Guru dan Konsep Belajar Sepanjang Hayat

OLEH Marselus

Guru zaman sekarang diharapkan menjadi seorang pemikir/intelektual. Itu berarti guru tidak boleh puas dengan pengetahuannya, tetapi terus mengembangkannya. Guru tidak berhenti untuk membaca, belajar.

Guru harus belajar kritis dengan situasi dan gagasan yang ada. Sebagai seorang intelektual, guru akan mengembangkan “angan-angan” untuk suatu yang lebih maju. Guru dengan senang hati menantang dan merangsang siswa untuk mempunyai  angan-angan kedepan yang lebih tinggi. Guru selalu bertanya dan mencari yang baru. Guru pertama-tama perlu mengenal siswa dengan baik.

Bagaiman sifat, karakter, perkembangan kognitif dan emosionalnya. Apa kekuatan dan kelemahannya. Dengan mengenal siswa, maka guru dapat membantu siswa belajar lebih baik, terlebih bila mengalami kesulitan. Guru yang hanya diam saja dan tidak pernah mendekati siswa dianggap tidak berlaku tepat. Potensi siswa perlu diketahui sehingga dapat dengan mudah ikut mengembangkan seluruh potensinya.

Maka kedekatan dengan siswa menjadi penting. Kebanyakan siswa hanya mau belajar bila ia menyenangi bahan pelajaran itu dan juga menyenangi gurunya. Maka penting bila guru bidang studi menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga anak senang belajar sendiri. Yang tidak kalah penting adalah guru mencoba mengerti bagaimana cara berpikir siswa dan cara bertindak siswa, sehingga guru dapat lebih tepat bagaimana membantu siswa tersebut berkembang.

Ilmu selalu berkembang, penemuan baru terus ada. Maka guru diharuskan untuk terus belajar bidang ilmunya. Tanpa belajar terus maka guru akan ketinggalan zaman dan bahkan akan ketinggalan dibandingkan siswanya. Guru tidak boleh puas dengan pengetahuannya, tetapi harus terus mengembangkannya.

Di zaman industri 4.0 ini guru bukan satu-satunya sumber informasi pengetahuan. Banyak sumber lain yang dapat digunakan oleh siswa seperti internet, TV, buku-buku digital, aplikasi pembelajaran, dan para ahli yang mereka jumpai di luar sekolah. Maka supaya guru tidak ketinggalan zaman, mereka sungguh harus mau belajar dari macam-macam sumber pula. Dengan semakin belajar, diharapkan guru dapat mengerti bervariasinya pengetahuan dan gagasan siswa yang didapat dari banyak sumber; sehingga guru tidak mudah menilai gagasan siswa salah hanya karena guru tidak mengerti secara luas.

Siswa akan dapat belajar dengan baik bila metodologi yang digunakan tepat dengan situasi mereka dan kompetensi yang diharapkan. Menurut teori multiple intelligences, siswa akan mudah mempelajari sesuatu hal, bila hal itu disampaikan dengan model yang sesuai dengan inteligensi siswa yang dominan.

Bila inteligensi siswanya beraneka, maka jelas model pembelajaran pun harus beraneka, bukan hanya satu. Maka guru diharapkan terus mencari jalan metodologi mana yang tepat bagi siswa-siswanya menguasai kompetensi yang diinginkan.  Karena siswa terus berganti maka usaha terus mencari metode yang tepat diperlukan. Dalam usaha mengembangkan metodologi ini, perlu diperhatikan penggunaan teknologi mutakhir yaitu komputer.

Dalam hal metodologi guru perlu memilih metodologi yang sungguh dapat membantu siswa aktif mengolah bahan sendiri secara mendalam. Jelas siswa lebih dianggap sebagai subjek yang harus menguasai kompetensi mereka. Siswa diberi kesempatan untuk berproses dalam belajar.

Teladan Hidup

Pendidikan di Inonesia banyak gagalnya karena tidak banyak ditemukan teladan dalam hidup. Di sekolah diajarkan tentang kejujuran dan disiplin, tetapi di luar sekolah yang ditemukan adalah kebohongan, tipu daya dan kemalasan. Di sekolah diajari penghargaan terhadap orang lain, di luar siswa saling tawuran. Maka penguasaan kompetensi yang berupa nilai-nilai kehidupan sering sulit.

Sangat penting bagi seorang guru untuk memberikan teladan dalam kehidupan. Dengan demikian kehidupan guru sendiri perlu ditingkatkan, terlebih dalam hal moral, religiositas, spiritual, dan nilai-nilai toleransi. Bila guru tidak bernilai, maka dalam mengajarkan nilai hanya akan ditertawakan oleh siswa.

Dalam konteks teladan ini juga perlu diperhatikan suasana sekolah sendiri yang mencerminkan nilai-nilai yang mau ditekankan. Misalnya, bila nilai penghargaan terhadap orang mau ditekankan, maka sikap guru, kepala sekolah, dan suasana sekolah sendiri perlu ditata saling menghargai. Guru dituntut berkepribadian yang utuh karena mau memberikan teladan yang utuh. Maka guru diajak untuk mengembangkan kepribadiannya dalam semua segi kehidupan: segi moralitas, emosionalitas, sosialitas, dan spiritualitas.

Komunikasi dengan Siswa dan Hidup Berdemokrasi

Komunikasi menjadi alat yang penting untuk dapat mengenal siswa lebih mendalam dan akhirnya dapat membantu siswa lebih tepat. Dengan komunikasi yang baik siswa akan senang mengungkapkan potensi dirinya, entah segi positif dan negatifnya. Dengan komunikasi yang baik, nilai yang ingin disampaikan akan mudah diterima siswa. Kemampuan berkomunikasi dengan siswa terus perlu dikembangkan dan dilatih bila guru ingin sungguh membantu siswa berkembang.

Relasi guru dan siswa sebaiknya dialogal, di mana guru dan siswa saling menghargai, saling mengungkapkan diri, saling membantu dan terbuka. Dengan dialogal banyak persoalandapat dibicarakan dan dapat dipecahkan. Dengan dialogal, keinginan dan gagasan siswa diterima, dihargai, dan bahkan digunakan bersama dalam menentukan policy.

Dengan dialogal, pribadi siswa dihargai sebagai sesama manusia yang tidak lebih rendah dari guru. Di sini kadang dari pihak guru dituntut untuk lebih sabar, lebih terbuka, dan kadang lebih rendah hati untuk mendengarkan gagasan, ide, dan usulan siswa yang kadang tidak tepat.

Bangsa ini mau dikembangkan menjadi bangsa yang lebih demokratis di mana tidak ada diskriminasi dan opresi. Dalam demokrasi itu hak asasi dan penghargaan terhadap orang lain, termasuk kerelaan hidup dan bekerjasama dengan orang lain yang berbeda, perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Untuk membangun hidup berdemokrasi itu, siswa diharapkan juga mempunyai kompetensi hidup berdemokrasi.

Guru diharapkan membantu pendidikan demokrasi ini. Untuk itu guru sendiri memang harus paham dengan maksud demokrasi dan hidup dalam semangat demokrasi. Dengan kemampuan itu diharapkan guru dan siswa berkembang menjadi manusia yang lebih madiri dalam kehidupan ini dan rela hidup bersama orang lain, juga kalau mereka berbeda agama, suku, tinglat ekonomi. Itu lah dasar untuk dapat berbangsa dan bernegara secara demokratis. Sehingga belajar sepanjang hayat bukan hanya slogan semata, tetapi benar-benar diterapkan dalam hidup ini.**

Penulis adalah Guru SMKN 1 Mempawah Hulu, Kabupaten Landak

loading...