Hentikan Misi Supaya Tak Kehabisan Oksigen

PLANET MERAH: Venzha Christ mengambil sampel tanah dalam simulasi operasi saintifik di permukaan planet mars di Mars Desert Research Station (MDRS) Utah, Amerika Serikat. FOTO-FOTO: MARS SOCIETY

Merasakan Simulasi Hidup di Planet Mars

Tahun 2018 dan 2019 Venzha Christ mendapatkan kesempatan langka mengikuti simulasi perjuangan hidup seolah sedang di angkasa luar. Salah satunya di tempat yang didesain serupa permukaan Planet Mars. Kecermatan perhitungan waktu menjadi sangat penting jika mau pulang dengan ”selamat”.

TAUFIQURRAHMAN, Jogjakarta

MESKI memiliki atmosfer dan daya gravitasi yang hampir sama dengan Bumi, hidup di Mars adalah soal waktu dan kecermatan. Sebab, kerapatan oksigen hanya tersedia 30 persen jika dibandingkan dengan Bumi. Kesalahan perhitungan bisa berakibat fatal.

Mars Desert Research Station (MDRS) memang tidak benar-benar berada di Mars. Tempat itu ada di gurun gersang Hanksville, Utah, Amerika Serikat. Stasiun yang dibangun pada 2001 oleh The Mars Society tersebut didesain sedemikian rupa untuk menyamai kondisi di planet merah. The Mars Society merupakan organisasi nonprofit di AS yang berdiri sejak 1998. Anggotanya para relawan berbagai negara. Mereka memiliki misi mengeksplorasi kemungkinan hidup di Mars.

MDRS terdiri atas enam bangunan. Bangunan utama disebut The Habitat atau Hab. Bentuknya tabung dengan kubah berukuran diameter 8 meter dengan dua lantai. Lantai 1 adalah ruang kerja dan kamar tidur, lalu lantai bawah tanah tempat dapur, peralatan, dan terowongan akses ke bangunan lain lewat bawah tanah, meliputi obeservatorium, kebun buatan (GreenHab), solar panel, serta pusat reparasi reparation and maintenance module (RAMM).

Dalam satu kali sesi simulasi, MDRS mampu menampung hingga 7 kru. Venzha Christ adalah satu-satunya orang Indonesia yang tergabung dalam kru nomor 191 yang khusus untuk tim Asia. Rekan lainnya berasal dari Jepang. Mereka mendapatkan giliran untuk melakukan riset saintifik simulasi dengan kondisi di Mars pada Mei 2018. Saat itu kru dibantu dua robot rover penjelajah Mars.

Mereka yang mengikuti simulasi tinggal selama sebulan di Hab. Pada hari ke-24, Venzha keluar dari Hab bersama tiga kru, termasuk Yusuka Murakami, crew commander. Tabung oksigen hanya bisa bertahan dua jam. Sebagaimana protokol, setiap kru yang akan melakukan operasi saintifik di luar Hab harus mengenakan pakaian astronot alias extravehicular (EVA) suit. ”Melepas dan memakai EVA suit itu ada protokolnya. Dan itu juga harus dilakukan satu per satu. Berurutan,” cerita Venzha kepada Jawa Pos di rumahnya, daerah Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron, Jogjakarta.

Begitu EVA suit terpakai, kru masuk ke ruang airlock yang disimulasikan sebagai transisi dari ruang Hab yang terkompresi ke alam bebas permukaan Mars. Setelah itu, masing-masing mengendarai all terrain vehicle (ATV) sejenis rover menuju lokasi yang ditentukan.

Lokasi yang dipilih Venzha adalah sebuah dataran luas sekitar 5 kilometer dari Hab. Sebab, alat cosmic ray receiver milik Venzha hanya bisa beroperasi di tanah datar yang tak boleh ada tanaman di sekitarnya.

Menurut perhitungan, jarak dan waktu tempuh mencukupi sesuai jumlah oksigen. Namun, saat sudah tiba di lokasi, alat cosmic receiver yang hendak dipasang ternyata terbelit kabel. ”Ada kesalahan teknis. Pokoknya alatnya mblibet. Jadi, butuh waktu untuk perbaikan. Kami akhirnya memutuskan menghentikan misi,” kata ketua komunitas penggiat astronomi v.u.f.o.c dan Indonesia Space Science Society (ISSS) itu.

