Harga Cabai Turun karena Barang Melimpah

Pedagang di Pasar Grosir Ngronggo menumpahkan cabai ke tempat penjualan. Musim panen cabai menjadikan harganya murah.

KEDIRI–Ketersediaan barang melimpah. Itu yang kini banyak terjadi di hampir semua komoditas pertanian. Ironisnya, kondisi itu menjadikan harga jualnya menjadi menurun. Salah satunya adalah komoditas cabai. Harga berbagai jenis cabai mengalami penurunan di pasar-pasar tradisional. Kini, di pasaran harganya Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram.

“Memang turun (harga cabai) Mas. Sekarang ini antara itu, 17 ribu sampai 18 ribuan. Itupun tergantung kualitasnya,” kata Parjo Lombok, pedagang di Pasar Grosir Buah dan Sayur Ngronggo.

Melimpahnya stok cabai, serta harga yang murah, ternyata tak berimbas pada peningkatan penjualan. Sebab, jumlah pembeli juga ikut-ikutan turun. Seperti kemarin misalnya, saat ditemui di lapaknya, pedagang yang biasa dipanggil Pak Jo itu mengaku mengalami penurunan penjualan.

“Ya turunlah Mas (penjualannya). Barangnya banyak, sudah murah juga. Tapi jarang yang beli,” ungkap laki-laki berusia 58 tahun tersebut.

Parjo juga menjelaskan saat ini omzetnya turun hingga 30 persen dibanding hari-hari  biasa. Dalam kondisi normal ia bisa menjual sekitar 10 kuintal dalam sehari. “Sekarang ya sekitar 6 kuintal sampai 8 kuintal itu mentok Mas,” paparnya.

Menurutnya, ada beberapa penyebab harga cabai melorot. Selain karena melimpah dan sedang masa panen, kualitasnya juga jelek. Penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi. Juga, karena cabai memang tak bisa tahan lama ketika sudah dipetik.

Tak hanya cabai rawit, dilapaknya ia juga menjual cabai hijau lalap yang harganya juga jatuh. Saat ini cabai hijau lalap hanya dijual dengan harga Rp 10 ribu per kilogram.

Wakini, pedagang lain di pasar tersebut, mengamini bila harga cabai rawit yang turun drastis. Menurutnya sebelum turun hampir seminggu ini, dulu harga cabai rawit di kisaran Rp 30 ribu per kilogram.

“Cabai rawit kebetulan gak bawa banyak ini. Cuma tinggal sedikit, ini harganya Rp 18 ribu per kilogram,” ujarnya.

Menurut perempuan yang berjualan hingga sore hari tersebut, tren harga cabai rawit memang terus menurun. Terlebih dengan adanya pandemi korona ini membuat masyarakat jarang berbelanja ke pasar. “Turun pasti, sekarang saja itu per harinya kira-kira jual cabai rawit 1 kuintal,” imbuhnya.

Miftah, 24, juga tidak membantah penurunan harga cabai rawit ini. Bahkan ia mengatakan cabai rawit yang dijual saat ini banyak namun kualitasnya kurang bagus.

Sementara itu, dikonfirmasi secara terpisah Ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesia Kabupaten Kediri Suyono membenarkan penurunan harga cabai tersebut. Bahkan semua jenis cabai mengalami penurunan. Penyebabnya karena jumlah stok cabai rawit yang melimpah. Penurunan harga di level petani terjadi sejak minggu kedua April.

“Memang (harga turun karena) mendekati panen raya. Bahkan diperkirakan hingga pertengahan Mei karena kebutuhan masyarakat menurun. Terlebih karena efek penyebaran Covid-19 ini,” urainya.

Untuk harga cabai rawit di tingkat petani saat ini berada di harga Rp 13.500 per kilogram untuk cabai jenis brenggolo, prentul Rp 12 ribu per kilogram, dan cabai ori Rp 14.500 per kilogram.

Suyono juga menjelaskan saat ini kualitas cabai rawit dari petani tergolong bagus. Terutama yang berasal dari daerah dataran tinggi di Kabupaten Kediri.

Selain panen melimpah, faktor pengiriman cabai terutama ke Jabodetabek tersendat imbas dari penerapan PSBB juga jadi penyebab. Juga karena pengiriman antarpulau yang tersendat akibat dilarang bersandarnya kapal.

“Pasar di Jawa Timur pun permintaannya  turun, imbas dari sepinya konsumen,” pungkasnya. (sam/fud)

error: Content is protected !!