Habitat Rusak, Bayi Orangutan Ditemukan Membusuk

MEMBUSUK: Bayi orangutan yang ditemukan mati di lahan yang sudah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. ISTIMEWA

KETAPANG – Yayasan Palung melakukan investigasi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya hutan yang menjadi habitat orangutan. Hasilnya cukup mengejutkan. Selain menemukan banyak habitat orangutan yang rusak, mereka juga menemukan anak orangutan yang mati di tengah lahan yang sudah beralih fungsi.

Perwakilan dari Yayasan Palung, Muhammad Rizal Al Qadrie, mengatakan, kegiatan investigasi dilakukan mereka sepanjang 6 – 8 Agustus. Wilayah yang diinvestigasi mereka yaitu Kecamatan Matan Hilir Selatan. “Tujuan utama investigasi ini adalah menggali informasi dan sekaligus mendokumentasikan kebakaran lahan di habitatnya orangutan yang berlokasi di hutan Desa Pematang Gadung,” kata Rizal, kemarin (3/9) di Ketapang.

Dia menjelaskan, investigasi ini juga tidak mengesampingkan kasus kejahatan terhadap satwa dilindungi. Dimisalkan dia seperti kasus konflik antara lahan, maining, logger, perkebunan, orangutan dan manusia. “Pada bulan Agustus 2019 dilakukan juga investigasi lanjutan selama lima hari, mulai tanggal 26 – 30 Agustus 2019. Investigasi ini dilanjutkan kembali karena Yayasan Palung menerima informasi baru tentang kematian satu individu bayi orangutan pada tanggal 17 Agustus 2019,” jelasnya.

Pihaknya mendapatkan laporan dari masyarakat terkait penemuan bayi orangutan yang sudah mati di tengah lahan yang sudah beralih fungsi. Menurutnya, bangkai bayi orangutan tersebut langsung dikuburkan oleh pihak-pihak terkait, tanpa mencari tahu sebab kematian serta melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Dia mengungkapkan, dari hasil informasi yang diterima Yayasan Palung, orangutan sudah sering terlihat di lokasi tersebut.

“Dari hasil indentifikasi lanjut menurut masyarakat yang bekerja di lahan pekebunan, mereka sering kali menemukan lebih dari tiga individu orangutan yang berada di sekitar hutan dari sisa pembukaan lahan, untuk perkebunan sawit milik koperasi. Luas lahan keseluruhan diperkirakan sekitar 1030 hektare dan yang sudah digarap sekitar 600 hektare,” ungkapnya.

“Padahal sebelumnya koperasi tersebut sempat diperiksa oleh Gakkum dan BRG karena lahan meraka masuk ke wilayah moratorium gambut. Tapi pengurus koperasi tetap melanjutkannya,” lanjutnya.

Dia juga menegaskan, saat ini tim hanya tahu lokasi dan nama pelaku dan belum mempunyai bukti yang kuat seperti barang bukti berupa satwa liar yang diperjual belikan. (afi)

Read Previous

Perlu Tahu Aspek Hukum Kontrak

Read Next

Menanti Kejutan Lainnya

Tinggalkan Balasan

Most Popular