Harga CPO Tahun 2020 Lebih Tinggi

TERUJI: Di tengah situasi pandemi, komoditas sawit mampu bertahan dan harga CPO (crude palm oil/minyak sawit) justru meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. AFP

PONTIANAK – Sebagai salah satu komoditas ekspor yang berperan strategis bagi perekonomian nasional maupun daerah, pergerakan harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sepanjang tahun 2020 menjadi menarik untuk ditelisik. Meski dilanda pandemi Covid-19, harga CPO di tingkat Dunia justru menunjukkan tren positif. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Barat mencatat harga CPO tahun 2020 lebih baik dibandingkan tahun 2019.

“Di tengah situasi daerah dilanda pandemi Covid 19, ternyata komoditi sawit cukup teruji daya tahannya bahkan posisi harga tahun 2020 lebih baik jika dibandingkan dengan harga rata-rata CPO pada tahun 2019,” ungkap Ketua Gapki Kalbar, Purwati Munawir, kemarin.

Pihaknya mencatat, harga rata-rata CPO selama tahun 2020 berada pada posisi Rp8.117 per kilogram, dengan harga tertinggi pada kuartal IV tahun 2020 yaitu sebesar Rp9.373 per kilogram. Menurutnya, Pergerakan harga sepanjang tahun 2020 relatif stabil dengan sedikit berfluktuasi turun walaupun tidak signifikan pada triwulan ke III dengan harga terendah pada kisaran Rp6.265 per kilogram. Sementara, pada tahun 2019 harga rata-rata CPO sebesar Rp 6.540 per kilogram, di mana harga terendah sebesar Rp 5.877 per kilogram pada januari 2019 dan harga tertinggi pada bulan Desember 2019 dengan harga Rp8.155 per kilogram

Dia menilai, pergerakan harga CPO cenderung semakin membaik sejak tahun 2019 dan diperkirakan masih tetap bergerak naik setidaknya sampai semester 1 /2021. Namun demikian, menurutnya strategi pasar masih harus dikawal terutama terkait dengan efisiensi tata kelola sawit dilapangan.

“Jika mereview sifat iklim tahun 2019 – 2020 yang cukup kondusif bagi pertanaman sawit diharapkan kinerja produksi pada tahun 2021 tetap baik dengan proyeksi produksi setidaknya sama dengan produksi tahun 2020 yaitu lebih kurang 6 juta ton terdiri dari 5 juta ton untuk CPO dan 1 juta ton untuk PK (Palm Kernel),” tutur dia.

Selain itu, serapan pasar global terutama ke negara cina, India diperkirakan masih tetap baik hal ini dipengaruhi oleh daya saing CPO yang cukup kuat terhadap minyak nabati lain, sebut saja seperti kedelai dan jagung, karena produksi yang cenderung terbatas. Kondisi harga yang baik ini dapat berpengaruh positif bagi sisi penerimaan petani sawit kita, sehingga diharapkan dari sisi pengeluaran dapat terkelola dengan baik.

Naiknya harga CPO di tingkat dunia, berdampak terhadap kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang dijual oleh pekebun. Hal ini diakui oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalbar, Indra Rustandi. Menurutnya, harga TBS saat ini dalam tingkatan yang sangat bagus bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dia menyebut, harga TBS saat ini tembus sekitar Rp2.100 per kilogram. Kondisi ini, membuat para pekebun sawit bersemangat untuk meningkatkan produksi buah mereka.

Harga bagus sehingga petani menjadi lebih semangat walau saat ini musim hujan,” tutur dia.

Dia berharap tren positif ini terus berlanjut, baik dari segi harga maupun penyerapan sawit. Asosiasi, kata dia, sangat mendukung kebijakan energi terbarukan B30 yang diyakini akan banyak menyerap sawit lokal. Apabila permintaan stabil, kata dia, maka harga sawit yang diterima oleh petani pun akan ikut stabil. “Sehingga harga stabil di kisaran Rp2.000an per kilogram, dan kami akan semakin sejahtera,” tutur dia. (sti)

error: Content is protected !!