Gubernur Kalbar Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Sutarmidji didampingi Ria Norsan beberapa waktu lalu. foto Shando Safela

PONTIANAK – Di tengah bergejolaknya ekonomi dunia, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji optimistis provinsi ini masih mampu bertahan dengan pertumbuhan ekonomi pada kisaran lima persen. Ia bahkan menyebut ekonomi Kalbar mampu berada di posisi pertama di antara provinsi lainnya di pulau Kalimantan.

“Walau ada kasus virus corona di China, tetapi (pertumbuhan ekonomi) kita masih bisa bertahan pada angka lima persen,” ungkap dia, kemarin.

Orang nomor satu di Kalbar ini, yakin bila perdagangan internasional di tahun ini bakal mendongkrak ekonomi Kalbar.  Kehadiran pelabuhan Internasional Kijing, diyakini bakal meningkatkan aktivitas ekspor dan impor Kalbar. “Saat ini pertumbuhan ekonomi kita sudah lebih tinggi dari Kaltim atau Kalsel yang sebelumnya lebih tinggi dari kita. Kalau Pelabuhan Internasional Kijing atau nanti diganti namanya menjadi Pelabuhan Tanjungpura beroperasi, pertumbuhan ekonomi Kalbar akan tertinggi di regional Kalimantan,” kata dia.

Tidak hanya dari pertumbuhan ekonomi, lanjut dia, namun sumbangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari Kalbar juga akan menjadi yang tertinggi. Komoditas yang menjadi pendongkrak ekspor, tak lain adalah minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan bauksit. Adapun ekspor CPO selama ini menurutnya belum tercatat dari Kalbar karena ekspor masih dilakukan melalui pelabuhan dari luar Kalbar.

“CPO dari Kalbar capai 2,2 juta – 2,7 juta ton per tahun. Saat ini hanya 5 persen saja tercatat di Kalbar melalui PLBN Badau. Sisanya tercatat dari luar,” sebut dia.

Pertumbuhan ekonomi Kalbar tiga tahun terakhir sebetulnya menunjukkan tren melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar merilis, pada tahun 2019, ekonomi Kalbar hanya tumbuh 5,00 persen. Angka ini lebih rendah dari angka pertumbuhan tiga tahun terakhir, yang mana pada tahun 2016 sebesar 5,2 persen; 2018 sebesar 5,17 persen; dan 2018 sebesar 5,07 persen.

Pertumbuhan ekonomi Kalbar dua tahun terakhir juga lebih rendah dari pada pertumbuhan ekonomi nasional.  Tahun 2018 dan 2019, pertumbuhan ekonomi nasional masing-masing sebesar 5,17 persen dan 5,02 persen. (sti)

error: Content is protected !!