Harga Sawit Tembus Rekor Tertinggi

KOMODITAS EKSPOR: Seorang petani memanen buah sawit di kebunnya, beberapa waktu lalu. Meski harga sedang anjlok, sawit menjadi salah satu komoditas ekspor yang punya andil bagi perekonomian Kalbar.

Belum Terimbas Wabah Corona

PONTIANAK – Tren kenaikan harga kelapa sawit terus berlanjut. Bahkan pada paruh kedua Januari hingga awal Februari ini, harga tandan buah sawit di Kalimantan Barat nyaris tembus Rp2.000 per kilogramnya. Angka ini menjadi rekor tertinggi dalam beberapa tahun belakangan.

“Berdasarkan hasil rapat bersama pekebun untuk periode II Januari 2020 harga TBS sawit di Kalbar kembali mengalami kenaikan. Saat ini rata-rata sudah mencapai Rp1.958,91 per kilogram. Sebelumnya harga TBS sawit rata-rata Rp1.783,84 per kilogram. Dikaitkan dengan periode II Januari 2020 ini artinya ada kenaikan sebesar 9,81 persen,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar, Heronimus Hero kepada Pontianak Post.

Secara rinci, harga TBS sawit per kilogram untuk umur tiga tahun saat ini Rp1.540,98, umur empat tahun Rp1.650,23, umur lima tahun Rp1.765,29, umur enam tahun Rp1.820,72, umur tujuh tahun Rp1.886,32, umur delapan tahun Rp1.947,05 dan umur sembilan tahun Rp1.980,56.

Sedangkan harga TBS untuk umur 10 – 20 tahun Rp2.065,21, umur 21 tahun Rp2.027,35, umur 22 tahun Rp2.017,67, untuk umur 23 tahun Rp1.967,71, umur 24 tahun Rp1.899,12 dan umur 25 tahun Rp1.834,76.

Berdasaraan analisis pihaknya, kenaikan harga TBS ini terjadi karena pasaran crude palm oil atau minyak sawit mentah sedang membaik di tingkat global. Harga tinggi tersebut dipicu lagi oleh kebijakan Presiden Joko Widodo yang menerapkan Biosolar B30. Kebijakan itu dinilai telah meningkatkan permintaan dalam negeri secara signifikan. Saat ini, harga CPO berdasarakan penetapan yakni sebesar Rp9.475,16 per kilogram.

“Harga CPO dan PKO tentu dipengaruhi harga pasar internasional dan termasuk pasar dalam negeri. Lalu pemerintah pusat juga mengeluarkan B30, yang membuat permintaan B30 naik,” jelas orang yang belum lama menjabat Kadis Perkebunan ini.

Menurutnya, hal ini menjadi angin segar bagi ekonomi Kalbar. Pasalnya Kalbar adalah salah satu provinsi penghasil CPO terbesar di Indonesia. Selain itu, banyak masyarakat Kalbar yang kehidupannya tergantung dari komoditas ini.

Sementara itu, Ketua Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalbar, Mukhlis Bentara menyebutkan kenaikan harga sawit ini terjadi karena permintaan dari India dan Pakistan yang meningkat. Di sisi lain, ada sentimen positif terhadap kebijakan B30. “Kemudian sejak akhir tahun 2019 dan memasuki awal tahun 2020, produksi minyak sawit mentah juga menurun sehingga dari sisi harga mampu mendongkrak harga sawit,” pungkasnya.

Dorong Hilirisasi Sawit

Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura, Dr Thamrin Usman memperkirakan tingginya harga CPO saat ini tidak akan berlangsung lama. Penyebabnya adalah virus corona yang telah memukul perekonomian Tiongkok. “Hal itu akan membuat permintaan CPO dunia menurun, lantaran permintaan dari raksasa ekonomi dunia itu yang juga turun,” ucapnya, kemarin (13/2).

Kendati demikian, kata dia, harga CPO Indonesia belakangan ini belum banyak terpengaruh wabah corona lantaran permintaan besar dari India dan Pakistan. Hal ini pula yang memicu kenaikan harga kelapa sawit di dalam negeri. Ditambah lagi penerapan kebijakan Biodiesel 30 (B30) yang membuat permintaan kelapa sawit dalam negeri meningkat.

Wabah corona ini, kata dia, bisa menjadi pembelajaran bagi pemerintah dan pelaku industri kelapa sawit untuk tidak terlalu tergantung pada pasar ekspor. Dia mendorong pemerintah untuk membuka investasi hilirisasi kelapa sawit di dalam negeri, terutama biodiesel. Apalagi produk turunan kelapa sawit begitu banyak.

“CPO kita sekarang memang banyak diekspor ke Pakistan dan India. Tetapi di tengah situasi global yang tidak menentu sekarang ini, pemerintah harus memanfaatkan betul hilirisasi dalam negeri. Down stream products CPO begitu banyak seperti biodiesel, personal products, green carburant, dan plastik,” paparnya. (ars)

Read Previous

Pemkot Dukung Sensus Penduduk 2020

Read Next

Negatif Corona, Empat Warga Kalbar Dipulangkan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *