Gerakan Infak Seribu (Gebu), Wujud Gotong-Royong Warga untuk Beli Ambulans

infak

PROGRAM GEBU: Warga memasukkan uang infak ke dalam kaleng yang dipasang di dinding rumah. Dalam Program Gebu, warga minimal memberikan infak sejumlah seribu setiap minggu. | MIRZA AHMAD MUIN/PONTIANAKPOST.CO.ID

Jumlah Infak Sering Lebih, Sebulan Bisa Dapat Jutaan

Gerakan infak seribu (Gebu) merupakan kekuatan gotong-royong yang dipelopori sejumlah remaja masjid Desa Pagal Baru, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang. Hasil sumbangan itu dikumpulkan tiap minggu di dalam kaleng-kaleng yang terpasang di dinding depan rumah warga. Sejak program ini dijalankan April 2018, sekarang dana yang terkumpul sudah hampir seratus juta rupiah. Jika sudah cukup, uangnya akan dibelikan mobil ambulans sebagai pelengkap layanan di Poskesdes.

MIRZA AHMAD MUIN, Pagal Baru

KEKUATAN gotong-royong di Desa Pagal Baru, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat begitu terasa ketika saya masuk di desa itu awal September lalu. Gapura-gapura tampak seragam berwarna biru putih dengan lafaz HUT Kemerdekaan RI dibalut bendera kebangsaan. Gambaran itu menjadi cermin semangat kebersamaan dan nasionalisme di wilayah pedalaman Sintang.

Ada yang unik ketika melintasi rumah-rumah warga. Kaleng-kaleng dipasang di dinding depan rumah. Kata salah satu sopir yang mengantar ke Desa Pagal Baru, kaleng tersebut buat menyimpan uang infak. Uang itu akan diambil oleh anggota remaja masjid Desa Pagal Baru setiap minggunya. Nama programnya adalah Gerakan Infak Seribu (Gebu).

Program ini merupakan gerakan gotong-royong warga Pagal Baru untuk membeli mobil ambulans. Penggagasnya adalah pemuda-pemudi remaja masjid Desa Pagal Baru. Program Gebu sudah berjalan sejak April 2018.

“Awal mula idenya datang dari remaja masjid. Niat kami ingin Desa Pagal Baru memiliki ambulans sendiri. Setelah dirembuk, kami pun menyampaikan kepada pihak desa. Ternyata ditanggapi bagus. Maka dicobalah program Gebu. Alhamdulilah. Respon masyarakat positif,” kata Bendahara Remaja Masjid Desa Pagal Baru, Indri kepada Pontianak Post. Sekarang, jumlah infak yang terkumpul sudah hampir seratus juta. “Penarikan iuran akan dilakukan terus sampai dananya benar-benar cukup untuk membeli ambulans,” ujarnya.

Ide program Gebu ini tercetus karena keprihatinan melihat kondisi Poskesdes yang belum memiliki ambulans. Ketika ada pasien yang mesti dirujuk ke rumah sakit, perlu waktu lama untuk mencari pinjaman kendaraan kepada warga lainnya.

“Agar layanan kesehatan sigap tercetuslah ide urunan uang seribu tiap satu minggu. Yang ambil uang ke warga, ya kawan-kawan para remaja masjid juga. Ambilnya di kaleng depan dinding rumah warga,” katanya.

Awalnya para remaja masjid sempat tidak percaya jika program yang dijalankan ini bakal berhasil. Namun, setelah sebulan dijalankan ternyata respon masyarakat positif. Apalagi ketika masyarakat tahu, bahwa uang yang terkumpul nanti akan digunakan membeli ambulans.

Dari infak minimal seribu seminggu itu, ternyata sumbangan yang didapat dari tiap rumah masyarakat lebih dari itu.

“Kadang ada yang sumbang Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu. Pungutan sumbangan itu mencapai lima ratusan rumah. Dalam sebulan bisa jutaan didapat. Semangat gotong-royong begitu kuat di sini,” ungkapnya.

Ketua Posyandu Desa Pagal Baru, Siti Kolifah begitu mendukung kegiatan Gebu yang direncanakan untuk membeli ambulans. Menurutnya, keberadaan ambulans sangat tentu sangat membantu. Saat ini untuk mengantar warga yang sakit masih menggunakan mobil warga.

Soal mengantar pasien rujukan ke rumah sakit Sintang, Siti punya pengalaman tak terlupakan. Waktu itu kejadiannya siang hari. Ada pasien mau melahirkan. Bidan Poskesdes mengatakan bahwa pasien mesti dirujuk ke Rumah Sakit Sintang. Setelah mencari kendaraan pinjaman milik warga, dirinya pun ikut mengantar pasien ke Rumah Sakit Sintang.

Akses jalan di Desa Pagal Baru menuju jalan raya Sintang masih rusak. Menggunakan mobil warga yang dikemudikan sopir, dirinya bersama bidan dan pasien mesti melewati jalan tanah kuning berdebu. Di tengah perjalanan, kondisi perut pasien makin berkontraksi. Mungkin akibat hentakan jalan berlubang dan berbatu.

Dengan jantung berdebar dirinyap un membantu bidan melakukan persalinan di dalam mobil. Akhirnya, di tengah jalan pasien itu melahirkan. “Saya sangat gugup. Peralatan tidak ada dan pasien terpaksa melahirkan di tengah hutan sawit. Tapi alhamdulilah persalinan itu berhasil. Ibu dan anak selamat. Akhirnya kami tak jadi membawa pasien itu ke rumah sakit,” kenangnya.

Program Gebu inisiasi remaja masjid Pagal Baru dinilainya sangat bagus. Masyarakat juga tidak merasa diberatkan. Setidaknya ini diakui satu warga Desa Pagal Baru, Sundari (33). Dirinya pribadi kerap memberi sumbangan. Kadang uangnya dilebihkan. Bisa Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu. Apa yang dilakukannya sama dengan warga lain karena mereka ingin uang cepat terkumpul sehingga bisa segera dibelikan ambulans.

Jika ambulans telah dimiliki Desa Pagal Baru maka rujukan pasien dari poskesdes, puskemas ke rumah sakit akan semakin mudah. “Kalau sekarang, kami mesti mencari dulu kendaraan. Harus bayar sopir dan ongkos bensin,” kata ibu yang sedang hamil sembilan bulan itu.

Kepala Desa Pagal Baru, Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang, Tukiman menuturkan jika tak ada halangan, ambulans Poskesdes bisa dibeli di 2021. “Itu menjadi batas akhir pengumpulannya. Adanya ambulans dapat memudahkan pelayanan kesehatan desa dalam penanganan pasien rujukan ke rumah sakit umum terdekat,” ujarnya.

Ia berharap cita-cita warga Desa Pagal Baru membeli ambulans dapat terealisasi. “Melihat semangat gotong-royong masyarakat, saya semakin yakin. Masyarakat sudah tidak sabar untuk membeli ambulans sebagai pendukung fasilitas kesehatan di Pagal Baru,” tandasnya.(*)

Read Previous

Pemerintah Fokus Benahi Infrastruktur Perbatasan

Read Next

18 Ruko di Sintang Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp10 Milliar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *