Guru Mengunjungi Rumah Siswa yang Tak Memiliki Ponsel Android

MENGAJAR: Salah seorang guru SDN 11 Dusun Sangku Desa Dara Itam 1 Kecamatan Jelimpo Kabupaten Landak, Edam, mengajar siswanya secara lansung di masa pandemi Covid-19. Daerahnya tak memiliki sinyal internet, sehingga metode belajar masih digunakan secara luar jaringan (Luring). Foto Istimewa

Perjuangan Guru di Daerah Tanpa Sinyal Saat Pandemi Covid-19 Melanda

MINIMNYA akses sinyal seluler dan membuat puluhan sekolah di Kabupaten Landak kesulitan menjalankan pembelajaran jarak jauh. Para guru harus membuka kelas di rumah, hingga mengunjungi satu per satu rumah siswa, agar mereka tak semakin ketinggalan pelajaran.

MIFTAHUL KHAIR – Ngabang

Di sini, belajar dari rumah tak berjalan mulus. Keterbatasan sinyal dan listrik membuat sebagian siswa tak dapat menjalankan pembelajaran dengan metode daring. Sistem pembelajaran daring harus diganti dengan pemberian materi dan tugas tiap minggu.

Di SDN 03 Desa Tenguwe, Kecamatan Air Besar misalnya. Di daerah yang masih tak tersentuh sinyal internet ini, para guru harus putar otak agar para siswa tetap mendapat asupan pelajaran, meskipun dari rumah.

“Dari total 116 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6, mungkin hanya sekitar 30 anak yang bisa mengakses internet,” kata Beni Agus Prasetyo, salah seorang guru di sekolah tersebut kepada Pontianak Post, Sabtu (16/5).

Ia menceritakan, untuk dapat mengakses internet warga desa harus mendaki satu bukit bernama Bukit Kelumik. “Bukit inilah yang ada sinyal internet,” katanya. Sementara daerah lain yang ada sinyal internet adalah desa di sekitar kantor perusahaan PT BMP. “Jadi bagi anak2 yang tinggal di PT BMP, mereka dapat mengakses internet untuk mengerjakan tugas,” tambahnya.

Sejak awal Mei lalu, desa yang berjarak sekitar dua jam dari pusat kecamatan ini sudah bisa mengakses internet tanpa harus mendaki Bukit Kelumik. Untuk sementara sinyal tersebut terbilang lancar untuk sekadar membuka media sosial seperti whatsapp. Akan tetapi tak cukup stabil untuk pembelajaran daring seperti konferensi video, atau melalui video yang diberikan oleh Pemkab.

Alhasil, cara lain dipilih. Wali kelas memberikan materi dan tugas kepada masing-masing ketua kelas. Nantinya, mereka akan membagikannya kepada para siswa. Tugas tersebut dikumpulkan dalam tempo satu minggu untuk dinilai.

Selain itu, para guru tetap harus secara langsung bertatap muka dengan para siswa. Secara bergantian, guru mengunjungi rumah siswa yang orang tuannya tak memiliki ponsel android.

“Ada pula guru yang membuka layanan belajar di rumahnya. Jadi beberapa siswa yang datang ke rumah,” ceritanya.

Pandemi Covid-19 diakuinya semakin membuat Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) di sekolahnya jauh dari kata efektif. Apa mau dikata, SDN 03 Tenguwe memang masih dalam usahanya untuk bangkit dari bencana banjir bandang yang menerjang daerah tersebut beberapa waktu lalu. Kala itu, semua buku pelajaran rusak terendam air.

Akan tetapi, para guru tetap berusaha agar para siswanya tak semakin tertinggal dari wilayah lainnya. Ia pun mengharapkan dukungan para orang tua untuk dapat membantu sang anak ketika belajar di rumah.

“Beberapa orang tua murid ada yang sangat baik perhatiannya. Tapi ada beberapa orang tua yang sama sekali tidak memperhatikan. Ya mungkin 10 persen sampai 20 persen yang acuh,” katanya.

Ia berani berkata demikian, karena ketika tugas dikumpulkan, tak semua siswa dapat mengerjakan. Bahkan beberapa siswa tak mengerjakan sama sekali.

Meski begitu, ia tak pula menyalahkan para orang tua. Karena faktanya, tak semua orang tua mampu untuk membantu sang anak belajar. Apalagi di pedalaman, banyak orang tua yang buta huruf.

“Ketika didatangi ke rumah, orang tuanya jawab, saya ndak bisa bantu jawab pak. Di rumah ndak ada buku. Saya pun ndak bisa baca,” katanya menceritakan.

