukan adalah gencarkan promosi budaya baca seperti seminar, bedah buku, kerja sama ke perpustakaan nasional dan kabupaten, membangun taman bacaan dan lain-lain. Penulis yakin apabila ini semua sudah dipenuhi maka tingkat minat baca akan semakin baik dan mutu pendidikan di Indonesia akan mampu bersaing dengan dunia luar.**

Penulis Kepala SMKN 1 MEMPAWAH HULU KABUPATEN LANDAK

 

loading...