Keputusan tersebut, kata Venzha, harus diambil secara cepat, tetapi dihitung dengan cermat. Jika memaksakan memperbaiki alat di lokasi, risikonya, oksigen tidak akan bertahan sampai di Hab. Akibatnya, semua kru akan tewas. ”Ya, memang masih di bumi. Tapi kalau di Mars bisa mati beneran,” tutur lulusan Institut Seni Indonesia (ISI), Jogjakarta, itu.

Simulasi di Mars juga sangat menuntut kecermatan dan kebijaksanaan kru dalam mengambil keputusan saat berhadapan dengan tekanan situasi hidup dan mati. Misalnya, pada hari ke-17, kru menemukan tiba-tiba suplai air yang masuk ke Hab berbau agak aneh. Setelah dicek, air tersebut mengalami kontaminasi. Tidak bisa diminum. Dalam kondisi riil, kontaminasi air tergolong insiden yang sangat berbahaya dan mengancam misi. Tanpa air, jangankan bertahan sebulan sampai tanggal penjemputan, beberapa hari saja tidak mungkin. Cadangan air pasti akan habis.

Komandan kru pun mengadakan voting. Semua skenario memiliki risiko kematian. Pilihan pertama: melanjutkan misi dengan mencoba mendekontaminasi tangki air. Kalau gagal dan cadangan air keburu habis, semua kru akan mati. Pilihan kedua: membatalkan misi, mempersiapkan shuttle dan menghidupkan roket untuk pulang, berharap bisa evakuasi sebelum cadangan air habis. Kalau tidak, sama saja semua kru akan mati kehausan.

Kru 191 terpecah. Tiga orang mendukung misi dibatalkan, sisanya mendukung misi dilanjutkan. Venzha yang menjadi suara penentu mendukung opsi misi dilanjutkan. ”Alasan saya sederhana saja waktu itu. Kalau dibatalkan, sia-sia saja dong. Apalagi menghidupkan roket, nyambungin kabel-kabelnya kan butuh beberapa hari,” jelasnya.

Dengan suara 4 lawan 3, kru 191 memutuskan untuk mencoba operasi dekontaminasi air. Tantangan luar biasa yang harus dilakukan adalah memindahkan tangki air berdiameter 2 meter tersebut menuju ke ruang RAMM. Jaraknya benar hanya 30 meter. Namun, harus dilakukan dengan EVA suit, menghemat oksigen, suhu minus hingga 5 derajat Celsius, dan kondisi kekurangan cairan.

”Paling susah adalah bolak-balik ke ruang reparasi. Di luar kita harus pakai EVA suit, masuk ke ruang reparasi harus lepas semuanya. Bongkar pasang, dan itu semua harus pakai protokol,” jelasnya.

Setelah empat hari bekerja keras keluar masuk ruang reparasi, ahli hidro kru 191 berhasil mendekontaminasi air di dalam tangki dan misi  bisa dilanjutkan hingga hari penjemputan.

Tidak berhenti sampai di situ, setahun setelahnya, Venzha kembali mengikuti simulasi kehidupan dunia di angkasa luar. Kali ini adalah simulasi bekerja berminggu-minggu dalam sebuah kapal angkasa luar (spacecraft). Simulasi dilakukan dalam lambung sebuah kapal pemecah es (icebreaker) bernama SHIRASE AGB-5002 pada Maret 2019, saat kapal spesialis penjelajah Antartika itu sedang bersandar. Programnya diberi nama yang sama, yakni Simulation of Human Isolation Research for Antartica-Based Space Engineering (SHIRASE).

Empat kru dikurung dalam sebuah ruang sempit dalam suhu 9 hingga 0 derajat Celsius selama sebulan. Mengerjakan berbagai tugas ilmiah maupun operasional. Mereka bekerja dengan empat pola jam yang berbeda. Keempatnya harus melindungi satu sama lain. ”Ini menyimulasikan kita hidup di sebuah kapal angkasa luar yang sempit, bertemu dengan orang yang sama selama setahun. Dengan tetap fokus pada misi masing-masing,” jelas pria kelahiran 21 Juli 1975 itu.

Venzha menuturkan, dirinya adalah sedikit dari orang lulus ujian simulasi Mars di Utah dan lambung SHIRASE. Dalam waktu dekat, MDRS akan kembali mengadakan ekspedisi serupa yang mengambil tempat di Antartika. ”Saya selamat dari tekanan mental. Mungkin karena orang-orang Indonesia itu lebih santai,” katanya, lalu tersenyum. (*/c10/ayi)

loading...