Harga Ayam Dekati HET

HARGA AYAM: Warga berbelanja ayam potong di Pasar Flamboyan, pekan lalu. Harga ayam potong cenderung berubah, selain dipengaruhi stok, perayaan hari besar juga menjadi momen penjual menaikkan harga sesaat. HARYADI/PONTIANAK POST

Tren kenaikan harga daging ayam masih berlangsung pada November 2020. Naiknya harga komoditas pangan tersebut tidak terlepas dari berkurangnya pasokan akibat menurunnya produksi. Alhasil, harga ayam di Kalbar saat ini mendekati harga eceran tertinggi (HET).

SITI SULBIYAH, Pontianak

KEPALA Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat, Muhammad Munsif mengatakan, harga daging ayam sejak awal November cenderung naik di semua daerah region Kalimantan. Apabila dibandingkan dengan bulan Agustus, September, dan Oktober, kata dia, harga daging ayam hingga pertengahan November ini lebih tinggi.

“Kalau data hariannya sejak satu Agustus sampai dengan 16 November 2020 juga menunjukkan tren yang sama (naik),” ungkap dia.

Sepanjang periode awal Agustus hingga akhir Oktober, tutur dia, meski tren harga terus meningkat bertahap, namun harga masih di bawah HET. Seperti diketahui, HET daging ayam adalah Rp35 ribu perkilogram. Menurutnya, sejak awal November sampai dengan saat ini, harga ayam masih berfluktuasi dan terkadang lebih sedikit dari HET. Meski cenderung mengalami kenaikan harga, namun kata dia, harga ayam di Kalimantan Barat tercatat paling rendah dibandingkan provinsi lainnya di Kalimantan.

“Sebagai contohnya, pada posisi per-16 November, di Kalbar harga rata-rata Rp34.874 ribu perkilogram, mendekati harga rata-rata nasional. Sementara di Kalsel sudah di Rp42.100 perkilogram,” tutur dia.

Munsif menilai, turunnya produksi DOC (day old chicken) ayam broiler pada bulan September, menjadi penyebab naiknya harga ayam segar di pasar. Berdasarkan penelurusan yang dilakukan, pihaknya menemukan bahwa produksi DOC ayam broiler pada September 2020 tercatat mengalami penurunan yang cukup besar. Dia menyebut, penurunan DOC ayam tersebut diperkirakan sekitar 500 sampai 750 ribu ekor. Kondisi ini menurutnya diakibatkan oleh adanya satu perusahaan Breeding Farm yang berhenti beroperasi.

“Ini efeknya terasa satu bulan kemudian,” tutur dia.

Adapun upaya yang dilakukan oleh pemerintah, lanjut dia, adalah dengan memberi ruang ke fresh breeding farm, untuk memasukkan telur tetas dari luar Kalimantan Barat dalam jumlah yang terukur, agar kapasitas mesin tetas terpasang yang mereka miliki dapat dioptimalkan. Perkembangan harga dikatakan dia akan mereka ikuti intensif setiap hari.

“Bila trennya terus menguat, kami tentu akan membuka ruang pemasukan daging ayam ras beku dari luar kalbar oleh perusahaan pemilik cold storage dan telah memiliki NKV atau perizinan dengam pengawasan yang terukur. Opsi lainnya adalah memberi ruang masuknya ayam ras hidup dari luar Kalbar, sepanjang harga di daerah asalnya lebih murah,” pungkas dia.

Sebelumnya, pada Oktober 2020, daging ayam teratat sebagai komoditas yang mengalami kenaikan harga tertinggi dan menjadi penyumbang inflasi terbesar di provinsi ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kalbar mengalami inflasi pada Oktober 2020. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada kelompok makanan, dengan daging ayam menjadi tercatat sebagai komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi. Adapun komoditas-komoditas  yang mengalami kenaikan harga pada Oktober 2020, mulai dari yang tertinggi secara berurutan, antara lain daging ayam ras, minyak goreng, tauge/kecambah, bawang merah, cabai merah, ikan baung, ikan bawal, ikan tenggiri, ayam hidup, dan sawi hijau. (*)

error: Content is protected !!