Guru sebagai Aktivator: “Mastery Learning”

Oleh Leo Sutrisno

Profesor John Hattie, 2009, menunjukkan bahwa guru yang berperan sebagai aktivator mempunyai effect size (ES) yang jauh lebih tinggi (ES=0.60) dibandingkan dengan guru yang berperan sebagai fasilitator (ES=0.17).

Beberapa metode pembelajaran yang lebih menempatkan guru sebagai aktivator ketimbang sebagai fasilitator. Di antarnya adalah: reciprocal teaching (ES = 0.74), umpan balik (0.72), teaching student self-verbalization (0.67), strategi metakognisi (0.67), direct instruction (0.59), mastery learning (0.57), goal-chellenging (0.56), frekuent testing (0.46), serta behavioral organizer (0.41).

Dalam tulisan ini disajikan strategi ‘mastery learning – belajar tuntas. Meta analysis dari 369 penelitian tentang hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan strategi belajar tuntas menunjukkan harga Effect Size (ES) sebesar 0.57.

Harga ini jauh di atas harga ES rerata (Mean = 0.40; SD = 0.06) yang diperoleh dari hasil rangkuman 50.602 penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar 241 juta siswa yang diasuh oleh 80 juta guru.

Setrategi belajar tuntas, bagi sebagian besar pengajar di Indonesia, bukan sesuatu yang baru, Bahkan, justru strategi pengajaran ini hampir selalu diingatkan dalam setiap kegiatan pertemuan/pelatihan para guru. Terutama, sejak diimplementasikan Kurikulum 2013.

Ada dua hal yang khas dari strategi bejaran tuntas. Pertama, siswa mengikuti proses pembelajaran seperti yang biasa dilakukan di kelasnya dengan strategi apa pun, Kedua, setelah satu atau beberapa pokok materi ajar diselesaikan, siswa mengikuti tes hasil belajar untuk menentukan apakah siswa yang bersangkutan sudah tuntas atau belum. Mereka yang belum tuntas diwajibkan mengikuti kegiatan diagnose-remediasi. Kegiatan ini yang banyak dipraktekkan keliru.

Sayang, di banyak sekolah, pelaksanaan kegiatan diagnose-remediasi itu bukan untuk membuat siswa tuntas dalam menguasai poko bahan yang diterimanya. Tetapi, kegiatan itu digunakan untuk mengangkat nilai siswa agar mencapai nilai kompetensi minimum.

Read Previous

Ayo #dietplastik dari Sekarang

Read Next

Tahap Pembebasan Lahan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *