Harga Karet Kalbar Sulit Naik

KARET: Bahan olah karet hasil sadapan petani di Kalbar dianggap kurang memenuhi standar mutu. Hal ini membuat harganya sulit naik.

PONTIANAK – Tak seperti kelapa sawit yang melejit harganya baru-baru ini, harga karet masih stagnan. Harga karet di Kalimantan Barat masih berada di bawah Rp10.000 per kilogram. Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Barat, Heronimus Hero menyebutkan harga karet tidak hanya ditentukan oleh permintaan global, melainkan juga kualitas karet tersebut. Menurutnya, pengepul masih menganggap kualitas karet asal Kalbar tergolong rendah. Ditambah lagi, kuantitas produksi petani yang kurang optimal.

“Produktivitas dan kualitas masih menjadi kendala petani karet kita. Sebagian masyarakat juga menghasilkan bbokar (bahan olah karet) dengan mencampur material lain sehingga kualitasnya rendah. Tujuannya agar berat bokar bertambah. Mutu Bokar yang rendah menyebabkan harga di tingkat petani juga rendah,” ujarnya kepada Pontianak Post,kemarin (13/2).

Karet tersebut ujung-ujungnya harus dibersihkan lagi agar sesuai dengan standar mutu. Pada titik ini, pengepul justru menikmati untung dari pembersihan karet tersebut. Pasalnya eksportir maupun pabrikan hanya mau menerima karet dengan mutu baik. Pihaknya tengah berusaha untuk mengatasi hal itu. Caranya dengan memberikan fasilitasi benih bermutu, pembentukan Unit Pengolah dan Pemasar Bokar (UPPB). “Jadi hanya ada pekebun produser – UPPB – pabrikan. Pekebun dapat harga yang wajar, UPPB mendapat margin, dan pabrikan dapat Bokar bermutu,” kata Hero.

Hanya saja kata Hero sebagian besar yang ditanam masyarakat Kalbar adalah karet lokal. Dengan begitu produktivitasnya relatif rendah sekitar 3000 liter lateks per hektare per tahun atau setara dengan 700 kilogram kadar karet kering (K3). “Produktivitas hasil karet petani kita masih di bawah nasional dan jauh di bawah Malaysia dan Thailand yang sudah mencapai 1800 kiloggram K3,” katanya.

Juniarti, petani karet, menyebutkan bahwa saat ini harga karet kering di tingkat petani di kisaran Rp8.000 – Rp10.000 per kilogram  “Bahkan juga pernah sempat baru – baru ini harga karet mencapai Rp11.000 per kilogram. Namun untuk harga tersebut sangat jarang. Harga karet relatif stabil tidak ada kenaikan yang signifikan. Tentu harga yang ada masih tidak sesuai harapan petani,” jelas dia.

Komoditas karet sendiri menjai salah satu yang paling banyak ditanam masyarakat Kalbar. Karet sempat jadi primadona Kalbar dan nasional pada periode 1980 dan 1990 lantaran harganya yang menarik. “Meskipun sampai saat ini juga karet masih menjadi andalan bagi sekitar 313 ribu lebih kepala keluarga di Kalbar. Di daerah ini luas tanam karet juga cukup besar menempati lebih dari 600 ribu hektare,” tukasnya.

Beberapa waktu lalu, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar, Jusdar Sutan menjelaskan banyak kebun karet di Kalbar yang sudah tidak seproduktif dulu. Dia meminta kepada pemerintah dan para petani agar melakukan peremajaan pohon karet. Tujuannya agar getah yang dihasilkan meningkat kuantitas dan kualitasnya. Dengan adanya peremajaan maka produktivitas akan meningkat dan berkorelasi positif terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani.

Dia juga mengimbau kepada para petani dan penyadap untuk menjual karet dengan kualitas bagus, agar harga yang diberikan dari produsen tinggi. “Harga tergantung kepada kadar karet keringnya (K3). Semakin tinggi K3, semakin tinggi harganya. Jangan mencampur karet dengan sampah atau hal yang membuat timbangannya menjadi lebih berat, karena akan ketahuan,” ujarnya. (ars)

Read Previous

Tercepat Dapatkan Kucuran Dana Desa

Read Next

Kapolda Baru Fokus Pilkada

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *