Grup Tanjidor yang Diperkuat Para Pemain Muda

tanjidor
BERATRAKSI: Grop tanjidor Sinar Jaya saat tampil memainkan komposisi mereka pada Festival Arakan Pengantin HUT Kota Pontianak, Minggu (6/10) lalu. HARYADI/PONTIANAK POST

Berkenalan dengan Grup Tanjidor Sinar Jaya

Tidak banyak generasi muda yang mau berkecimpung dalam kesenian musik tradisional. Apalagi seperti musik tanjidor yang pemainnya sudah banyak sepuh. Namun tidak bagi grup tanjidor Sinar Jaya. Grup ini dihuni anak-anak muda yang sadar akan warisan budaya.

HARYADI, Pontianak

ALUNAN musik chacha cukup enak dimainkan oleh grup Tanjidor Sinar Jaya. Ritme musiknya unik berasal dari negara Kuba. Menghipnotis orang untuk menggoyangkan pinggul saat didendangkan. Tidak hanya piawai memainkan lagu bernuansa Eropa. Tetapi juga lagu khas Pontianak fasih mereka mainkan, seperti Kopi Pancong, Sungai Kapuas, Lancang Kuning, dan jenis musik bergenre lainnya.

Meski belum lama terbentuk, mereka tak begitu canggung tampil di depan banyak orang. Bahkan mereka mampu menghibur orang nomor satu di Kota Pontianak, Wali Kota Edi Rusdi Kamtono. Mereka tetap riang dan bercanda layaknya anak-anak muda sebelum tampil menghibur.

“Di Lomba Tanjidor Festival Arakan Pengantin, Minggu(6/10) lalu, merupakan penampilan perdana grup kami,” terang Rizki, salah satu personel Sinar Jaya. Rizki adalah pemuda yang masih duduk di bangku kelas 12. Dia senang memainkan musik jenis ini karena memang mencintai berbagai jenis musik. Rizki sendiri memainkan alat musik snare di grup ini. Meski belum lama bergabung, ia sudah merasa cocok dengan alunan musiknya. “Awal bergabung sempat sedikit bingung menyesuaikan nada ketukan, sebab masih menyusuaikan ritme pemain lain,” ungkapnya.

Personel lainnya adalah Khadafi yang juga ketua grup Sinar Jaya. Dia menceritakan biasanya latihan digelar mereka usai jam sekolah atau di malam hari. Sebab ada enam personel yang harus berkumpul untuk latihan tersebut. Mereka berlatih memainkan lagu-lagu baru sebagai agenda rutin. Biar tidak bosan latihan, terkadang mereka memainkan musik bergenre lain untuk menghilangkan kebosanan. “Grup tanjidor ini berisikan anak-anak muda yang merupakan teman sekolah,” tuturnya.

Khadafi yang memainkan alat musik saksofon akan terus memainkan musik tanjidor. Secara pribadi dia tidak pernah malu saat tampil memainkan musik ini. Meski harus disaksikan teman sekolahnya. Remaja yang duduk di kelas 12 ini justru malahan merasa terpanggil untuk mengajak teman-teman yang seumuran, untuk memainkan dan melestarikan kesenian tradisional tanjidor. “Bermusik memang menjadi hobi saya sejak kecil, sudah diajari oleh orang tua,” terangnya.

Kasim, pembina Sinar Jaya mengungkapkan bahwa dirinya mengajak generasi muda untuk dapat memainkan kesenian tanjidor. Tetapi di awal mengawali niatnya tersebut bukanlah perkara mudah. Kebanyakan dari mereka tak pernah benar-benar tertarik dengan musik tradisional yang kian tersingkir oleh zaman ini. Bila tidak diteruskan, dia khawatir bisa saja hilang dan generasi muda pun tak akan mengenalnya lagi. “Kalau latihannya di rumah saya di Jalan Apel, rumah saya memang menjadi berkumpul mereka untuk berdiskusi musik,” terangnya.

Kasim yang sehari-hari bekerja di bidang kuliner mengaku cukup mencintai musik tanjidor sejak kecil. Kecintaannya terhadap musik diwariskan dari orang tuanya. Hobinya ini pun juga ingin ia wariskan ke anak-anaknya atau generasi muda. Namun kadang mereka sedikit menemui kendala. “Wajar saja jika anak muda tak tertarik bermain tanjidor, sebab alat musiknya didominasi alat tiup dan kurang bervariasi,” tuturnya.

Meski grup ini baru terbentuk, secara pribadi Kasim cukup bersyukur sudah ada anak-anak muda yang peduli mengeluti permainan tradisional ini. “Meski yang saya lakukan adalah hal kecil, namun ini sudah menjadi sebuah tanggungjawab untuk mewariskan sebuah kesenian, agar tanjidor tidak hanya akan menjadi catatan sejarah saja,” tutupnya. (*)

error: Content is protected !!