Harusnya Menang 2 Game Langsung!

KANDAS : Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti kandas oleh pasangan India Satwiksairaj Rankireddy/Ashwini Ponnappa di China Open 2019.PBSI FOR JAWA POS

Praveen/Melati Kembali Tumbang

CHANGZHOU–Ada dua kabar sedih dari babak pertama China Open 2019 kemarin. Pertama, Jonatan Christie kalah. Namun ini tidak terlalu menyakitkan, karena dia takluk di tangan teman sendiri: Shesar Hiren Rhustavito. Cedera yang belum pulih benar membuat dia menyerah dalam pertandingan tiga game 21-23, 21-18, 10-21 di Olympic Sports Center, Changzhou, tadi malam.

Daripada Jojo, yang lebih menyakitkan adalah kekalahan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. Unggulan keenam itu kandas oleh pasangan India Satwiksairaj Rankireddy/Ashwini Ponnappa, 20-22, 21-17, 17-21. Mereka mengulang catatan buruk tahun lalu. Tahun lalu pun masih lebih oke, karena lawannya adalah Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taettanachai.

Pelatih ganda campuran pelatnas Richard Mainaky tak bisa menahan rasa kecewanya. ”Praveen/Melati seharusnya menang dua set langsung,” katanya gusar, ketika dihubungi kemarin. ”Ini isyarat bahwa mereka mengalami krisis kepercayaan diri. Ada keragu-raguan sehingga nggak tahan bermain dengan pola yang mereka terapkan. Padahal sempat unggul,” papar dia.

Richard benar. Pramel—sebutan pasangan itu—semestinya tidak perlu memainkan game ketiga.  Sebab, di game pertama mereka sempat unggul jauh 19-14. Pasangan India sempat menipiskan jarak hingga 19-18. Namun, Praven/Melati bisa lebih dulu mencapai game point. Eh, tetap saja tertikung. Masalah lama pun menghampiri. Mereka tidak tenang dalam setting point, sehingga bikin error melulu.

”Saat unggul di game pertama, mungkin kami buru-buru mau mematikan dan menyelesaikan game, malah jadi berantakan mainnya,” terang Melati dalam siaran pers PP PBSI. Dia dan Praveen mengakui, pertemuan pertama dengan Rankireddy/Ponnappa sangat menyulitkan mereka. Mereka gagal mengantisipasi pukulan-pukulan Rankireddy yang mengejutkan.

”Rankiredy punya pukulan yang halus. Tadi beberapa kali kami tidak bisa menebak arah pukulannya. Memang (arahnya) nggak kelihatan,” terang Melati. ”Kami baru sekali ini ketemu sama mereka. Sudah sempat lihat video pertandingan mereka sih,” lanjut dia.

Persoalan itu jelas menambah panjang daftar pekerjaan rumah yang harus dituntaskan tim pelatih. Selama hampir dua pekan Richard mencoba meredam ego Praveen maupun Melati agar mereka lebih solid. Namun, tampaknya faktor non-teknis itu masih sulit diatasi. Buktinya, ini kali kesekian mereka kalah oleh pasangan yang levelnya di bawah mereka.

Dalam Indonesia Open lalu, Pramel kalah di babak pertama oleh pasangan Jerman Mark Lamsfuss/Isabel Hettrich. Di babak ketiga kejuaraan dunia, giliran Robin Tabeling/Selena Piek (Belanda) yang menghajar mereka. Ditarik ke lima bulan lalu, di babak pertama Malaysia Open, mereka kalah oleh teman sendiri, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari.

”Kami berdua sudah sama-sama tahu kekuarangan kami di mana. Akan kami diskusikan bersama pelatih,” janji Praveen.

Namun, performa yang tidak kunjung membaik itu membuat Richard waswas. Minggu depan masih ada Korea Open. Praveen/Melati harus lebih serius menggeber persiapan mereka selama sisa waktu ini. ”Saya khawatir krisis kepercayaan diri mereka semakin bertambah,” tutur pelatih kelahiran Ternate, Maluku Utara itu.

Untung, masih ada kabar baik dari turnamen berhadiah total USD 1 juta (setara Rp 14 miliar) tersebut. Di ganda campuran, masih ada Rinov/Pitha yang melaju ke babak kedua. Mereka mengalahkan pasangan Malaysia Tan Kian Meng/Lai Pei Jing. Lalu ganda putra kesayangan Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Fajar Alfian/M. Rian Ardianto juga masih aman. (feb/na)

Read Previous

Jajal Medan Lurus dan Berbelok hingga Berbatuan

Read Next

Tindak Lanjuti Temuan Secara Tuntas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular