Harga Daging Ayam Melandai

PEDAGANG AYAM: Ayam pedaging siap jual di lapak salah satu pasar tradisional. Komoditas daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar pada bulan Juli 2020. DOK-PONTIANAK POST

Kalbar Deflasi

PONTIANAK – Kalimantan Barat (Kalbar) pada Juli 2020 mengalami deflasi sebesar 0,38 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 105,62. Deflasi terjadi pada tiga kota IHK yang ada di provinsi ini. Komoditas daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar pada bulan tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan ketiga kota IHK yang mengalami deflasi itu yakni Kota Pontianak sebesar 0,37 persen dengan IHK sebesar 105,65, Singkawang sebesar 0,45 persen dengan IHK sebesar 102,78, dan Sintang sebesar 0,43 persen dengan IHK sebesar 110,24.

“Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks pada lima kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks dari yang paling tinggi yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,05 persen,” ungkap dia, Senin (3/8).

Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Juli 2020 antara lain, daging ayam ras, tarif angkutan udara, bawang merah, bawang putih, gula pasir, dan jeruk. Sedangkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Juli 2020 adalah ikan tongkol, uang sekolah Dasar, kacang panjang, cabai rawit, emas perhiasan, dan bayam.

Dengan begitu, tambah dia, maka tingkat inflasi tahun kalender sampai dengan Juli 2020 sebesar 1,69 persen. “Sementara tingkat inflasi tahun ke tahun atau Juli 2020 terhadap Juli 2019, sebesar 1,81 persen,” tutup dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Muhammad Munsif mengatakan, saat ini harga daging ayam ras berangsur turun, setelah sebelumnya tembus pada kisaran Rp40 ribu per kilogram. Dalam 10 hari terakhir ini, kata dia, harga daging ayam berada pada kisaran Rp28.500 sampai dengan Rp36.500 per kilogram.

Harga ini sudah sesuai dengan harga acuannya sebesar Rp34.000 per kilogram. “Sedangkan untuk telur, ada pada kisaran Rp26.000 sampai 28.250 per kilogram, dengan harga acuannya Rp24.000 per kilogram. Sedikit lebih mahal tapi dalam tingkat yang masih aman,” tutur dia.

Dia mengatakan, pada kondisi permintaan normal, harga daging ayam dan telur ayam ras dipengaruhi langsung oleh variabel harga, terutama pakan selain harga bibitnya. Hal ini karena sekitar 70 persen biaya produksi daging dan telur adalah komponen pakan.

Jadi, kata dia, pada masa pandemi seperti ini, hal yang diharapkan adalah tidak terganggunya kemampuan negeri dan daerah untuk terus menanam dan memproduksi jagung sebagai bahan utama produksi dan penyediaan pakan ternak unggas baik dengan skala industri maupun pakan ternak lokal.

“Diharapkan tren permintaan daging ayam secara berangsur pulih dan normal kembali. Kondisi tersebut akan menjadi motivasi peternak untuk mengisi kandangnya dan meningkatkan produksi daging maupun telur ayam yang diperlukan masyarakan sebagai sumber protein,” pungkas dia. (sti)

loading...