Haruskah Guru Mengajar Pakai Masker?

Santriadi Rizadi

Oleh: Santriadi Rizani

DULU penggunaan masker hanya kalangan dan orang-orang tertentu saja, misalnya dokter dan tenaga medis di Rumah Sakit atau Puskesmas. Namun kini, semua orang diminta untuk memakai masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah. Hal ini dilakukan dalam rangka menerapkan protokol kesehatan dari pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, yaitu (1) pakai masker, (2) jaga jarak, (3) tidak berkerumun, (4) cuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Pandemi Covid-19 yang merebak di seantero dunia sehingga menyebabkan seluruh aktivitas masyarakat ikut merasakan dampaknya, di antaranya: ‘sekolah ditutup’. Artinya tidak ada pembelajaran secara tatap muka di dalam kelas dan diganti dengan sistem pembelajaran daring atau luring.

Seiring waktu berjalan, pembelajaran daring atau luring ternyata memiliki segudang permasalahan baru dalam dunia pendidikan. Meskipun pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memberikan kuota internet belajar gratis kepada guru dan peserta didik, namun tidak berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan.

Banyak keluhan dari orangtua ketika menjadi ‘guru’ bagi putra-putrinya di rumah. Si anak bermalas-malasan belajar di rumah bersama orangtuanya, bahkan tidak sedikit anak yang enggan diajar oleh orangtuanya. Sehingga orangtuanya pun ‘naik darah’, mulai mengeluarkan nada kasar dan ‘main kasar’ kepada anak-anaknya. Orangtuapun mengeluh, ternyata sulitnya jadi guru. Baru satu anak, bagaimana dengan guru di sekolah yang banyak anak.

Fakta di lapangan juga menunjukkan terdapat sejumlah kendala dan keluhan dari orangtua peserta didik. Di antaranya, (1) dulu anak dilarang main HP, eh sekarang anak sudah bersahabat dengan HP dengan alasan mengerjakan tugas sekolah, (2) dulu hanya guru yang mengajarkan materi kepada anaknya, eh sekarang orangtua pun sudah menjadi ‘guru’ di rumahnya, (3) pengeluaran pembelian pulsa atau paket data naik drastis, (4) kekhawatiran orangtua terhadap anaknya jika ditinggal bekerja di luar rumah, selama anak bersahabat dengan HP. Belum lagi masalah jaringan atau susahnya sinyal bagi peserta didik yang tinggal jauh dari pusat kota yang mengharuskan memanjat pohon agar bisa online.

Pemangku kebijakan di negeri ini pun mengevaluasi sistem pembelajaran daring atau luring yang menyisakan sejumlah problematika di lapangan seperti yang telah diuraikan di atas. Dan akhirnya pemerintah mengizinkan pembelajaran secara tatap muka pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2020/2021 dengan syarat: (1) dalam satu kelas maksimal hanya boleh diisi 50 persen peserta didik dengan pengaturan jarak tempat duduk antarpeserta didik, (2) surat pernyataan persetujuan yang ditandatangani oleh orangtua, (3) tidak ada kegiatan ekstra dan olahraga di lapangan, (4) tidak ada jam istirahat dan kantin tidak boleh buka.

Dibolehkannya pembelajaran tatap muka pun disambut baik oleh guru dan (terutama) orangtua, buktinya semua orangtua bersedia menandatangani surat pernyataan untuk mengizinkan putra-putri mereka kembali belajar dan diajar oleh guru ke sekolah. Hal ini bisa kita maklumi, sebab pembelajaran daring atau luring yang berlangsung di pagi hari adalah waktu yang sama ketika orangtua disibukkan oleh rutinitas bekerja mencari nafkah untuk keperluan keluarga. Orangtua hanya punya waktu malam untuk bisa mendampingi putra-putri mereka, sedangkan di malam hari tidak ada pembelajaran daring atau luring dari guru.

Haruskah Guru Mengajar Pakai Masker?

Ketika kegiatan pembelajaran tatap muka berlangsung, maka seluruh guru dan peserta didik tetap menggunakan maskernya selama berada di dalam kelas sesuai protokol kesehatan. Pertanyaannya adalah, haruskah guru ketika ngajar tetap pakai masker? Sementara pembaca acara berita di televisi melepas maskernya ketika membacakan berita, dan ketika selesai sang pembawa acara pun kembali memakai maskernya.

Saat guru menyampaikan atau menjelaskan materi pelajaran di dalam kelas menggunakan masker, tentu saja suara guru terhalang oleh masker yang dipakainya sehingga berakibat pada kurangnya volume suara guru yang didengar oleh peserta didik. Jika guru diminta untuk menaikkan volume suaranya, tentu sang guru tidak akan mampu karena guru mengajar tidak hanya satu hari dan tidak pula satu kelas, melainkan satu minggu full (enam hari) dan banyak kelas serta peserta didik dibagi dalam dua sesi. Itu artinya, intensitas guru masuk kelas naik dua kali lipat dari biasanya. Tentu hal ini berdampak pada tenggorokan dan suara guru.

Oleh karena itu, izinkahlah guru melepas maskernya ketika ngajar dalam arti hanya saat menyampaikan atau menjelaskan materi kepada peserta didiknya di dalam kelas, sebagaimana halnya pembawa acara berita di televisi yang melepas maskernya ketika membacakan berita di depan kamera kepada seluruh pemirsa yang menyaksikan tayangan berita itu.

Barangkali ada yang bertanya, apa pentingnya guru melepas maskernya ketika ngajar di kelas? Perlu untuk diketahui bahwa mimik dan ekspresi wajah guru di depan peserta didiknya sangat diperlukan untuk kepentingan keberlangsungan pembelajaran tatap muka, dan ini berdampak pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Peserta didik pun bisa melihat mimik dan ekspresi wajah gurunya sehingga bisa dilihat dengan baik dan mendengar suara gurunya dengan jelas tanpa terhalang oleh masker.

Mimik dan ekspresi wajah adalah bagian dari bahasa tubuh (body language) yang berfungsi menjembatani apa yang sedang dirasakan seseorang meski tidak disampaikan secara langsung. Ini bisa mempermudah komunikasi dengan orang lain yang merupakan sinyal non-verbal yang digunakan manusia untuk berkomunikasi, termasuk di dalamnya adalah ekspresi wajah yang menunjukkan emosi apa yang sedang dirasakan. Dalam studi komunikasi non-verbal, bahasa tubuh seperti ekspresi wajah memiliki peran sampai 65 persen. Wallahu a’lam.**

*) Penulis, Guru MA Gerpemi Tebas dan SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!