Guru Cerdas Emosional, Guru Anti Stres

Oleh: Renni Dwi Wahyuni, S.Pd., M.Pd

ING ngarso sung tulodo adalah bagian dari semboyan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yang berarti seorang guru harus menjadi contoh bagi muridnya, baik sikap maupun pola pikirnya. Oleh karena itu, penting bagi guru memiliki kepribadian yang akan diteladani oleh murid. Kepribadian itu dapat terlihat dari penampilan, tindakan ataupun ucapan ketika guru menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di sekolah.

Selain memiliki tanggung jawab pada pembelajaran di kelas, guru memiliki tugas tambahan di sekolah, sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 bahwa jam kerja efektif guru mencakup kegiatan pokok yaitu 5 M (merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing dan melatih, melaksanakan tugas tambahan). Berbagai tugas ini dapat menimbulkan keluhan dan stres jika guru tidak mampu mengelola emosi mereka. Hal ini sejalan dengan sebuah studi oleh Pettigrew dan Wolf (1982) yang menyatakan bahwa ada dua jenis stres yang pada akhirnya dapat berdampak pada guru yaitu stres berdasarkan tugas terkait pekerjaan dan stres berdasarkan peran di tempat kerja.

Stres dalam istilah psikologi menurut Laura King, dalam bukunya The Science of Psychology adalah respon individu terhadap kejadian atau keadaan yang mengancam. Upaya guru dalam mengatasi stres adalah mampu mengendalikan kecerdasan emosional. Guru yang memiliki kecerdasan emosional adalah guru yang mampu mengendalikan diri dalam berbagai kondisi. Menurut Goleman (1999) kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Goleman (1999) juga menyatakan seseorang yang tidak mempunyai kemampuan mengelola emosi diri, cenderung sulit berinteraksi dengan orang lain dan kurang mampu menjalankan pekerjaan dengan baik. Kecerdasan emosional tidak hanya berpengaruh pada kompetensi kepribadian namun juga kompetensi sosial.

Besarnya peranan kecerdasan emosional menuntut guru untuk terus melatih kecerdasan emosionalnya agar mampu mendukung kinerja dan profesionalitas sebagai seorang pendidik. Guru dapat melakukan praktik-praktik baik terhadap 5 aspek kecerdasan emosional yaitu self-awareness (kesadaran diri), self-management (kemampuan mengelola emosi diri), self-motivation (kemampuan memotivasi diri sendiri), emphaty (kemampuan mengenali emosi orang lain)  dan social skill (kemampuan  membina hubungan dengan orang lain).

Self-awareness atau kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi yang muncul dalam diri sendiri. Kemampuan ini adalah dasar kecerdasan emosional. Dengan kemampuan mengenali emosi diri maka guru dapat mentransformasi emosi yang muncul menjadi respon positif terhadap orang lain terutama pada murid. Pada saat berada dalam situasi yang menantang di sekolah, guru yang memiliki kemampuan self-awareness terlebih dahulu akan memberikan waktu sejenak pada diri untuk memahami suasana hati dan memikirkan akibat dari tindakannya. Seorang guru yang memiliki kesadaran diri akan mudah menjadi pendengar yang baik, menerima masukkan dan kritik dari kepala sekolah, rekan sejawat atau murid.

Menurut Hawkins (2017), latihan berkesadaran penuh (mind-fulness) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai kompetensi emosi sosial emosional dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam modul program pendidikan guru penggerak, teknik STOP dapat dilakukan guru untuk membangun kesadaran penuh. Teknik ini dilakukan agar guru mampu mengembalikan suasana hati saat menghadapi permasalahan di sekolah. STOP adalah akronim dari Stop (berhenti sejenak), Take a deep Breath (tarik nafas dalam), Observe (amati), dan Proceed (lanjutkan).

