Grup Kesenian Tundang Mayang, Sanggar Pusaka; Pegang Hak Cipta Tundang, Eddy Ibrahim Tuai Banyak Prestasi

KESENIAN Syair Pantun dan Gendang (Tundang) merupakan sebuah kesenian yang diciptakan Eddy Ibrahim. Tahun 2013, pendiri Sanggar Pusaka, Desa Sungai Burung Mempawah ini sah menjadi pemegang hak cipta Tundang yang dikeluarkan Kementerian Hukum dan HAM.

Grup Kesenian Tundang Mayang Sanggar Pusaka binaan Eddy Ibrahim, pernah meraih juara Nasional 1 dalam acara Apresiasi Media Pertunjukan Rakyat di Kuta Bali. Ini menjadi penyemangat pria yang akrab disapa Usu Yem ini untuk melestarikan kesenian ini.

Mengadakan pendidikan Kesenian Tundang di Kabupaten/kota se Kalbar, kerjasama Sanggar Pusaka & Balai Bahasa Provinsi Kalbar 2012 & 2017. “Kami mengadakan Safari Pertunjukan di Kabupaten Kota se Kalbar,” ulasnya.

Sanggar Pusaka tidak hanya tampil di sejumlah kota di tanah air, tetapi juga berpengalaman tampil ke luar negeri seperti di Malaysia tepatnya Kuala Lumpur,Kucing Serawak. Pernah juga tampil di Singapura dan Brunei Darussalam .

Eddy mengatakan keberhasilan ini tak lepas dari dukungan Masyarakat Kalbar .

Menurutnya, Tundang merupakan bagian karya seni. Sejak usia Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) bertundang sudah ada didalam benak Eddy Ibrahim.

Gagasan tersebut muncul karna kegemarannya terhadap seni pantun dan syair. Eddy kerap menonton seni pertunjukan yang kala itu berupa drama pentas yang berkolaborasi dengan syair melayu.

Tundang sudah dikenalkan Eddy pada usia SMP,karena seringnya Eddy Ibrahim berpantun bersama teman-temannya dengan menggunakan alat musik pukul apa saja.

“Walaupun sebatas suka-suka dan bercanda. Namun pada usia tersebut, belumlah terfikir untuk memberi nama serta menciptakan irama atau lagu dari seni pantun yang dibuat secara sepontanitas atau dilantunkan dengan asal-asalan saja tersebut,”katanya.

Barulah pada 1992 Tundang pertama kali diperkenalkan atau dicetuskan oleh Eddy kepada masyarakat dan secara tidak langsung pula diakui oleh khalayak ramai sebagai salah satu sarana hiburan rakyat yang menarik. Tundang mudah dicerna dan didalam syairnya banyak unsur edukasi,pesan moral,pesan pembangunan, kritik sosial, humor, dan sebagainya.

“Pada dasarnya Tundang adalah salah satu media hiburan rakyat yang berlandaskan pada sendi – sendi seni budaya melayu, yaitu Syair dan Pantun,” ungkapnya.

Berawal dari niat ingin melestarikan dan memperkenalkan seni budaya melayu khususnya syair dan pantun kepada generasi muda, maka diciptakanlah sebuah ragam kesenian yang diberi nama Tundang yaitu kependekan dari kata Pantun dan Gendang ( Irama ).

Untuk melantunkan Syair ataupun Pantun supaya menjadi sebuah kesenian yang utuh,kata Eddy tentu perlu adanya irama/lagu dan musik.Untuk hal tersebut Eddy Ibrahim telah menciptakan irama dan musik Tundang tersebut dengan gaya khas untuk kesenian Tundang dengan beberapa kali perubahan . “Tidak langsung jadi,” ulasnya.

Ada empat kali perubahan irama lagu untuk tundang tersebut yang diciptakan oleh Eddy. Sedangkan untuk irama musiknya selain dengan imajinasi dari Eddy Ibrahim sendiri juga diramu dengan irama hasil galian beliau secara tradisional.

“Jadi bukan seatu yang serampangan atau asal-asalan,” paparnya. (mrd)

error: Content is protected !!