Gerakan Menulis di Rumah Literasi

LUNCURKAN : Puluhan buku karya anggota Rumah Literasi menarik untuk dibaca. MARSITA RIANDINI/PONTIANAKPOST

Membangun Talenta Menulis dari Proses yang Benar

Rumah Literasi menjadi satu gerakan mengampanyekan budaya membaca, menulis dan membukukanya di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak. Belum lama ini, melalui telah meluncurkan 45 buku karya mahasiswa.

MARSITA RIANDINI, Pontianak.

Jaabir, tak kuasa menahan haru ketika menunjukkan karyanya kepada orang tua. Buku perdana yang ia tulis, membuat orang tuanya bangga. Buku ini menjadi semangat baru bagi anggota Rumah Literasi ini untuk menghasilkan karya. Menghidupkan kembali budaya menulis dan membaca di kalangan mahasiswa menjadi salah satu tujuan dibentuknya Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak.

Ismail Ruslan, Dekan IAIN Pontianak mengatakan, ini merupakan sebuah sistem yang memaksa mahasiswa mengenal budaya menulis sejak awal kuliah. Biasanya, kata dia mahasiswa baru menulis ketika dihadapkan pada tugas kuliah saja. Bahkan tak jarang, ada yang menyalin tugas tanpa mengolah kemampuan berpikirnya untuk mengeluarkan gagasan-gagasan.

“Kami ingin membangun talenta menulis itu murni dari proses yang benar. Proses yang alami dan pendidikan yang baik,” jelasnya. Rumah Literasi dibuat untuk mengajarkan mahasiswa bahwa setiap dari mereka punya potensi untuk menulis. Dia juga mengungkapkan, dalam sebuah riset bahwa setiap orang memiliki kecerdasan ganda.

Hanya saja kegiatan sehari-hari dengan segala aktivitas dan kesibukkannya yang menyebabkan kemampuan itu hilang. Menulis, kata dia adalah kecerdasan linguistik dan kecerdasan indrapribadi. Orang yang memiliki kemampuan menulis, memiliki kemampuan dalam menyusun bahasa, karena dia memiliki tabungan kosakata yang banyak. Kemampuan ini, lanjut Ismail sudah seharusnya dimiliki mahasiswa dalam mengembangkan kecerdasan.

Fitri Sukmwati, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalbar mengatakan, menulis dan membukukannya memberikan pengaruh positif bagi penulis dan pembaca. Bagi penulis, dapat menuangkan segala gagasan dan kemampuannya. Sedangkan bagi pembaca dapat melahirkan inspirasi setelah membaca buku. Menulis juga menstimulus otak kanan. “Buku itu salah satu inspirasi bagi orang lain,” ujarnya.

Dia juga mengapresiasi para mahasiswa yang baru saja meluncurkan bukunya. Ibarat cinta pertama, kata dia buku pertama ini maka buku pertama ini bisa menjadi semangat baru untuk berkarya terus menerus. “Menulis juga akan abadi, tidak ada matinya,” paparnya. Yusriadi, menanggapi ungkapan sebagian orang yang mengatakan menulis dan membukukan karya itu sulit.

Beragam masalah yg disampaikan. Dari soal ide yang mau ditulis, waktu menulis, hingga soal fasilitas. Padahal kata Ketua Literasi Fuad ini, pemikiran itu hanya menghambat seseorang untuk berkarya. Rumah Literasi membuktikannya. Mahasiswa mampu membuat buku dengan keterbatasan fasilitas. Biaya yang minimal. Bahkan ada yang memanfaatkan kemampuan desain cover buku sendiri. “Banyak yang takut dicela orang lain. Bagi orang yang bermasalah, membuat buku itu masalah,” pungkasnya. (*)

loading...