Stop artinya guru dapat menghentikan sejenak aktivitas yang sedang dilakukan kemudian melanjutkan dengan take a deep breath yaitu mengambil nafas dalam. Dalam proses take a deep breath guru dapat menyadari napas yang masuk dan keluar. Lakukan sebanyak 2-3 kali. Langkah berikutnya adalah observe yaitu mengamati apa yang terasa dan terjadi pada tubuh selama proses take a deep breath. Teknik diakhiri dengan proceed yang artinya melanjutkan kembali aktivitas dengan perasaan yang lebih tenang dan suasana hati yang positif.

Aspek kedua dari kecerdasan emosional adalah self-management atau pengelolaan diri. Prijaksono (2003) menyatakan pengelolaan diri bermanfaat untuk menghilangkan stres, kemarahan, kecemasan, ketakutan, dendam, sakit hati, dan meningkatkan kreativitas belajar. Guru yang memiliki kemampuan pengelolaan diri akan mampu mengambil keputusan yang bijak tanpa melibatkan emosi dalam menghadapi setiap tantangan yang dihadapi di sekolah. Dengan kemampuan pengelolaan diri, guru dapat mengembangkan dirinya untuk  menemukan berbagai alternatif solusi dalam menghadapi setiap permasalahan di sekolah terutama yang berkaitan dengan murid. Hal ini sejalan dengan pendapat Suryanti dan Ika (2004) yang  mengungkapkan bahwa orang yang tangguh sudah memulai menghambat rasa tertekan selama situasi stres berlangsung. Mereka adalah orang-orang yang optimistik dan berorientasi pada tindakan.

Self-motivation atau motivasi diri adalah aspek kecerdasan emosional berikutnya yang harus dimiliki guru. Goleman (1999) mengemukakan bahwa motivasi diri berarti seseorang mampu menggunakan hasratnya yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun individu mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif. Motivasi diri akan membentuk kepribadian guru menjadi pendidik yang tidak mudah berputus asa dalam menghadapi setiap tantangan. Dengan kemampuan motivasi diri, guru dapat mengembangkan dirinya untuk menemukan berbagai alternatif solusi dalam menghadapi setiap permasalahan di sekolah terutama yang berkaitan dengan murid.

Emphaty atau kemampuan mengenali emosi orang lain adalah bagian dari kecerdasan emosional yang berkaitan dengan kompetensi sosial. Goleman (1999) menyatakan bahwa mengenali emosi orang lain berarti merasakan yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif orang lain, menumbuhkan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang. Guru yang memiliki empati akan mencoba memahami dan menempatkan dirinya dalam situasi yang dihadapi oleh murid namun tidak larut dalam situasi tersebut. Kemampuan empati ini mendukung guru untuk membantu murid menggali potensi diri dalam menghadapi permasalahan belajar.

Aspek kecerdasan emosional yang terakhir adalah social skill atau kemampuan  membina hubungan dengan orang lain. Social skill seorang guru terlihat dari kemampuannya membina hubungan dengan warga sekolah, temasuk murid. Pada akhirnya, keempat aspek kecerdasan emosional yang dibahas sebelumnya adalah syarat terciptanya hubungan yang harmonis antara guru dan murid. Hubungan yang harmonis antara guru dan murid akan menambah kepercayaan diri murid dalam mengembangkan potensi diri dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Guru yang memiliki kecerdasan emosional adalah guru yang Bahagia. Guru yang bahagia adalah guru yang anti stres. Kecerdasan emosional dalam diri guru adalah prasyarat untuk mengintegrasikan keterampilan sosial emosional dalam pembelajaran di kelas. Guru yang cerdas emosional mampu melihat setiap permasalahan bukan sebagai tekanan tapi sebuah tantangan yang mampu dihadapi. Guru harus terus melatih kecerdasan emosional sebagai bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi murid.**

Penulis, Guru SMPN 4 Kuala Mandor B/Guru Penggerak Angkatan 1 Kabupaten Kubu Raya.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!