Heboh Makam Tua di Pinggir Jalan Kutilang

Makam tua di pinggir Jalan Kutilang. foto Shando Safela

PONTIANAK- Warga Kelurahan Tengah, Kecamatan Pontianak Kota, mendadak dihebohkan dengan keberadaan makam tua yang terletak persis di tepi antara parit Jalan Kutilang, Pontianak Kota.

Sepintas, memang tidak ada yang menyangka bahwa bangunan berbentuk kotak persegi panjang itu merupakan makam tua alias kuno yang diperkirakan usianya lebih dari 100 tahun.

Kondisinya tidak terawat. Sisi bagian selatan makam terdapat tumpukan sampah. Selain dinding pembatas antara jalan dan parit, tidak ada petanda lain kecuali nisan kayu yang kini mulai lapuk.

Menurut Sejarawan Pontianak, Syafaruddin Usman, makam tersebut merupakan makam sepasang suami istri. Yakni Sipan dan istrinya.

Nama Sipan sendiri, kata dia, merupakan orang yang pertama kali membuka Kampung Tengah yang saat ini menjadi Kelurahan Tengah, Kecamatan Pontianak Kota.

Nama Sipan juga dikenang sebagai nama jalan. Yakni Jalan Sipan yang saat ini berubah menjadi Jalan Kutilang.

Menurutnya, Nama Sipan sangat melegenda hingga hari ini, namun tak banyak mengetahui siapa sosok dibalik nama itu.

Pada saat pertumbuhan kota kolonial. Pontianak hanya terdiri dari beberapa kampung yang luasnya hanya 1000 meter.

Pada awal tahun 1890, berdatangan masyarakat dari tanah Jawa, terutama Magelang, Madiun dan beberapa daerah lain. Mereka di tempatkan di kampung Jawa atau Sumurbor, sekarang.

Tetapi, lanjut Syafaruddin, diantara pendatang Jawa tersebut, salah satunya pak Sipan dan istri tidak menetap di sana, tetapi berada di kawasan lain. Yang mana kawasan itu mereka namakan kawasan Kampung Tengah. Karena ada kampung darat dan kampung laut.

Pada masa itu, orang-orang atau masyarakat lebih mengenal dengan jalan Sipan. Terlebih pada saat pak Sipan wafat.

“Nama Sipan diabadikan menjadi nama jalan Sipan yang sekarang ini sudah berganti menjadi Jalan Kutilang. Sedangkan kampung tengah sendiri menjadi jalan Cindrawasih,” katanya.

Kemudian, kata Syafaruddin, pak Sipan dan istri yang tidak memiliki keturunan ini wafat dan dimakamkan dijalan setapak. Karena perkembangan jaman, seakan-akan makamnya berada di pusat kota. Tapi mirisnya, kata Dia, makam pak Sipan ini dipenuhi tumpukan sampah.

Ia berharap, ada orang tergerak hati menyempurnakan dan merawat makam tersebut. (arf)

error: Content is protected !!