Gencarkan Silver Genre

Radliatul Adawiyyah | Duta Genre Kalimantan Barat Tahun 2019

Angka perkawinan usia muda di Kalbar dinilai cukup tinggi. Melihat fenomena tersebut, Duta Genre Kalimantan Barat Tahun 2019, Radliatul Adawiyyah meluncurkan program Silver Genre. Yakni, upaya edukasi untuk menekan angka perkawinan usia dini.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Duta Genre Putri Kalimantan Barat Tahun 2019, Radliatul Adawiyyah menyatakan perkawinan usia muda di Indonesia banyak terjadi. Termasuk di Kabupaten Sambas, Kalbar, yang berbatasan langsung dengan negara lain. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah menjadi faktor utama masyarakat menikahkan anak di usia muda. Bahkan, ada anak yang memang berkeinginan menikah dini.

Radliatul Adawiyyah atau disapa Rara ini pun menggencarkan program Silver Genre (Share Ilmu Versi Remaja Generasi Berencana).

Silver Genre melibatkan remaja secara langsung di seluruh Sambas untuk menjadi pelopor penekanan pernikahan usia muda. Ada lima kegiatan, yakni Katak Pintar (kerja otak pintar), Jalan Kenangan Genre (meningkatkan literasi), Genre Redingon (membahas masalah lingkungan), Tada dan Tadu, serta Silver Genre Tour.

Menurut Rara, jika remaja yang beraksi dan berkreasi, semua akan menjadi lebih menarik. Program katak pintar mengedukasikan materi pendewasaan usia perkawinan (PUP) dan empat substansi genre ke dalam permainan tradisional yaitu congklak. Program ini sempat terhenti, tapi berjalan kembali sejak  Juli 2019. Cara permain katak pintar cukup mudah. Pada setiap lubang congklak terdapat beberapa pertanyaan.

“Setelah dilakukan beberapa kali, ternyata anak-anak di sana ini lebih paham jika materi diedukasikan melalui permainan,” ujar perempuan kelahiran Sambas, 18 Februari ini.

Program Silver Genre ini berhasil mengantarkan Rara meraih prestasi sebagai Program Terbaik Putri Duta Genre Kalimantan Barat 2019. Dia juga berhasil meraih posisi Runner Up II Duta Genre Indonesia 2019 dan dua nominasi lainnya, yaitu Duta Genre Favorit dan Pemenang 28 Days Challenge.

“Bagi saya, juara bukan segalanya, namun kontribusi apa yang disuguhkan kedepannya,” katanya.

Lewat program yang diusungnya, Rara memiliki keinginan besar untuk meminimalisir pernikahan di usia muda. Dia ingin remaja di daerahnya (Sambas) memiliki aktivitas yang lebih positif. Caranya dengan mengajak menganyam dengan bahan dasar daun purun. Daun ini banyak ditemui di perairan Sambas. “Kebetulan daun ini tidak banyak diberdayakan oleh masyarakat sekitar,” ujarnya.

Selain itu, Rara dan remaja sekitar juga membuat kerajinan dari bahan bekas seperti koran, plastik, botol, dan kaca. Disela-sela menganyam, Rara selalu menyempatkan untuk menanamkan pemahaman kepada masyarakat khususnya remaja tentang pentingnya pendewasaan usia perkawinan.

Tantangan paling besar yang dihadapi Rara dalam melaksanakan program Silver Genre adalah ketika masyarakat menolak adanya perubahan baru. Sebab, di dalam pikiran masyarakat adalah anak harus dinikahkan untuk meringankan beban orang tua.

“Karena banyaknya pernikahan di usia muda, menjadikan hal tersebut adalah hal yang wajar dan bukan suatu permasalahan yang harus diatasi,” ungkap Rara.

Bahkan, beberapa diantaranya sempat menutup diri untuk mengetahui PUP itu sendiri. Sampai akhirnya program ini menarik perhatian dan masyarakat mulai mengalami perubahan. Tantangan lainnya adalah jarak tempuh yang jauh, serta akses jalan yang kurang memadai untuk Rara dan rekan-rekan mengunjungi sasaran yang telah ditetapkan.

Meski dinilai belum terlalu signifikan, tetapi Rara merasa virus Genre ini sudah sangat menyebar kepada masyarakat di Sambas.

“Kini masyarakat tahu bahwa pernikahan di usia muda bukanlah pilihan yang tepat untuk memperbaiki ekonomi maupun memperbaiki kehidupan.  Saya berharap program ini akan terus menyebar hingga tidak ada lagi pernikahan di usia muda,” harap juara 1 Lomba Mading BKKBN Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2019. **