Keadaan tak jauh berbeda di Dusun Sangku Desa Dara Itam 1 Kecamatan Jelimpo. Di sini, tak sedikit siswa yang lebih memilih turun ke sawah dari pada belajar di rumah. “Kalau di kampung kami biasanya anak-anak malah memilih pergi ke sawah ketimbang mengerjakan tugas,” kata Lestari, seorang guru di SDN 11 Dusun Sangku lewat sambungan selular, Minggu (17/5).

Selama pandemi ini, pihak sekolah turut menerapkan kebijakan sekolah dari rumah, yakni dengan memberikan buku pelajaran dan bank soal kepada setiap siswa. Kemudian, siswa diminta untuk membuat ringkasan berupa catatan dari materi yang ada di buku tersebut.

Setelah itu mereka mengerjakan tugas di bank soal. Tugas lalu dikumpulkan kepada guru untuk dikoreksi dan diberi penilaian. “Disdikbud Landak tak mengharuskan pembelajaran dengan model daring. Metode yang kami gunakan pun tergantung situasi masing-masing sekolah, mas. Yang penting siswa tetap ada dan bisa belajar di rumah,” kata guru kelas 4 ini.

Ia menyebut, selama metode ini terpaksa dilaksanakan, tak banyak siswa yang mau mengerjakan tugas mingguan tersebut. Lestari bercerita, ia pernah memberikan tes bank soal kepada siswa. Dari total 33 orang, hanya 10 yang mengumpulkan. Artinya, lebih dari setengah siswa ketinggalan pelajaran selama pandemi ini.

“Memang semakin sulit untuk dikatakan efektif. Saya rasa mereka tidak membuka atau membaca buku yang diberikan sekolah,” katanya.

Ia pun berharap, pandemi Covid-19 dapat segera berakhir agar pendidikan di pedalaman tak semakin tertinggal. Dalam satu bulan terakhir para siswanya sudah ketinggalan banyak pelajaran. Ia pun tak dapat membayangkan apabila metode belajar ini harus diperpanjang.

“Kami semua berdoa agar pandemi ini dapat berakhir agar anak-anak dapat belajar seperti biasa lagi. Supaya dapat mengejar ketertinggalan lagi,” harapnya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Landak, Hery Mulyadi proses belajar dari rumah selama pandemi Covid-19 di Landak dilakukan dengan dua metode, yakni pembelajaran daring dan luring. Pembelajaran daring dilakukan untuk murid yang memiliki akses internet, sedangkan pembelajaran luring ditujukan untuk siswa-siswi yang tak bisa mengakses internet dari rumah.

Pembelajaran secara daring menggunakan video pembelajaran yang telah dibuat oleh guru-guru di Kabupaten Landak. Video ini bisa diakses lewat media sosial Youtube, instagram Facebook dan Telegram. Sementara pemberian materi dan tugas menggunakan Whatsapp maupun email orang tua dan siswa.

Selain itu, di sejumlah sekolah di perkotaan, pihaknya menggunakan aplikasi Google Classroom sebagai pengganti media pembelajaran. Sementara tugas aplikasi penilaian online seperti quizizz maupun Google form.

Ia mengatakan, pembelajaran kepada siswa selama pandemi ini hanya bersifat untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

“Semua itu karena proses penilaian sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan dengan berpedoman kepada nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang sudah ditetapkan satuan pendidikan,” katanya.

Hanya Separuh

Tidak semua siswa dapat mengakses pembelajaran secara daring. Hal ini dikarenakan kondisi jaringan internet yang masih sangat terbatas. Murid dan guru sebagian di antaranya mesti berjuang dengan kondisi ekstrem.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh pihaknya, hanya sekitar 60 persen siswa yang dapat melaksanakan pembelajaran secara daring. Keterbatasan akses internet itu karena sebagian wilayah Landak yang tergolong blankspot atau tak terjangkau sinyal seluler.

Bagi siswa yang tidak bisa mengakses pembelajaran melalui media yang ada maka kepala sekolah dan guru melakukan tugas berkunjung ke rumah siswa yang berdekatan untuk menyampaikan materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan. Materi tersebut disampaikan melalui laptop kepada siswa dengan jumlah yang dibatasi.

Setelah pemberian materi tersebut, siswa diberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Tugas tersebut diantar dan diambil langsung kepada siswa. “Belajar dari rumah ini lebih mengutamakan keselamatan dan kesehatan,” ujar Hery. (*)

 

Read Previous

Tertinggi, Kasus Covid Bertambah 973 Orang, Total menjadi 20.162

Read Next

PT LAIK  Bantu Sembako dan APD di Sambas