Harga Kedelai Belum Turun

DIKEMAS : Para pekerja sedang mengemas butiran-butiran kedelai yang sudah dicampur ragi ke dalam plastik. SITI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Harga kedelai belum juga turun sejak mengalami kenaikan sejak tahun lalu. Permintaan yang meningkat di pasar dunia, menjadi sebab utama kenaikan harga bahan baku utama tahu dan tempe ini.

Para pengrajin tempe menjerit lantaran pendapatannya menurun. “Dampaknya ini, dari sisi pengrajin tempe pendapatan berkurang,” ungkap Nasih Amin, pengrajin tempe di usaha Tempe Asli HB Pontianak, Selasa (6/4).

Nasih menyebut, harga kedelai tahun lalu masih pada kisaran Rp7.500-8.000 per kilogram, sementara pada November 2021 sebesar Rp9.300 per kilogram, kemudian melonjak lagi hingga Rp103.000 per kilogram pada saat ini. Meski tak mengalami kekurangan pasok, namun akan kondisi ini, pihaknya bersiasat dengan memperkecil ukuran tempe, guna mencegah kenaikan harga. “Dulu yang beratnya 450 gram, sekarang kita jual dengan bobot 350 gram atau ada penurunan 1 ons, namun harga tetap sama Rp5.000,” kata dia.

Namun, apabila harga kedelai ini terus mengalami kenaikan, pihaknya tidak mungkin terus-terusan memperkecil ukuran tempe. Menurutnya, situasinya kini semakin sulit, terlebih harga plastik pembungkus tempe, juga ikut mengalami kenaikan. “Harapan saya ada langkah pasti dari pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan harga yang lebih tinggi,” pungkas dia.

Sementara itu, pemasok kedelai di Kalimantan Barat (Kalbar), Andreas Eko, mengakui harga kedelai masih tinggi, dan belum menunjukkan adanya tren penurunan. “Harga kedelai masih tinggi dan belum ada gejala-gejala akan turun. Sekarang berkisar 10500 per kilogram, sementara tahun lalu pada Juni Rp7800,” kata Eko, Selasa (6/4).

Eko menduga, kenaikan harga lantaran permintaannya meningkat karena pertumbuhan permintaan bungkil kedelai. Permintaan kedelai di pasar global meningkat tajam sejak Agustus 2020 yang berdampak pada kenaikan harga kedelai di Indonesia. Permintaan China terhadap kedelai Amerika Serikat, sebagai produsen utama, meningkat tajam. Hal ini karena China membutuhkan banyak kedelai untuk mendukung program peningkatan populasi Babi sebanyak 130 juta ekor.

Disisi lain, persediaan kedelai di Brazil dan Argentina, dua negara penghasil utama kedelai dunia selain Amerika Serikat, menipis dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik. Mengingat pasokan yang belum ideal, Eko sebagai pemasok kedelai untuk berbagai industri di Kalbar, enggan menambah pelanggan baru. “Untuk pelanggan tetap mudah-mudahan cukup. Kita tidak menambah pelanggan baru,” kata dia.

Tak hanya menghadapi persoalan naiknya harga kedelai, pihaknya juga terkendala armada pengangkutan. “Kami punya masalah pengangkutan dan pencarian angkutan di Pontianak khususnya. Dan memang ke semua lokasi kontainer terbatas,” kata dia.

Adapun opsi yang dapat diambil oleh para pengrajin tahu dan tempe adalah menaikkan harga atau memperkecil ukuran. Terlebih selama ini harga tahu dan tempe terlalu murah jika dibandingkan dengan kandungan protein dan gizinya yang luar biasa. Karena itu pula, Eko berharap makanan berbasis kedelai ini dapat didedikasikan kepada masyarakat terkait manfaatnya.

“Pemerintah turut serta dalam mempromosikan makanan berbasis kedelai khususnya tempe sebagai sumber protein nabati yang setara dengan protein hewani khususnya daging ayam. Dan mengadakan pelatihan tentang kebersihan dan kemasan untuk pengrajin tahu tempe agar produk tahu tempe mempunyaI nilai jual lebih. Harga produk jadi memang sudah sepantas disesuaikan,” pungkasnya. (sti)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!